Balikpapan Catat 524 Kasus Diare dalam Sepekan, Tertinggi Se-Kaltim

Kalimantan Timur

Balikpapan Catat 524 Kasus Diare dalam Sepekan, Tertinggi Se-Kaltim

Ary Nindita Intan RS - detikKalimantan
Kamis, 17 Sep 2026 21:45 WIB
Grafik distribusi kasus diare akut pada tahun 2026 minggu ke-30 sampai dengan minggu ke-34. (Dok Dinkes Balikpapan)
Foto: Grafik distribusi kasus diare akut pada tahun 2026 minggu ke-30 sampai dengan minggu ke-34. (Dok Dinkes Balikpapan)
Balikpapan -

Kota Balikpapan menjadi wilayah dengan jumlah kasus diare akut tertinggi se-Kalimantan Timur (Kaltim). Sebanyak 2.577 kasus tercatat secara kumulatif pada minggu ke-30 hingga ke-34 di tahun 2026.

Dalam kasus ini, Samarinda menduduki urutan kedua dengan 1.397 kasus, disusul Kutai Kartanegara 1.236 kasus, kemudian Kutai Timur 828 kasus, Paser 642 kasus, Berau 431 kasus, Kutai Barat 423 kasus, Penajam Paser Utara 377 kasus, Bontang 231 kasus, dan Mahakam Ulu tercatat 86 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Balikpapan, Alwiati menyampaikan jumlah tersebut berdasarkan hasil pemantauan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) Kota Balikpapan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kota Balikpapan tercatat sebagai wilayah dengan jumlah kasus diare akut tertinggi secara absolut di Provinsi Kalimantan Timur pada periode Minggu ke-30 sampai dengan Minggu ke-34 Tahun 2026," ujarnya, Kamis (17/9/2026).

Sementara itu, terdapat 524 kasus penyakit diare akut terjadi pada minggu ke-34 tahun 2026. Jumlah tersebut tercatat sebagai angka tertinggi dalam periode lima minggu terakhir.

"Jumlah itu menjadi angka tertinggi dalam periode lima minggu terakhir, karena melampaui jumlah kasus pada minggu yang sama di tahun 2025 sekitar 466 kasus," kata Alwi.

Sebelumnya memasuki minggu ke-34, kasus diare aku di Balikpapan masih menunjukkan tren penurunan di bawah catatan 2025. Pada minggu ke-30 terdapat 532 kasus, lebih rendah dari tahun 2025 di minggu yang sama sekitar 539 kasus.

Kemudian minggu ke-31 sekitar 545 kasus, lebih rendah dibandingkan tahun 2025 sebanyak 662 kasus. Minggu ke-32 ada 489 kasus, sementara di tahun 2025 terdapat 633 kasus.

"Catatan pada minggu ke-33 ada 466 kasus, lebih rendah dari 2025 sekitar 531 kasus," ucapnya.

Merujuk data fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP), Kelurahan Klandasan Ilir, Kecamatan Balikpapan Kota, menjadi wilayah dengan kasus penyakit diare akut terbanyak sekitar 33 kasus. Kemudian disusul Kelurahan Mekar Sari 30 kasus, Karang Joang 26 kasus, Damai 23 kasus, dan Sepinggan sekitar 22 kasus.

"Adapun wilayah dengan catatan kasus terendah berada di Kelurahan Baru Tengah 2 kasus, Karang Jati 2 kasus, Batu Ampar 3 kasus, Kariangau 3 kasus, serta Lamaru terdapat 4 kasus," imbuh Alwi.

Melihat grafik tersebut, Dinkes Balikpapan meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan bersama. Alwi menandaskan, terlebih periode musim kemarau dapat menyebabkan keterbatasan ketersediaan air bersih perpipaan di sejumlah wilayah.

"Kondisi ini dapat mendorong perubahan sumber air yang digunakan masyarakat dan berpotensi mempengaruhi higiene, sanitasi, pengolahan air minum, serta keamanan pangan," ucap Alwi.

Kendati demikian, Dinkes Balikpapan tidak serta-merta menyimpulkan peningkatan kasus terjadi akibat musim kemarau yang memanjang. Kondisi tersebut perlu dilakukan antisipasi bersama dengan penanganan optimal.

"Peningkatan kasus tidak serta-merta dapat disimpulkan akibat musim kemarau yang memanjang. Perlu diantisipasi melalui penguatan surveilans, koordinasi multi sektor, kesiapan tata laksana klinis, dan edukasi kepada masyarakat," pungkasnya.



(aau/aau)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads