Penanganan karhutla di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), diperkuat dengan pengerahan helikopter water bombing, Selasa (22/9/2026).
Helikopter tersebut dikerahkan untuk menjangkau titik-titik api yang berada di kawasan hutan dan sulit ditangani melalui jalur darat. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kobar, Samuel, mengatakan pengerahan helikopter itu berdasarkan laporan dari Satuan Tugas Udara (Satgasud) Lanud Iskandar.
"Berdasarkan laporan dari Satgasud Lanud Iskandar, helikopter water bombing sudah diturunkan untuk melakukan penanganan karhutla di wilayah Taman Nasional Tanjung Puting," ujar Samuel, Selasa (22/9/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Helikopter yang digunakan merupakan jenis AS332L dengan registrasi C-PUM. Pesawat lepas landas dari Apron Lanud Iskandar pada pukul 09.31 WIB untuk menjalankan misi pemadaman dari udara.
"Dalam operasinya, helikopter terlebih dahulu menuju Sungai Bulu Besar untuk mengambil air. Lokasi pengambilan air tersebut berjarak sekitar 3 nautical mile (Nm) dari titik api yang menjadi sasaran pemadaman," ujarnya.
Setelah mengisi air, helikopter kemudian melanjutkan penerbangan menuju lokasi kebakaran berdasarkan koordinat titik api yang telah ditentukan di kawasan TNTP.
"Helikopter mengambil air di Sungai Bulu Besar, kemudian menuju sasaran titik api sesuai koordinat yang telah ditentukan di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting," kata Samuel.
Berdasarkan rencana operasi, helikopter water bombing tersebut melaksanakan pemadaman selama kurang lebih 4,5 jam. "Pesawat tadi sudah kembali mendarat di Apron Lanud Iskandar sekitar pukul 13.53 WIB. Karena sore ini asap pekat kembali terjadi dan membuat visibility menurun," ujarnya.
Pengerahan armada udara ini menjadi bagian dari strategi penanganan karhutla di Kobar. Selain mempercepat upaya pemadaman, operasi tersebut diharapkan membantu mengendalikan kebakaran di kawasan TNTP yang memiliki medan sulit dijangkau petugas darat.
"Upaya pemadaman melalui udara dilakukan bersamaan dengan penanganan di lapangan guna mencegah api meluas dan mengurangi dampak kebakaran terhadap kawasan hutan konservasi," pungkasnya.
