4 Kali Dibangun Selalu Hanyut, Jembatan Long Semamu Dinilai Buang Uang Negara

Kalimantan Utara

4 Kali Dibangun Selalu Hanyut, Jembatan Long Semamu Dinilai Buang Uang Negara

Oktavian Balang - detikKalimantan
Senin, 28 Sep 2026 18:30 WIB
Kerangka besi jembatan bailey yang sempat terseret banjir dan kini tenggelam di dasar Sungai Semamu.
Kerangka besi jembatan bailey yang sempat terseret banjir dan kini tenggelam di Sungai Semamu. Foto: Oktavian Balang/detikKalimantan
Malinau -

Proyek infrastruktur Jembatan Long Semamu di Kecamatan Mentarang Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara (Kaltara), menuai kritik. Jembatan penghubung lintas kabupaten ini tercatat sudah empat kali dibangun, namun selalu berakhir hancur disapu arus sungai.

Kegagalan konstruksi yang berulang ini dinilai warga sebagai bentuk pemborosan uang negara yang nyata. Pasalnya, bangunan jembatan yang didirikan terakhir kalinya bahkan hanya mampu bertahan seumur jagung, yakni sekitar enam bulan, sebelum akhirnya kembali ambruk.

Jefri Nonmen, warga Desa Long Semamu, menduga hancurnya proyek jalan nasional ini akibat kelalaian pihak pelaksana. Proyek itu dinilai mengabaikan karakteristik alam daerah setempat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Secara teknis, fondasi jembatan didesain terlalu rendah, yakni hanya berjarak sekitar empat meter dari dasar sungai. Akibatnya, saat debit air sungai meningkat drastis akibat curah hujan tinggi, fondasi jembatan tersebut dengan mudah terkikis hingga bangunan utama terbawa arus bandang," ucapnya saat ditemui detikKalimantan di Desa Long Semamu, Senin (28/9/2026).

Kesaksian serupa juga disampaikan oleh Aboy Jikson, salah satu warga Long Semamu. Ia mengonfirmasi bahwa rentetan pembangunan jembatan sudah dilakukan empat kali di titik yang sama dan kini menyisakan tumpukan kerangka besi di dasar sungai.

"Dipakai, digunakan hanya sekitar enam bulan, hanyut. Itu ketinggian dari dasar sungai itu sekitar 4 meter. Di dalam air tuh masih ada bangkainya," ungkap Aboy Jikson.

Hancurnya infrastruktur bernilai miliaran rupiah tersebut tidak hanya menyisakan puing, tetapi juga melumpuhkan urat nadi ekonomi perbatasan. Jalur logistik darat utama yang menghubungkan Kabupaten Malinau dan Kecamatan Krayan (Nunukan) otomatis terputus total.

"Akibatnya, para sopir penyuplai sembako harus rela tertahan hingga dua minggu menunggu debit air surut untuk bisa menyeberang sungai. Sementara itu, pengendara roda dua terpaksa merogoh kocek Rp 100.000 untuk menyewa jasa perahu ketinting agar bisa melanjutkan perjalanan," bebernya.

Kepala Desa Long Semamu, Pangeran Martinus, menyoroti tajam sikap para pelaksana proyek tersebut. Ia menyebut pihak pemegang kendali kegiatan bersikap sepihak dan sama sekali tidak pernah melibatkan aparat desa dalam perencanaannya.

"Belum pernah (duduk bareng). Jadi mereka mengerjakan kegiatan itu belum pernah konsultasi dengan masyarakat setempat," tegas Pangeran Martinus.

Menurut Pangeran, masyarakat adat dan warga lokal jauh lebih memahami pola pasang surut serta arus Sungai Semamu saat cuaca ekstrem. Sayangnya, kearifan lokal yang penting untuk menentukan tinggi aman jembatan ini diduga diabaikan oleh para pekerja proyek.

"Mengenai Jembatan Bailey yang dibangun pemerintah di Desa Long Semamu, itu mungkin kesalahan teknis ya, yaitu mengenai pondasi. Pondasinya tidak sesuai dengan maksimal sehingga pondasi terkikis," beber Pangeran.

Sementara itu, saat dikonfirmasi detikKalimantan, Kepala Seksi Pembangunan Jalan dan Jembatan BPJN Kaltara Dani Wiranto belum bersedia merinci alasan di balik hancurnya proyek jembatan tersebut hingga empat kali berturut-turut. Dani meminta waktu dan berjanji akan memberikan keterangan sekembalinya dari perjalanan dinas luar kota.

"Boleh, menunggu saya balik dari Jakarta ya," jawab Dani singkat.

Halaman 2 dari 2
(des/des)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads