Pemadaman Karhutla di Kobar Terkendala Air, Perumdam Tirta Arut Bantu Kirim

Pemadaman Karhutla di Kobar Terkendala Air, Perumdam Tirta Arut Bantu Kirim

Sigit Pamungkas - detikKalimantan
Jumat, 04 Sep 2026 11:45 WIB
Perumdam Tirta Arut ikut turun tangan dengan menyuplai air ke posko penanganan Karhutla.
Perumdam Tirta Arut menyuplai air ke posko penanganan Karhutla/Foto: Sigit Pamungkas/detikKalimantan
Kotawaringin Barat -

Perjuangan memadamkan karhutla di Kotawaringin Barat (Kobar) tak hanya menghadapi kobaran api dan kepungan asap. Ketersediaan air juga menjadi persoalan serius, terutama bagi petugas yang berjibaku di lokasi kebakaran jauh dari sumber air.

Di tengah kemarau yang masih berlangsung, kebutuhan air untuk mendukung operasi pemadaman terus meningkat. Situasi ini mendorong Perumdam Tirta Arut ikut turun tangan dengan menyuplai air ke posko penanganan Karhutla.

"Perumdam Tirta Arut ikut berkontribusi dalam pelayanan air bersih, salah satunya dengan melakukan pengantaran air ke posko Karhutla KM 15," kata Direktur Perumdam Tirta Arut, Sapriansyah, Jumat (4/9/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, distribusi air merupakan bentuk dukungan Perumdam Tirta Arut terhadap petugas yang tengah melakukan penanganan Karhutla. Pasokan air dinilai penting untuk menjaga kebutuhan operasional di lapangan, terlebih saat sumber air di sekitar lokasi kebakaran terbatas.

Kemarau yang melanda sejumlah wilayah Kobar membuat kondisi semakin menantang. Debit sumber air di beberapa kawasan menurun, sementara kebutuhan air justru meningkat akibat tingginya aktivitas pemadaman dan kondisi lahan yang kering.

Tak hanya untuk mendukung pemadaman Karhutla, Perumdam Tirta Arut juga mengambil langkah untuk membantu warga yang mulai kesulitan memperoleh air bersih akibat kekeringan.

Salah satunya dilakukan di wilayah Riam Durian dan sekitarnya. Perumdam Tirta Arut menyiapkan tempat penampungan air di lahan yang telah direncanakan sebagai lokasi pembangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Riam Durian.

"Untuk penanggulangan sementara kekeringan di daerah Riam Durian dan sekitarnya, sudah dibuatkan penampungan air di lahan rencana IPA Riam Durian," ujarnya.

Penampungan tersebut disiapkan sebagai solusi sementara agar kebutuhan air masyarakat tetap dapat terpenuhi selama musim kemarau belum berakhir.

Sapriansyah menjelaskan air baku yang dimanfaatkan untuk mendukung pelayanan tersebut berasal dari hasil perawatan berkala Intake Baru Kotawaringin Lama. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Perumdam Tirta Arut menjaga pelayanan air bersih di tengah tekanan kemarau sekaligus memberikan dukungan terhadap penanganan bencana Karhutla.

Kondisi di lapangan menunjukkan persoalan air menjadi salah satu mata rantai penting dalam penanganan Karhutla. Ketika sumber air sulit dijangkau atau mulai berkurang, proses pemadaman dapat semakin berat dan membutuhkan dukungan logistik dari berbagai pihak.

2.001 Titik Panas terdeteksi

Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan RI, total hotspot yang terdeteksi di Kabupaten Kobar mencapai 2.001 titik. Hotspot tersebut tersebar di enam kecamatan sepanjang periode pemantauan tahun 2026.

Tak hanya titik panas, dampak karhutla juga terlihat dari luas lahan yang terbakar. Rekapitulasi BPBD Kobar mencatat total luasan lahan terbakar mencapai 1.824,98 hektare.

Kecamatan Arut Selatan menjadi wilayah dengan jumlah hotspot paling tinggi. Tercatat 1.307 hotspot muncul di wilayah tersebut sepanjang 2026.

Arut Selatan juga menjadi salah satu wilayah dengan dampak kebakaran paling luas. Berdasarkan rekapitulasi, luas lahan terbakar di kecamatan tersebut mencapai 942,69 hektare.

Sementara itu, Kecamatan Kumai mencatat 377 hotspot. Luasan lahan terbakar di wilayah tersebut mencapai 724,43 hektare, menjadikannya salah satu wilayah dengan dampak karhutla terbesar di Kobar.

Di Kecamatan Kotawaringin Lama tercatat 119 hotspot dengan luas lahan terbakar sekitar 32,10 hektare. Sedangkan Kecamatan Arut Utara mencatat 117 hotspot dengan luasan terbakar sekitar 30,50 hektare.

Kecamatan Pangkalan Banteng tercatat memiliki 65 hotspot, dengan luas lahan terbakar mencapai 81,75 hektare. Adapun Pangkalan Lada mencatat 16 hotspot dengan luasan lahan terbakar sekitar 13,51 hektare.

Selain ribuan titik panas dan luas lahan yang terbakar, BPBD Kobar juga mencatat telah melakukan 294 kali penanganan karhutla di seluruh wilayah kecamatan selama 2026. Meski angka tersebut cukup besar, kondisi karhutla di Kobar saat ini mulai menunjukkan tanda-tanda mereda. BPBD menyebut titik api baru secara umum sudah tidak ditemukan.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kobar, Andhan Santana, mengatakan petugas saat ini masih memusatkan perhatian pada sejumlah lokasi yang masih membutuhkan pemantauan dan penanganan.

"Secara umum titik baru sudah tidak ada. Fokus di KM 15 Pangkalan Bun-Kolam dan Desa Tanjung Putri. Tanjung Putri juga mulai terkendali," kata Andhan Santana, Jumat (4/9/2026).

BPBD Kobar tetap melakukan pemantauan di lokasi-lokasi yang sebelumnya terdampak karhutla. Sebab, meski titik api baru mulai tidak ditemukan, kondisi lahan yang kering masih berpotensi memicu munculnya kembali kebakaran.

Dengan total 2.001 hotspot, 294 penanganan karhutla, dan 1.824,98 hektare lahan terbakar, karhutla menjadi salah satu ancaman serius yang dihadapi Kobar sepanjang 2026. Kini, upaya penanganan diarahkan untuk memastikan titik-titik yang masih tersisa benar-benar terkendali dan tidak kembali meluas.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Memasak Kuliner Tradisional Khas Palangkaraya Bersama Keturunan Dayak"
[Gambas:Video 20detik] (sun/des)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads