21.369 Hotspot Tercatat di Kobar, Karhutla Diprediksi Masih Lanjut November

Kalimantan Tengah

21.369 Hotspot Tercatat di Kobar, Karhutla Diprediksi Masih Lanjut November

Sigit Pamungkas - detikKalimantan
Jumat, 09 Okt 2026 10:58 WIB
Karhutla di Kotawaringin Barat.
Karhutla di Kotawaringin Barat. Foto: Dok. BPBD Kotawaringin Barat
Kotawaringin Barat -

Hingga 8 Oktober 2026, tercatat ada sebanyak 21.369 titik panas atau hotspot di Kotawaringin Barat (Kobar). Total luasan lahan terbakar mencapai 2.798,33 hektare.

Situasi kian mengkhawatirkan karena kebakaran diperkirakan masih berlanjut hingga November mendatang. Di tengah upaya pemadaman yang terus dilakukan, api berulang kali muncul di kawasan gambut tebal yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Bupati Kobar Nurhidayah selaku Komandan Satgas Karhutla mengungkapkan, pemerintah daerah telah empat kali memperpanjang status tanggap darurat karhutla. Namun, langkah tersebut belum membuat kebakaran sepenuhnya terkendali.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejumlah wilayah yang masih menjadi perhatian utama antara lain Kecamatan Arut Selatan, Kumai, dan Kotawaringin Lama. Salah satu titik yang membutuhkan penanganan intensif berada di sepanjang ruas Jalan Pangkalan Bun-Kotawaringin Lama, terutama pada kilometer 8 hingga kilometer 29. Tim gabungan bersama relawan masih berjibaku memadamkan api yang terus muncul di kawasan tersebut.

"Puncak karhutla di Kobar dimulai sejak Juli, Agustus hingga sekarang. Saat ini jumlah hotspot mencapai 21.369, dengan rata-rata 200 sampai 300 titik api muncul setiap hari. Ini terbaru di KM 8-10 Jalan Kotwaringin Lama juga teebakar hebat, makanya pagi ini asap pekat menyelimuti dalam kota Pangkalan Bun," kata Nurhidayah, Jumat (9/10/2026).

Persoalan utamanya bukan sekadar luasnya area terbakar, melainkan karakteristik lahan yang menyulitkan proses pemadaman. Sebagian titik api berada di kawasan gambut tebal dan jauh dari akses jalan, sehingga armada pemadam tidak bisa menjangkau lokasi secara optimal.

Nurhidayah mengatakan api dapat kembali muncul sehari setelah dilakukan pemadaman. Kondisi itu membuat upaya penanganan membutuhkan dukungan tambahan, terutama untuk menjangkau titik kebakaran yang berada jauh di dalam kawasan hutan dan lahan.

"Khusus di Km 8 sampai Km 29 Jalan Kotawaringin Lama merupakan wilayah gambut tebal. Setelah dipadamkan, keesokan harinya api kembali muncul. Karena lokasinya berada di dalam, armada sulit menjangkau titik api. Jalan satu-satunya harus dibantu water bombing," ujarnya.

Pemadaman dari udara melalui metode water bombing dinilai menjadi salah satu kebutuhan penting untuk mempercepat penanganan kebakaran di lokasi yang sulit dijangkau personel darat.

Pemerintah daerah berharap koordinasi dan kerja sama seluruh unsur terus diperkuat agar upaya pemadaman berjalan lebih efektif. Dukungan dari udara juga diharapkan mampu menekan penyebaran api, khususnya di kawasan gambut yang selama ini menjadi salah satu titik tersulit dalam penanganan karhutla.

"Dengan ancaman kebakaran yang diperkirakan bertahan hingga November, percepatan pemadaman dan penguatan sinergi menjadi pekerjaan mendesak agar luasan lahan terbakar tidak terus bertambah dan dampak karhutla terhadap masyarakat dapat ditekan," pungkasnya.



(des/des)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads