Ular merupakan salah satu hewan yang kerap membuat orang waspada, terlebih ketika berhadapan dengan jenis yang memiliki bisa. Sebetulnya, tidak semua ular memiliki bisa. Lalu apakah ada cara membedakan ular berbisa dan tidak berbisa?
Sejumlah ciri fisik memang dapat menjadi petunjuk awal. Namun, Ahli Toksinologi Indonesia, Dr Tri Maharani mengungkap bahwa peningkatan kewaspadaan yang paling baik adalah dengan menganggap semua ular itu berbisa. Hal ini untuk meminimalisir risiko gigitan ular dan memastikan penanganan pertama dilakukan dengan tepat.
Anggapan bahwa ular berbisa selalu memiliki ciri tertentu, seperti kepala berbentuk segitiga atau tubuh dengan warna mencolok, tidak selalu tepat. Pun dengan identifikasi ular sebaiknya tidak dilakukan dengan mendekati atau menyentuhnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagaimana Ciri-ciri Ular Berbisa?
Banyak orang mencoba mengidentifikasi apakah ular yang menggigit berbisa atau tidak sebelum mencari pertolongan. Dalam arsip liputan detikcom, Dokter Maha, begitu sapaannya, pernah mengungkap bahwa cara berpikir tersebut justru berbahaya.
Dokter Maha menyebut Indonesia memiliki ratusan spesies ular sehingga hampir mustahil masyarakat awam dapat mengenali semuanya. Setiap jenis ular berbisa pun memiliki venom effect yang berbeda-beda.
Pakar Toksinologi, Dr Tri Maharani Foto: Femi Diah/detikcom |
"Indonesia punya sekitar 300 jenis ular yang tidak berbisa dan sekitar 80 jenis ular berbisa. Kita tidak mungkin mempelajarinya satu per satu," kata dia.
Karena itu, dia menyarankan setiap kasus gigitan ular diperlakukan sebagai kondisi darurat.
"Anggap saja semua ular berbisa. Yang paling penting adalah segera melakukan pertolongan pertama dan menuju fasilitas kesehatan," katanya.
Meski begitu, dalam buku Ensiklopedia Hewan Ovipar oleh M Sumarto, dijelaskan ular berbisa biasanya memiliki gigi taring kecil, bentuk kepala segitiga, mata cenderung lonjong.
Begitu juga pada bagian ekor dan warnanya bisa jadi pembeda. Ular berbisa punya ekor yang cerah saat masih muda misalnya ular cottonmouth. Sementara warna ekor ular tidak berbisa umumnya seragam dengan kulit.
Ahli Reptil dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Ganjar Cahyadi juga mengungkap ada sejumlah ciri mencolok yang umumnya ditemukan pada ular berbisa. Ia menjelaskan, ular yang berbisa dapat dikelompokkan pada dua famili yaitu Elapidae dan Viperidae.
Ular yang termasuk Elapidae contohnya adalah Naja sputatrix (kobra jawa), Bungarus candidus (ular weling), dan Calliophis intestinalis (ular cabe). Sementara untuk kelompok viperidae, cirinya adalah bagian kepala berbentuk seperti segitiga dan kemampuan mimikri atau mengubah warna kulit sesuai lingkungan.
Ular weling (Bungarus candidus) Foto: Wibowo Djatmiko (Wie146)/Wikimedia Commons/Lisensi CC BY-SA 3.0 |
"Ular berbisa memiliki taring yang mengeluarkan bisa. Selain itu dari perilakunya juga dapat terlihat kalau ular berbisa lebih santai dalam bergerak, tapi kalau didekati akan melakukan upaya perlindungan diri atau menyerang. Sementara ular tidak berbisa, tidak memiliki taring dan bila didekati akan kabur," ujarnya, dikutip dari laman ITB.
Kebanyakan ular berbisa juga memiliki warna yang mencolok, seperti ular cabai yang mempunyai garis warna merah di tubuhnya, atau ular weling dengan pola belang hitam putih.
Meski begitu, ada pula ular kobra yang tubuhnya hanya berwarna hitam, namun legam. Ular kobra juga punya respon tubuh yang mencolok yakni menaikkan tubuh dan mengembangkan rusuk saat merasa terancam. Bisa ular kobra bahkan dapat meracuni lawannya tanpa gigitan, yakni melalui racun yang disemprotkan langsung ke mata.
Sehingga saat berhadapan dengan ular, hal terbaik yang dapat dilakukan adalah tidak mencoba menangkap, memukul, atau mendekati ular yang ditemui selama perjalanan. Sebab, sebagian besar ular menggigit atau melakukan serangan karena merasa terancam.
Langkah paling aman adalah menjaga jarak dan memberi ruang agar satwa tersebut pergi dengan sendirinya. Kemudian segera panggil petugas yang lebih ahli untuk segera menanganinya.
Mengenali Ciri Khas Gigitan Ular Berbisa
Dalam arsip detikcom, dr Wisnu Pramudito D Pusponegoro dari Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia (PDEI) mengatakan, saat menggigit biasanya ular berbisa akan menghasilkan luka dengan dua atau satu titik karena menggunakan taringnya seperti jarum suntik untuk menghantarkan bisa.
Sementara itu pada ular yang tidak berbisa, luka yang dihasilkan berupa sobek atau terkoyak karena menggunakan banyak giginya untuk mencengkeram mangsa.
Berdasarkan Studi A Retrospective Cohort Study of Cobra Envenomation: Clinical Characteristics, Treatments, and Outcomes, jika tergigit dan taring ular menembus kulit, racun langsung disuntik ke jaringan di bawah kulit dan masuk ke pembuluh darah.
Dalam waktu singkat, efek lokal muncul (nyeri, pembengkakan) dan gejala sistemik dapat timbul dalam jam setelah gigitan, tergantung jenis kobra dan dosis racun. Dalam studi di Thailand (1045 pasien gigitan kobra), gejala neurologis muncul rata-rata dalam interval 1 jam (10 menit hingga 24 jam).
Di lain sisi, Youtuber reptil, Panji Petualang mengungkap bahwa ular berbisa tidak bisa dibedakan dari fisiknya saja. Menurutnya, ada banyak jenis ular dengan ciri yang disebut tidak berbisa, padahal berbisa.
Menurut Panji, cara paling tepat untuk membedakan ular berbisa ataupun tidak ialah dengan mengetahui setiap jenis ular, terutama yang ada di Indonesia dan kerap ditemukan di sekitaran pemukiman.
"Ya cara paling benar, ketahui jenis ular. Mana ular yang tidak berbisa dan berbisa. Termasuk mana yang berbisa tidak berbahaya, yang bisanya sedang, hingga bisa mematikan. Informasi di internet banyak, termasuk di konten saya pun sering kali menjelaskan mana saja ular yang berbahaya," tuturnya, dikutip dari detikJabar.
Panji menyebut jika informasi salah tersebut dibiarkan tanpa diluruskan, maka akan berbahaya bagi masyarakat. Yang paling fatal tentunya warga kehilangan nyawa gegara salah akibat kurangnya pengetahuan dan salah dalam penanganan.
"Dikhawatirkan masyarakat begitu saja tangkap ular tanpa alat bantu, karena mengira ularnya tidak berbahaya berdasarkan informasi ciri-ciri yang salah, sehingga ditangkap pakai tangan kosong padahal ularnya itu beracun. Risikonya tentu bisa berujung kematian jika tidak segera ditangani secara medis," tuturnya.


