Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) saat ini menjadi salah satu cara yang dilakukan untuk mengurangi karhutla di sejumlah wilayah di Indonesia. Teknologi ini dilakukan dengan memanfaatkan proses pembentukan hujan secara alami di atmosfer.
Salah satu upaya yang sedang dilakukan pemerintah saat ini untuk mengurangi titik api di wilayah terdampak karhutla adalah dengan melakukan OMC. Berdasarkan laporan OMC BMKG, kegiatan OMC untuk pembasahan gambut dan penanganan karhutla sudah berlangsung beberapa kali di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur sepanjang 2026.
Memasuki September 2026, penanganan karhutla di Kalimantan semakin menjadi perhatian pemerintah, khususnya di wilayah Kalimantan Tengah. Berdasarkan laporan BNPB pada 1 September 2026, OMC di Kalimantan Tengah dilaksanakan melalui satu kali penerbangan di wilayah selatan Kotawaringin Timur dengan menebarkan 800 kilogram garam. Sementara di Kalimantan Barat, OMC dilakukan dalam dua kali penerbangan menggunakan satu pesawat dengan total 1.600 kilogram garam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa Itu OMC?
OMC merupakan upaya yang dilakukan untuk memengaruhi proses fisika di atmosfer guna mencapai tujuan tertentu. OMC bisa dilakukan untuk menambah curah hujan di wilayah yang membutuhkan air atau mengurangi intensitas hujan di daerah yang berisiko mengalami banjir. Jadi, bukan hanya dilakukan untuk membuat hujan saja.
BMKG menyampaikan OMC bukan upaya untuk menghilangkan atau membuat hujan secara instan. Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, menjelaskan bahwa teknologi satu ini bekerja pada awan yang telah terbentuk secara alami.
"Modifikasi cuaca tidak membentuk hujan dari nol. Awan dan hujan sudah ada secara alami. Kami hanya memengaruhi proses fisis di dalam awan agar hujan turun lebih cepat atau intensitasnya tidak terlalu besar," ujar Budi, dikutip laman BMKG.
Artinya, OMC tidak bisa dilakukan apabila tidak terdapat awan di daerah sasaran. Keberhasilan operasi juga tergantung pada kondisi atmosfer, jenis awan, arah angin, waktu, dan lokasi penyemaian.
Bagaimana Cara Kerja OMC?
Sederhananya, OMC dilakukan melalui teknik cloud seeding. Dalam teknik ini bahan semai disebarkan ke dalam awan yang memiliki potensi menghasilkan hujan. Bahan semai itu nantinya yang membantu memengaruhi proses pembentukan dan pertumbuhan butir air di dalam awan.
BMKG menggunakan bahan semai natrium klorida (NaCl) atau garam yang dapat membantu proses penggabungan uap air dan butiran air sehingga pembentukan hujan bisa dipercepat pada kondisi awan yang sesuai.
Tetapi, penyemaian awan bukan berarti menyebarkan garam ke udara. Tim OMC harus menentukan dulu awan yang akan disemai berdasarkan pengamatan atmosfer dan hasil pemodelan cuaca. Sejumlah instrumen yang dipantau selama OMC di antaranya:
- Radar cuaca untuk memantau struktur dan perkembangan awan hujan
- Satelit cuaca untuk mengamati kondisi awan dalam cakupan wilayah yang luas
- Radiosonde atau balon cuaca untuk mengukur kondisi atmosfer pada berbagai ketinggian
- Data arah dan kecepatan angin untuk memperkirakan pergerakan awan dan menentukan lokasi penyemaian
Data tadi digunakan untuk memperkirakan arah pergerakan awan supaya hujan dapat diarahkan turun lebih awal di wilayah yang dianggap lebih aman, misalnya di atas perairan. Setelah itu, awan hujan bergerak menuju daratan yang ingin dituju.
Dua Metode OMC yang Digunakan BMKG
Setidaknya BMKG menggunakan dua metode jumping process dan competition method. Penerapannya disesuaikan dengan kondisi awan, fase pertumbuhannya, serta tujuan operasi.
1. Jumping Process
Jumping process penyemaian yang dilakukan memanfaatkan awan yang sedang tumbuh dan berpotensi berkembang menjadi awan hujan. Penyemaian ditujukan untuk mempercepat proses turunnya hujan sebelum awan bergerak.
