Kabut asap masih menyelimuti sejumlah wilayah di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah. Meski udara dipenuhi asap dan jarak pandang di sejumlah titik terganggu, aktivitas warga tetap berjalan.
Sejak pagi hingga siang hari, kendaraan terlihat lalu lalang di jalan raya Pangkalan Bun. Warga tetap berangkat bekerja, para pedagang tetap menjajakan dagangannya, sementara para pengemudi ojek online tetap mengantarkan pesanan.
Mereka masih tetap berusaha menyambung hidup di tengah situasi bencana. Bagi warga setempat, tak banyak pilihan. Kebutuhan rumah tangga tetap harus dipenuhi, sehingga mereka harus tetap bekerja dan keluar rumah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti yang dilakukan Anang, penjual bakso keliling di Pangkalan Bun. Ia menjadi salah satu warga yang tetap berjualan di tengah kabut asap. Anang mendorong gerobak, menyusuri jalanan Pangkalan Bun, sambil menghirup udara yang kondisinya masih belum sehat.
"Namanya kebutuhan hidup, kami tetap harus bekerja. Kalau tidak jualan, dari mana untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari," kata Anang, Jumat (25/9/2026).
Menurut Anang, dalam situasi apapun, jika ia berhenti berjualan maka tidak ada pemasukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena itu, selama kondisi masih memungkinkan, ia memilih tetap keluar mencari pembeli bakso dagangannya.
Kondisi serupa juga dirasakan Andik, pengemudi ojek online di Pangkalan Bun. Setiap menerima pesanan, ia harus kembali turun ke jalan dan mengendarai sepeda motor di tengah kabut asap.
Sebagai pengemudi ojek online, penghasilan Andik bergantung pada jumlah pesanan yang ia selesaikan. Artinya, semakin lama berada di rumah, semakin kecil pula peluang mendapatkan penghasilan.
"Kalau bertahan di rumah bagiamana saya menghidupi keluarga? Kalau ada yang bilang warga Kalimantan hidup normal saat kabut asap, ya memang benar. Tapi normalnya karena terpaksa demi ekonomi, meski saat kabut asap penumpang menurun drastis," ujar Andik.
"Paling tidak uang bersih masih kita dapat Rp 50-100 ribu buat keluarga di rumah," sambungnya.
Andik mengatakan tetap bekerja bukan berarti dirinya menganggap kondisi kabut asap sudah aman. Ia hanya berusaha menjalankan tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan hidup.
"Bukan berarti kami menganggap ini normal atau aman. Kami tetap keluar karena harus bekerja. Kebutuhan hidup tetap jalan," ujar Andik.
Kisah Anang dan Andik memperlihatkan bahwa aktivitas warga di tengah kabut asap tidak selalu berarti kehidupan telah kembali normal. Di balik warga yang tetap berada di jalan, ada kebutuhan hidup yang memaksa mereka terus bergerak meski bencana belum sepenuhnya berakhir.
