Titik Api Terus Muncul, Kotim Perpanjang Tanggap Darurat hingga 30 September

Kalimantan Tengah

Titik Api Terus Muncul, Kotim Perpanjang Tanggap Darurat hingga 30 September

Sigit Pamungkas - detikKalimantan
Selasa, 15 Sep 2026 09:00 WIB
Kualitas udara di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, kembali berada pada kondisi mengkhawatirkan. Angka Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) tercatat menembus 1.098 pada Kamis (10/9/2026) pagi.
Kabut asap karhutla di Kotawaringin Timur. Foto: Istimewa
Kotawaringin Timur -

Pemkab Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, kembali memperpanjang status tanggap darurat bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan. Perpanjangan kedua ini diberlakukan selama 15 hari hingga 30 September 2026.

Keputusan tersebut diambil setelah Pemkab Kotim mengevaluasi penanganan karhutla yang masih berlangsung di sejumlah wilayah. Hingga kini, titik api masih bermunculan dan beberapa lokasi bekas kebakaran masih mengeluarkan asap sehingga membutuhkan pendinginan.

Bupati Kotim Halikinnor mengatakan status tanggap darurat sebelumnya telah ditetapkan sejak 30 Juli hingga 26 Agustus 2026. Karena kondisi karhutla dan kekeringan belum sepenuhnya membaik, status tersebut kemudian diperpanjang hingga 15 September.

"Kita mengevaluasi apa yang sudah kita lakukan. Mulai dari siaga kita tingkatkan menjadi tanggap, dan ini kita perpanjang lagi sampai 30 September selama 15 hari," kata Halikinnor, Selasa (15/9/2026).

Menurutnya, munculnya kembali titik api menjadi salah satu alasan utama pemerintah daerah memperpanjang status tersebut. Selain itu, petugas masih harus melakukan pendinginan terhadap sejumlah bekas lokasi kebakaran yang asapnya masih terlihat.

"Kita sambil melihat perkembangan. Karena sampai saat ini ternyata masih muncul titik-titik api dan banyak juga yang perlu pendinginan terhadap bekas titik api yang masih ada asap," ujarnya.

Dalam rapat koordinasi penanggulangan karhutla dan kekeringan, Pemkab Kotim juga mengevaluasi ketersediaan sarana dan prasarana pemadaman. Sejumlah bantuan peralatan telah diterima dari pemerintah pusat, TNI, Polri hingga perusahaan yang beroperasi di wilayah Kotim.

Halikinnor menyebut bantuan tersebut di antaranya berupa 10 unit tangki dari pemerintah pusat. Dukungan juga datang dari Batalyon, Korem, Kodim, Polres hingga perusahaan.

"Walaupun sudah ada bantuan Presiden sampai 10 tangki, ada juga dari Batalyon, Korem, Kodim, dari Polres, semua terlibat termasuk perusahaan juga. Ini masih kurang karena luasnya wilayah kita," jelasnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Keterbatasan sarana menjadi tantangan tersendiri karena wilayah Kotim cukup luas. Pemerintah daerah kini mengevaluasi pola pemadaman, terutama untuk menjangkau lokasi kebakaran yang jauh dari sumber air.

Salah satu metode yang disiapkan adalah sistem estafet air dengan memanfaatkan embung portabel. Cara ini dinilai dapat membantu menyuplai air ke lokasi yang sulit dijangkau kendaraan pemadam.

Evaluasi tersebut juga akan menjadi dasar Pemkab Kotim dalam menentukan kebutuhan tambahan sarana dan prasarana penanganan karhutla. Peralatan yang dinilai masih kurang akan diupayakan untuk segera dipenuhi.

"Jadi apa pun yang akan kita lakukan, termasuk pengadaan sarana prasarana, kekurangan apa saja yang bisa langsung kita adakan, kita pengadaan," kata Halikinnor.

Halikinnor menegaskan penanganan karhutla membutuhkan keterlibatan seluruh pihak. Pemerintah daerah, TNI-Polri, perusahaan, relawan dan masyarakat diminta terus berkolaborasi agar api tidak meluas.

"Intinya kita berkolaborasi semua pihak, kerja sama, berusaha memadamkan api itu sehingga karhutla ini bisa kita lewati dengan baik dan tidak bertambah besar," tegasnya.

Ia berharap kondisi karhutla dan kekeringan segera membaik sehingga berbagai aktivitas masyarakat, mulai dari ekonomi, pendidikan hingga kesehatan, dapat kembali berjalan normal.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Situasi Karhutla Terkini: Titik Api di Kalimantan Naik, Sumatera Turun"
[Gambas:Video 20detik] (des/des)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads