Malaysia Laporkan Ada 1.811 Kasus Asma Akibat Asap Karhutla Kalimantan

Internasional

Malaysia Laporkan Ada 1.811 Kasus Asma Akibat Asap Karhutla Kalimantan

Suci Risanti Rahmadania - detikKalimantan
Rabu, 02 Sep 2026 17:30 WIB
The sun rises above Kuala Lumpurs skyline on a hazy day in Kuala Lumpur, Malaysia October 9, 2023. REUTERS/Hasnoor Hussain
Kuala Lumpur diselimuti kabut asap. Foto: REUTERS/HASNOOR HUSSAIN
Pontianak -

Otoritas Malaysia mengungkapkan adanya kenaikan kasus penyakit pernapasan akibat kabut asap kiriman dari wilayah Indonesia. Kabut asap yang timbul dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di Kalimantan, mengganggu aktivitas warga Malaysia Borneo, terutama Sarawak, dengan Air Pollutan Index (API) melebihi 300.

Dilansir detikHealth, Kementerian Kesehatan Malaysia melaporkan bahwa pada 23-29 Agustus 2026, kasus asma mencapai 1.811 kasus, naik drastis dari hanya 219 kasus pada pekan sebelumnya. Pada periode ini pula, kasus konjungtivitis turut meningkat dari 146 kasus pada pekan sebelumnya menjadi 720 kasus.

Warga Kuching, Sarawak, bernama Mia Emylia Hassan (33) menuturkan bahwa asap sangat pekat dan baunya menyengat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Udara di sini sangat pekat. Baunya seperti asap dan semuanya terlihat putih," ungkapnya kepada Al Jazeera, dikutip Rabu (2/9/2026).

Mia juga mengatakan bahwa ia dan keluarganya sudah sebulan tidak melihat langit biru. Jarak pandang di daerah tempat tinggalnya terbatas hingga hanya 1 kilometer.

Menurut Mia, kabut asap mulai menyelimuti Kuching pada awal Agustus. Saat itu, putri Mia yang berusia 10 bulan baru saja menjalani pengobatan akibat infeksi paru-paru. Begitu pulang ke rumah, bayinya malah dihadapkan dengan kabut asap pekat yang menghambat pemulihan.

"Dia belum pulih dengan baik karena paru-parunya masih berkembang. Selama sebulan ini dia terus mengonsumsi obat, serta mengalami batuk dan muntah. Setiap kali terjadi, rasanya seperti mengalami serangan jantung kecil bagi kami," tutur Mia.

Kabut asap tak hanya dialami di wilayah Malaysia Borneo, tetapi juga Malaysia Semenanjung. Sebagian asap berasal dari karhutla di wilayah Sumatera. Seorang warga Kuala Lumpur, Karen Michaela Tan (52), menyebut kondisinya memburuk akibat kualitas udara.

Karen sendiri merupakan pasien asma. Kondisi kabut asap membuatnya mengalami mengi hingga sesak napas saat naik-turun tangga. Untuk menghadapi kondisi ini, Karen harus terus mengonsumsi obat steroid dosis tinggi hingga melakukan terapi nebulizer.

"Dokter cenderung berhati-hati dalam menangani pasien asma. Mereka memilih meningkatkan dosis obat daripada mengambil risiko pasien harus dirawat di rumah sakit karena sesak napas," kata Karen.

Menurut laporan Al Jazeera, kondisi kabut asap di Malaysia ini merupakan yang terburuk sejak 2015. Pada tahun 2015, Malaysia juga menghadapi kabut asap kiriman dari Indonesia. Puluhan juta warga terpapar asap beracun hingga dilaporkan ada lebih dari 500 ribu orang menderita gangguan pernapasan.

Baca selengkapnya di sini.



(des/des)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads