ISPA di Kobar Capai 14 Ribu Kasus, Lonjakan Terjadi Saat Karhutla

Kalimantan Tengah

ISPA di Kobar Capai 14 Ribu Kasus, Lonjakan Terjadi Saat Karhutla

Sigit Pamungkas - detikKalimantan
Jumat, 18 Sep 2026 19:30 WIB
Kabut asap sore ini di Pangkalan Bun. (Sigit Pamungkas)
Foto: Kabut asap sore ini di Pangkalan Bun. (Sigit Pamungkas)
Kotawaringin Barat -

Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, mencapai 14.086 kasus secara kumulatif hingga minggu epidemiologi ke-36 tahun 2026. Lonjakan kasus paling terlihat pada periode meningkatnya aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Juli-Agustus.

Data tersebut berdasarkan pemantauan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kobar periode minggu epidemiologi 1 hingga 36, dengan pembaruan data per 16 September 2026.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kobar, dr. Jhonferi Sidabalok, mengatakan perkembangan kasus ISPA masih perlu menjadi perhatian karena angka pada minggu terakhir masih relatif tinggi dibandingkan periode sebelum terjadi peningkatan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Imbauannya sudah selalu disampaikan, seperti yang selalu disampaikan Posko Karhutla melalui imbauan lewat radio juga," kata Jhonferi, Jumat (18/9/2026).

Dalam data Dinkes, kasus ISPA pada minggu ke-28 tercatat sebanyak 335 kasus. Jumlah itu kemudian meningkat menjadi 457 kasus pada minggu ke-29, naik 36,4 persen, lalu menjadi 468 kasus pada minggu ke-30.

"Peningkatan berlanjut pada minggu ke-31 dengan 566 kasus. Dengan demikian, dalam rentang minggu ke-28 hingga minggu ke-31, kasus ISPA meningkat dari 335 menjadi 566 kasus atau sekitar 68,9 persen," katanya.

Setelah mencapai puncak pada minggu ke-31, kasus ISPA sempat menurun menjadi 514 kasus pada minggu ke-32, kemudian 461 kasus pada minggu ke-33 dan 422 kasus pada minggu ke-34.

"Namun, kasus kembali meningkat pada minggu ke-35 menjadi 534 kasus. Pada minggu ke-36, jumlahnya turun menjadi 471 kasus atau sekitar 11,8 persen dibandingkan minggu sebelumnya," ujarnya.

Dinkes mencatat peningkatan ISPA tersebut secara waktu beriringan dengan meningkatnya aktivitas karhutla di Kobar. Paparan asap dan partikulat dari kebakaran menjadi salah satu faktor lingkungan yang berpotensi memengaruhi kesehatan saluran pernapasan.

Meski demikian, Dinkes menegaskan pola tersebut belum dapat digunakan untuk menyimpulkan hubungan sebab-akibat. Perubahan kasus ISPA juga dapat dipengaruhi sejumlah faktor lain, seperti cuaca, infeksi saluran pernapasan, aktivitas dan mobilitas masyarakat, serta perilaku pencarian pengobatan.

"Sementara itu, kasus diare akut menunjukkan tren berbeda. Kasus sempat mencapai 183 kasus pada minggu ke-30, tetapi kemudian turun secara bertahap hingga menjadi 58 kasus pada minggu ke-36. Penurunan dari puncak tersebut mencapai sekitar 68,3 persen," ujarnya.

Jhonferi mengimbau masyarakat, terutama kelompok rentan, membatasi aktivitas di luar rumah jika tidak ada keperluan penting saat kondisi udara memburuk. Warga yang harus beraktivitas di luar rumah diminta menggunakan masker yang menutup hidung dan mulut.

"Terutama anak, lansia dan ibu hamil," ujarnya.

Dinkes Kobar juga terus melakukan pemantauan terhadap ISPA, pneumonia, ILI dan diare melalui surveilans mingguan.

"Masyarakat kami minta memperhatikan kondisi kesehatan dan segera mendapatkan pelayanan apabila mengalami keluhan gangguan pernapasan, terutama ketika paparan asap karhutla meningkat," pungkasnya.



(aau/aau)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads