Musim kemarau mulai membuat warga Kapuas, Kalimantan Tengah, kelimpungan memenuhi kebutuhan air bersih. Ketika sumber air alternatif perlahan mengering dan aliran PDAM di sejumlah kawasan tersendat, air galonan kini menjadi pilihan warga untuk bertahan.
Pantauan detikKalimantan, penjual air bersih mulai ramai didatangi masyarakat. Warga rela mengeluarkan uang untuk membeli air demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari memasak hingga keperluan rumah tangga.
Salah seorang warga Jalan Tjilik Riwut, Isan, mengaku kini harus membeli air galonan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Air yang dibelinya disebut berasal dari jaringan air leding.
"Saya belinya per galon, se-galon Rp 5 ribu, sumbernya air leding," tutur Isan, Kamis (3/9/2026).
Diketahui aliran air PDAM di sejumlah wilayah kerap mengalami kemacetan. Situasi semakin sulit karena sumber air lainnya ikut terdampak kemarau dan mulai berkurang.
Sungai Kapuas yang selama ini menjadi salah satu sumber air bagi masyarakat juga belum bisa diandalkan. Intrusi air laut membuat kualitas air sungai menurun sehingga warga semakin terbatas dalam mendapatkan sumber air bersih.
Isan mengungkapkan, sebetulnya terpaksa mengeluarkan uang untuk kebutuhan air. Sebab pembelian yang harus dilakukan berulang membuat pengeluaran bertambah di tengah kondisi kemarau.
"Kami berharap pemerintah dapat menyiapkan sumber dan distribusi air bersih alternatif selama kemarau berlangsung, terutama bagi kawasan yang paling terdampak kekurangan pasokan," doa Isan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di lain sisi, kondisi tersebut menguntungkan para penjual air bersih galonan. Air dijual menggunakan kemasan galon dengan harga bervariasi, tergantung sumber air yang digunakan.
Seperti dirasakan Ade Yulianto, pedagang air bersih galonan yang kebanjiran orderan. Menurutnya permintaan dari warga meningkat sejak kondisi kemarau datang. Warga yang sebelumnya masih mengandalkan aliran PDAM kini mulai membeli secara berulang air untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
"Kalau hari biasa paling omzet sekitar Rp 200-300 ribu sehari. Tapi kalau musim kemarau dan ramai pembeli, bisa sampai Rp 500 ribu bahkan Rp 600 ribu sehari," cerita Ade.
MenurutA Ade, peningkatan penjualan terjadi karena banyak warga yang mulai kesulitan mendapatkan air bersih. Sebagian pembeli bahkan datang tidak hanya untuk membeli satu atau dua galon, tetapi sekaligus beberapa galon untuk persediaan di rumah.
"Kalau sekarang lumayan ramai. Ada yang beli dua, tiga, sampai beberapa galon sekaligus. Mungkin karena air di rumah mereka tidak lancar," kata Ade.
Meski penjualan meningkat, Ade menyebut kondisi tersebut juga bergantung pada ketersediaan air. Jika kemarau semakin panjang, kebutuhan masyarakat terhadap air bersih diperkirakan akan terus meningkat. Ade pun enggan berharap demikian.
"Kami juga berharap kondisi ini cepat normal. Kalau air PDAM sudah lancar lagi, tentu warga tidak perlu terlalu sering membeli air," harap Ade.
