Cek Karhutla, Menhut: Kalbar Sedang Tidak Baik-baik Saja

Kalimantan Barat

Cek Karhutla, Menhut: Kalbar Sedang Tidak Baik-baik Saja

Ocsya Ade CP - detikKalimantan
Kamis, 03 Sep 2026 22:30 WIB
Menhut Raja Antoni saat meninjau lokasi karhutla di Desa Kuala Dua, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalbar, Kamis (3/9/2026). (Dok Kemenhut)
Foto: Menhut Raja Juli Antoni saat meninjau lokasi karhutla di Desa Kuala Dua, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalbar, Kamis (3/9/2026). (Dok Kemenhut)
Kubu Raya -

Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni turun langsung memantau penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Kuala Dua, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat (Kalbar). Meski jumlah titik panas atau hotspot menurun, Raja Juli menegaskan kondisi kabut asap di Kalbar masih memprihatinkan.

Raja Juli tiba di Kalbar dan langsung meninjau salah satu lokasi karhutla pada Kamis (3/9/2026). Dia melihat proses pemadaman yang dilakukan Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama personel gabungan.

Raja Antoni mengatakan data hotspot berdasarkan sistem Sipongi Kementerian Kehutanan menunjukkan adanya penurunan dalam beberapa hari terakhir. Meski begitu, ia menegaskan penurunan angka hotspot tidak boleh menjadi alasan untuk mengendurkan penanganan karhutla.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Malam nanti akan kita pantau kembali ya jumlah hotspot maupun visibility-nya ya. Namun saya ingin mengatakan bahwa kondisi Kalbar sedang tidak baik-baik saja," ucap Raja Juli.

"Angka, sekali lagi angkanya menurun, angka hotspot-nya menurun ketimbang hari lalu, tapi asapnya hari ini sangat, sangat, sangat tidak baik," sambungnya.

Diketahui pada 31 Agustus 2026, tercatat ada 272 hotspot di Kalbar. Jumlah itu kemudian melonjak menjadi 859 hotspot pada 1 September, sebelum kembali turun menjadi 268 hotspot pada 2 September.

Namun, Raja Juli mengingatkan penurunan angka hotspot tidak otomatis menandakan persoalan kabut asap telah berakhir. Dia menyebut kondisi Kalbar masih membutuhkan perhatian serius karena kualitas udara dan jarak pandang masih terdampak asap.

Menurutnya, titik api yang sudah padam tidak lagi terdeteksi sebagai hotspot oleh sistem. Meski demikian, asap dari kebakaran masih dapat bertahan di udara.

"Api padam tidak terbaca sebagai hotspot di Sipongi, namun itu tidak berarti bahwa tidak ada asap. Teman-teman sendiri lihat sendiri, tidak lagi ada hotspot di sini tapi ini asapnya terus eksis," kata Raja Juli.

Raja Juli mengatakan kondisi serupa masih terlihat di Kota Pontianak. Meski jumlah hotspot menurun, asap masih menyelimuti wilayah tersebut.

Karena itu, dia meminta penanganan karhutla tidak berhenti pada pemadaman api. Pendinginan lahan harus dilakukan secara masif untuk memastikan tidak ada bara yang kembali memicu kebakaran.

"Oleh karena itu hari ini teman-teman Manggala Agni, Kemenhut, TNI-Polri, BPBD semua ya, sedang berjibaku untuk memastikan supaya tadi hotspot-nya bisa turun. Namun saat bersamaan harus ada gerakan yang masif untuk melakukan pendinginan. Ini sekarang nih lagi dilakukan pendinginan," ujarnya.



(aau/aau)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads