Kasus diare di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, mengalami lonjakan dalam sepekan terakhir. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kotim mencatat tambahan 51 kasus hingga awal September 2026.
Kepala Dinkes Kotim, Umar Kaderi mengatakan, peningkatan kasus diare menjadi perhatian karena terjadi di sejumlah wilayah kerja puskesmas. Sementara itu, kenaikan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) disebut tidak terlalu signifikan.
"Kasus ISPA kenaikannya tidak signifikan, namun diare yang mengalami kenaikan," kata Umar, Selasa (15/9/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan pemantauan mingguan Dinkes Kotim, jumlah kasus diare pada minggu ke-35 tercatat sebanyak 217 kasus. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi 268 kasus pada minggu ke-36.
"Artinya, terjadi penambahan 51 kasus hanya dalam satu minggu. Jika dibandingkan dengan jumlah kasus pada minggu sebelumnya, kenaikan tersebut mencapai sekitar 23,5 persen," katanya.
Dari pemetaan Dinkes Kotim, wilayah kerja Puskesmas Ketapang 1 menjadi daerah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni mencapai 75 kasus. Disusul wilayah kerja Puskesmas Cempaka Mulia dengan 65 kasus.
Meski terjadi peningkatan, Umar memastikan sejauh ini belum ditemukan pasien dengan kondisi diare berat yang membutuhkan penanganan di rumah sakit. Kasus yang ditemukan masih dapat ditangani di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama.
"Ada beberapa kecamatan yang memang ada peningkatan kasus diare. Akan tetapi, untuk kasus-kasus berat insyaallah belum kami temukan sampai saat ini," ujarnya.
Menurut Umar, pasien yang membutuhkan penanganan medis masih dapat dirawat di puskesmas. Hingga saat ini belum ada kasus diare yang mengharuskan pasien dirujuk ke rumah sakit karena kondisinya berat.
Dinkes Kotim terus memantau perkembangan kasus, terutama di wilayah yang menunjukkan peningkatan. Masyarakat diminta tidak mengabaikan kebersihan makanan dan minuman serta memastikan air yang dikonsumsi dalam kondisi aman.
"Upaya menjaga kebersihan dinilai penting untuk menekan risiko penularan dan mencegah lonjakan kasus semakin meluas. Terlebih, kondisi lingkungan dan ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah dapat turut memengaruhi munculnya penyakit diare," pungkasnya.