Contohnya ketika awan hujan diperkirakan bergerak dari laut menuju daratan yang rawan banjir, tim dapat melakukan penyemaian di wilayah yang lebih awal dilalui awan. Tujuannya adalah mengurangi jumlah air yang masih terbawa awan saat mencapai daratan.
2. Competition Method
Competition method prinsipnya bahan semai ditambahkan untuk memengaruhi distribusi partikel dan air di dalam awan sehingga proses pertumbuhan butir air dapat diarahkan sesuai tujuan operasi. Metodenya juga tidak selalu sama untuk setiap operasi. Tim perlu memilih strategi berdasarkan fase pertumbuhan awan, karakteristik atmosfer, dan target wilayah yang telah ditentukan.
OMC Dilakukan Saat Atmosfer Tidak Stabil
Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, Prof. Yonny Koesmaryono, menjelaskan bahwa kondisi atmosfer yang tidak stabil justru menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan modifikasi cuaca. Menurut Yonny, atmosfer yang tidak stabil mendukung proses penguapan dan pertumbuhan awan yang lebih aktif. Sebaliknya, pada atmosfer yang stabil, awan cenderung tidak berkembang sehingga intervensi modifikasi cuaca menjadi kurang efektif.
Sebelum operasi dilaksanakan, tim perlu mengukur kondisi atmosfer menggunakan berbagai instrumen, termasuk balon cuaca. Informasi itu nantinya digunakan untuk menentukan apakah awan memiliki potensi yang memadai untuk disemai.
Dikutip laman IPB, Yonny juga menjelaskan modifikasi cuaca tidak ditujukan untuk menciptakan hujan dari kondisi yang tidak memiliki potensi awan. Teknologi tersebut bekerja dengan memanfaatkan awan yang sudah ada dan mengintervensi proses fisika di dalamnya.
OMC Karhutla di Kalimantan
Berdasarkan data dari BMKG per 18 September 2026, OMC telah dilakukan di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur untuk membantu penanganan karhutla. Operasi dilakukan dengan menyebarkan bahan semai ke awan yang berpotensi menghasilkan hujan.
Di Kalimantan Barat, OMC untuk penanganan karhutla berlangsung di wilayah Pontianak pada 22 Agustus hingga 20 September 2026. Selama periode tersebut, tercatat 27 hari terbang dengan 63 sorti dan penggunaan bahan semai sebanyak 56,4 ton. Operasi juga menghasilkan estimasi volume hujan sebesar 130,9 juta meter kubik.
Sementara itu di Kalimantan Tengah, OMC dilaksanakan di Palangka Raya pada 26 Agustus hingga 19 September 2026. Tercatat 18 hari terbang dan 31 sorti dengan total bahan semai 26,8 ton. Volume hujan yang dihasilkan dalam operasi juga diperkirakan mencapai 22,93 juta meter kubik.
OMC juga dilakukan di Kalimantan Selatan, tepatnya di Banjarbaru, pada 5-13 September 2026. Operasi yang berlangsung selama 4 hari terbang dengan 7 sorti dan menggunakan sekitar 7 ton bahan semai itu berpotensi menghasilkan volume hujan mencapai 7,89 juta meter kubik.
Di Kalimantan Timur, ada dua kegiatan OMC dengan tujuan berbeda. Untuk pengisian waduk di kawasan IKN, OMC dilakukan pada 22-25 Agustus 2026, dengan 4 hari terbang dan 6 sorti serta penggunaan 4,8 ton bahan semai. Namun, volume hujan yang tercatat relatif kecil, hanya sekitar 0,04 juta meter kubik.
Selain itu, OMC kembali dilakukan di Samarinda pada 15-19 September 2026 untuk penanganan karhutla. Dalam operasi ini tercatat 4 hari terbang dan 8 sorti dengan penggunaan bahan semai sebanyak 8 ton. Estimasi volume hujan yang dihasilkan mencapai 73,97 juta meter kubik.
Dengan demikian, OMC bisa kita artikan sebagai salah satu upaya untuk mengoptimalkan potensi hujan yang sudah terbentuk secara alami di atmosfer. Keberhasilannya sangat bergantung pada kondisi awan dan atmosfer sehingga tidak dapat dilakukan setiap saat atau menjamin hujan turun di lokasi yang ditargetkan.
