Apa Itu Surfaktan untuk Padamkan Api Karhutla? Begini Cara Kerjanya

Apa Itu Surfaktan untuk Padamkan Api Karhutla? Begini Cara Kerjanya

Bayu Ardi Isnanto - detikKalimantan
Jumat, 18 Sep 2026 07:01 WIB
Polda Kalteng uji coba surfaktan Jepang untuk padamkan bara lahan gambut.
Polda Kalteng uji coba surfaktan Jepang untuk padamkan bara lahan gambut. Foto: Dok. Polda Kalteng
Balikpapan -

Indonesia adalah salah satu negara yang kerap mengalami kebakaran hutan dan lahan setiap musim kemarau. Khususnya Pulau Kalimantan dan Sumatera sangat rentan terhadap kebakaran hutan dan lahan.

Untuk meminimalkan kerugian tersebut, terdapat berbagai inovasi yang digunakan untuk memadamkan api, selain menggunakan air. Salah satunya adalah surfaktan yang diyakini sebagai bahan formula racun api yang efektif dan efisien.

Simak artikel ini untuk mengetahui apa itu surfaktan, bagaimana cara kerjanya, hingga pengaplikasiannya pada kebakaran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pengertian Surfaktan dan Cara Kerjanya

Dikutip dari situs Biolin Scientific, istilah surfaktan berasal dari singkatan "surface active agent" yang berarti agen aktif permukaan. Molekul-molekul surfaktan bersifat amfifilik, yang berarti mereka memiliki dua sisi berlawanan, yaitu bagian hidrofobik (menolak air) dan bagian hidrofilik (menarik air).

Saat berada di dalam air, secara alami molekul-molekul ini akan menyelaraskan diri mereka pada antarmuka (misalnya antarmuka air dan udara). Dalam penyelarasan tersebut, bagian ekor yang hidrofobik akan menjulur ke udara, sementara bagian kepala yang hidrofilik tetap terendam di dalam air.

Fungsi utama dari cara kerja surfaktan ini adalah untuk mengurangi tegangan permukaan dan tegangan antarmuka pada sebuah zat, serta untuk menstabilkan antarmuka tersebut.

Melansir penjelasan dari situs Brighton Science, tegangan permukaan adalah ukuran seberapa kuat molekul-molekul zat cair saling tarik-menarik akibat kuatnya gaya kohesif.

Air murni memiliki tegangan permukaan yang sangat tinggi. Ketika surfaktan ditambahkan ke dalam air, surfaktan bertindak sebagai senyawa kimia yang bekerja secara spesifik untuk menurunkan tegangan permukaan cairan tersebut.

Molekul surfaktan yang bermigrasi ke permukaan air akan melemahkan daya tarik antar-molekul air. Berkurangnya energi kohesif ini memicu proses pembasahan (wetting), yang memungkinkan cairan meresap, menyebar, dan berinteraksi dengan benda padat secara jauh lebih mudah dan merata daripada sebelumnya.

Aplikasi Surfaktan sebagai Racun Api

Merujuk pada penelitian dalam Jurnal Teknologi Industri Pertanian 29 (3) Politeknik Kampar, sifat surfaktan yang dapat menurunkan tegangan permukaan menjadikannya mampu berfungsi sebagai foaming agent atau agen pembusa pembentuk racun api.

Foaming agent bekerja dengan membentuk busa berupa gelembung-gelembung gas yang dibungkus oleh lapisan cairan. Penggunaan foaming agent sebagai racun api di lapangan memiliki beberapa kelebihan utama dibandingkan hanya menggunakan air biasa.

Busa ini mampu menghambat penyebaran asap dan memblokir kontak oksigen dengan material yang terbakar, sehingga mencegah api menyala kembali. Dengan penutupan area yang merata, surfaktan ini secara drastis mampu meningkatkan efisiensi penggunaan air dalam mematikan titik api.

Inovasi Surfaktan dari Kelapa Sawit Lokal

Pada umumnya, foaming agent disintesis dari turunan minyak bumi (petroleum based) yang justru dapat menimbulkan pencemaran lingkungan karena limbahnya sulit terdegradasi di alam. Oleh karena itu, penelitian mengupayakan pemanfaatan asam oleat dari minyak kelapa sawit lokal sebagai bahan dasar foaming agent.

Minyak sawit mengandung sekumpulan asam lemak yang memiliki daya deterjensi tinggi. Melalui proses kimia saponifikasi-netralisasi dengan menggunakan jenis larutan alkali seperti NaOH dan KOH, asam lemak kelapa sawit tersebut diubah menjadi foaming agent.

Produk vegetable oil based (berbasis minyak nabati) ini dinilai jauh lebih ramah lingkungan karena limbahnya mudah terdegradasi secara biologi dan memiliki tingkat toksisitas yang rendah bagi ekosistem hutan.

Halaman 2 dari 2
(bai/aau)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads