Upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah masih dibayangi tebalnya kabut asap. Kondisi ini bahkan menghambat operasi pemadaman melalui udara karena jarak pandang belum memenuhi standar keselamatan penerbangan.
Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah Agustan Saining mengatakan pesawat water bombing yang telah disiagakan belum bisa bekerja secara maksimal akibat jarak pandang yang terbatas.
Menurutnya, operasi penerbangan untuk pemadaman membutuhkan jarak pandang minimal sekitar 5 kilometer. Sementara kondisi terkini di sejumlah wilayah Kalteng rata-rata hanya berada pada kisaran 3-4 kilometer.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk berangkat atau naik pesawat itu harus memenuhi kelayakan, salah satunya jarak pandang sekitar lima kilometer. Sementara kita rata-rata masih tiga sampai empat kilometer," ujar Agustan, Sabtu (26/9/2026).
Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap intensitas water bombing. Pada awal penanganan karhutla, satu pesawat bahkan mampu melakukan hingga 60 kali penyiraman dalam sehari.
"Namun, tebalnya asap membuat frekuensi penerbangan dan penyiraman dari udara kini menurun cukup drastis," katanya.
Meski demikian, pemadaman udara tetap diupayakan melalui koordinasi lintas wilayah. Pesawat dapat diberangkatkan dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan, yang saat ini memiliki jarak pandang sekitar 8-9 kilometer.
Dari Banjarmasin, operasi udara kemudian diarahkan menuju wilayah yang menjadi titik prioritas, terutama Kabupaten Kapuas dan Pulang Pisau yang masih menghadapi kondisi karhutla cukup parah.
Agustan menjelaskan tebalnya asap yang menyelimuti sejumlah daerah Kalteng saat ini tidak selalu berarti munculnya kebakaran baru dalam jumlah besar. Berdasarkan data BMKG, angin dari arah selatan membawa asap dari wilayah Pulang Pisau dan Kapuas. Asap tersebut kemudian menumpuk hingga Palangka Raya, Gunung Mas, bahkan mencapai Murung Raya yang relatif jarang terdampak karhutla.
"Di atas sudah habis terbakar, tetapi di bawah masih ada bara. Bara inilah yang kemudian mengeluarkan asap," jelasnya.
Kondisi tersebut semakin sulit ditangani karena karakteristik lahan gambut. Api yang terlihat di permukaan bisa saja telah padam, tetapi bara di dalam lapisan gambut masih bertahan dan terus menghasilkan asap.
"Pemerintah pun masih mengandalkan pemadaman dari darat sembari menunggu kondisi cuaca dan jarak pandang membaik. Jika jarak pandang kembali memenuhi standar keselamatan, operasi water bombing diharapkan dapat kembali dilakukan secara lebih optimal," pungkasnya.
