Curhat ASN Pesepeda Harian di Kaltara Hadapi Udara Sangat Tidak Sehat

Curhat ASN Pesepeda Harian di Kaltara Hadapi Udara Sangat Tidak Sehat

Oktavian Balang - detikKalimantan
Senin, 07 Sep 2026 09:30 WIB
ASN di Tanjung Selor bersepeda mengenakan masker di tengah kabut asap tipis.
ASN di Tanjung Selor bersepeda mengenakan masker di tengah kabut asap tipis. Foto: Dok. Istimewa
Tanjung Selor -

Cuaca Tanjung Selor, Kalimantan Utara, kelabu dan diselimuti kabut asap tipis selama sebulan terakhir. Kondisi itu menjadi tantangan bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) yang setiap hari berkegiatan dengan sepeda di ibu kota Provinsi Kalimantan Utara tersebut.

Salah satunya dirasakan Retno Sawitri Listyabratarini, ASN di Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kaltara). Ia biasa bepergian dengan sepeda angin ke kantor atau ke tempat-tempat lain. Namun, kondisi udara tidak sehat membuatnya berpikir dua kali sebelum berangkat naik sepeda seperti biasa.

"Kalau bicara kondisi kualitas udara di Tanjung Selor saat ini, menurut saya ini cukup mengkhawatirkan. Apalagi kondisi kabut asap sudah berlangsung kurang lebih sebulan, ditambah angin yang cukup kencang dan tidak adanya hujan yang membantu membersihkan udara," ujar Retno kepada detikKalimantan, Senin (7/9/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Data BMKG Tanjung Harapan Bulungan mencatat konsentrasi PM2.5 menembus angka 158,7 mikrogram per meter kubik. Angka ini berada lebih dari 10 kali lipat di atas batas aman harian yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

"Partikel debu halus berukuran mikro ini sanggup menembus saringan bulu hidung hingga masuk ke dalam aliran darah manusia," terangnya.

Bagi pesepeda seperti Retno, situasi ini menciptakan dilema tersendiri, saat bersepeda atau melakukan aktivitas fisik di luar ruangan, laju pernapasan meningkat tajam. Akibatnya, volume udara beracun dan partikel PM2.5 yang terhisap ke dalam organ pernapasan menjadi berlipat-lipat ganda dibanding saat seseorang berdiam diri.

"Sebagai pesepeda, kondisi seperti ini tentu cukup dilematis bagi saya. Jadi ketika kualitas udara sedang buruk seperti sekarang, saya tetap bersepeda untuk kebutuhan tertentu, tetapi tentu dengan penyesuaian dan perlindungan diri, salah satunya menggunakan masker," tuturnya.

Retno mengingatkan, kondisi darurat udara ini semestinya tidak membuat masyarakat dipaksa terus beradaptasi tanpa solusi nyata. Bersepeda sebagai kampanye keberlanjutan tidak boleh mengorbankan hak warga untuk bernapas lega.

"Kalau memang tidak ada kebutuhan untuk keluar yang tidak penting dan mendesak, menurut saya lebih baik mengurangi aktivitas di luar ruangan terlebih dahulu," tegas Retno

Ia berharap cuaca dapat segera membaik. Turunnya hujan yang dibarengi pemadaman titik-titik api menjadi satu-satunya harapan agar langit Tanjung Selor lekas jernih.

"Harapannya tentu kondisi ini segera membaik, terutama kalau hujan sudah turun dan titik-titik kebakaran bisa ditangani. Bagi saya pribadi, bersepeda tetap merupakan bagian dari mobilitas sehari-hari, tetapi dalam kondisi seperti sekarang prinsipnya adalah menyesuaikan diri dengan kondisi udara. Kalau kualitas udara sedang sangat buruk, kesehatan tetap nomor satu," pungkasnya.



(des/des)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads