Di tengah Kota Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, berdiri monumen pesawat yang punya cerita perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Monumen yang dikenal sebagai Monumen Palagan Sambi itu berada di kawasan Bundaran Pancasila.
Monumen berbentuk pesawat C-47 Dakota RI-002 yang dulu beroperasi pada 17 Oktober 1947. Ketika itu pasukan Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) melakukan penerjunan militer pertama di Indonesia.
Peristiwa penting ini berlangsung saat usia Republik Indonesia belum genap tiga tahun. Kemerdekaan memang sudah diproklamasikan pada 1945, tetapi perjuangan untuk mempertahankannya masih terus berlangsung. Di sinilah kisah penerjunan di Sambi bermula.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Awal Mula dari Ancaman Belanda
Ketika itu Gubernur Kalimantan Mohammad Noor meminta bantuan AURI yang dipimpin Komodor Udara Suryadarma untuk mengirimkan pasukan ke Kalimantan. Misi ini memiliki tujuan khusus, yaitu untuk membantu perjuangan rakyat Kalimantan, membangun kekuatan gerilya, dan membuka jalur komunikasi radio antara pusat pemerintahan Republik dan Kalimantan.
Kondisi saat itu tidak mudah karena jalur laut dan sungai diawasi ketat oleh Belanda, sehingga sulit untuk ditembus. Karena itulah dipilih jalur udara untuk melakukan infiltrasi di Kalimantan.
Di tahun 1947 Suryadarma mengambil inisiatif mengirim 13 orang ke Kalimantan. Dalam rombongan tersebut terdapat teknisi radio AURI dan putra-putra Kalimantan yang akan menjalankan misi di lapangan. Adapun satu orang lainnya, Jamhani, tidak ikut melompat dari pesawat. Pasukan tersebut dipimpin Iskandar, sementara Mayor Tjilik Riwut bertugas sebagai penunjuk daerah penerjunan.
Penerjunan dari Dakota RI-002
Misi dilakukan secara rahasia. Para prajurit diterbangkan dari Lapangan Terbang Maguwo, Yogyakarta, menuju Kalimantan menggunakan pesawat C-47 Dakota RI-002.
Pesawat dipiloti Robert Earl Freeberg atau Bob Freeberg, sukarelawan berkebangsaan Amerika Serikat. Dalam operasi itu turut terlibat Opsir Udara III Makmur Suhodo sebagai kopilot dan Amir Hamzah sebagai jump master. Tjilik Riwut bertugas membantu menentukan daerah penerjunan.
Tujuan awal mereka sebenarnya bukan Sambi, melainkan di Lapangan Sepanbiha, Rantau Pulut. Penerbangan saat itu dilakukan pada dini hari ketika kondisi masih gelap, sementara dari udara, tanda-tanda lokasi yang menjadi target sulit terlihat.
Pesawat Dakota RI-002 akhirnya membawa para prajurit ke sekitar Kampung Sambi, yang sekarang berada di Kecamatan Arut Utara, Kabupaten Kotawaringin Barat. Para prajurit pada akhirnya berhasil mendarat dan berusaha mengumpulkan kembali perlengkapan yang dibawa.
35 Hari Bertahan di Belantara Kalimantan
Setelah mendarat, para prajurit harus bertahan di tengah hutan Kalimantan. Mereka sempat terpencar sebelum kembali berkumpul beberapa hari kemudian. Selama sekitar 35 hari mereka bertahan dan bergerak di tengah rimba, sampai akhirnya keberadaan mereka diketahui oleh pasukan Belanda.
Kontak senjata pun tidak dapat dihindari. Dalam pertempuran tersebut, tiga penerjun, yakni Iskandar, Achmad Kosasih, dan Hari Hadisoemantri, gugur. Sebagian pasukan lainnya berusaha menyelamatkan diri, sementara FM Soejoto atau Suyoto menjadi tawanan. Nama Iskandar yang merupakan komandan pasukan dalam misi itu diabadikan menjadi nama Pangkalan TNI AU Iskandar di Pangkalan Bun.
Lahirnya Pasukan TNI AU
Tanggal 17 Oktober kemudian diperingati sebagai hari lahir Komando Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat) TNI AU yang sebelumnya dikenal dengan nama Korps Pasukan Khas (Korpaskhas).
Dalam laman resmi TNI AU menyebut penerjunan 17 Oktober 1947 ditetapkan sebagai hari lahir PGT/Kopasgat yang diperingati setiap tahun oleh keluarga besar Angkatan Udara. TNI AU juga menjelaskan bahwa secara kelembagaan pasukan ini mengalami beberapa perubahan, dimulai dari Pasukan Payung, kemudian PGT, Koppau, Kopasgat, Puspaskhasau, Korpaskhasau, dan kembali menjadi Kopasgat pada 2022.
Monumen Wisata Sejarah di Pangkalan Bun
Relief di belakang Monumen Palagan Sambi. Foto: dok MMC Kotawaringin Barat |
Puluhan tahun setelah peristiwa bersejarah itu, kisah penerjunan di Sambi diabadikan melalui Monumen Palagan Sambi. Monumen ini berada di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, tepatnya di kawasan Bundaran Pancasila dan bersebelahan dengan Pangkalan Bun Park.
Pesawat C-47 Dakota RI-002 menjadi ikon kota karena merupakan pesawat yang digunakan dalam operasi penerjunan pada 17 Oktober 1947. Selain pesawat, di belakang monumen juga dilengkapi prasasti perjuangan dan relief yang menggambarkan perjuangan pasukan AURI melawan Belanda.
Monumen Palagan Sambi diresmikan pada 17 Oktober 1995 oleh Kepala Staf TNI AU Marsekal TNI Rilo Pambudi. Tanggal peresmian tersebut sengaja bertepatan dengan peringatan peristiwa penerjunan yang terjadi pada 17 Oktober 1947.
Letaknya yang berada di kawasan Bundaran Pancasila membuat monumen relatif mudah dijangkau. Jika berkunjung ke Pangkalan Bun, jangan lupa untuk berwisata sejarah ke monumen ini , ya, detikers!

