Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kobar mencatat ada 12.275 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) selama 33 periode pengamatan.
Hal itu dijelaskan Kepala Dinas Kesehatan Kobar, Hardiono. Menurutnya, angka tersebut tercatat dalam Dashboard Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR).
"Kasus ISPA menunjukkan pola yang berfluktuasi. Pada periode ke-29 tercatat 460 kasus, kemudian meningkat menjadi 470 kasus pada periode ke-30. Angka tersebut sempat turun menjadi 450 kasus pada periode ke-31," ujar Hardiono, Selasa (1/9/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Namun, kasus kembali melonjak pada periode berikutnya. Sebanyak 515 kasus ISPA tercatat pada periode ke-32, sebelum turun menjadi 465 kasus pada periode ke-33," imbuhnya.
Kondisi ini menjadi perhatian karena peningkatan kasus terjadi di tengah aktivitas karhutla yang masih berlangsung di sejumlah wilayah Kobar. Ia mengatakan pihaknya melihat adanya peningkatan kasus ISPA pada periode yang bersamaan dengan meningkatnya aktivitas kebakaran hutan dan lahan.
"Pada saat aktivitas kebakaran hutan dan lahan meningkat, kami juga melihat peningkatan kasus ISPA. Kondisi ini perlu menjadi perhatian bersama," ujarnya.
Meski demikian, Dinkes Kobar tidak ingin terburu-buru menyimpulkan bahwa peningkatan kasus ISPA sepenuhnya disebabkan oleh asap karhutla. Menurut Hardiono, ISPA dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, sehingga data yang ada saat ini baru menunjukkan adanya keterkaitan berdasarkan waktu, bukan bukti bahwa seluruh kasus disebabkan langsung oleh paparan asap.
"Data yang ada saat ini menunjukkan keterkaitan secara waktu dan belum dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa seluruh peningkatan kasus ISPA secara langsung disebabkan oleh karhutla," katanya.
Di sisi lain, potensi paparan asap masih perlu diwaspadai. Laporan Satgas Penanganan Karhutla pada 31 Agustus 2026 pukul 20.30 WIB mencatat sebanyak 100 hotspot terdeteksi di wilayah Kobar.
Sebaran titik panas paling banyak berada di Kecamatan Arut Selatan dengan 73 titik. Berikutnya Kecamatan Kumai 13 titik, Kotawaringin Lama 10 titik, Pangkalan Lada 3 titik, dan Pangkalan Banteng 1 titik.
Arut Selatan juga menjadi salah satu wilayah yang dilaporkan terdapat aktivitas kebakaran, termasuk di kawasan Raja Seberang, Madurejo, Mendawai, Baru, Natai Raya, Pasir Panjang, dan Sungai Kapitan.
Situasi tersebut membuat kewaspadaan terhadap dampak asap terhadap kesehatan masyarakat terus ditingkatkan.
Dinkes Kobar pun memberi perhatian khusus kepada kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan maupun penyakit kronis.
"Fokus kami adalah melindungi masyarakat, khususnya anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat dengan penyakit kronis dan gangguan pernapasan. Puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan harus meningkatkan kewaspadaan," ucap Hardiono.
Masyarakat juga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Penggunaan masker yang sesuai juga dianjurkan ketika harus beraktivitas di tengah paparan asap.
"Warga yang mengalami keluhan pernapasan, terutama sesak napas atau kondisi yang semakin berat, diminta segera mendapatkan pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan," pungkasnya.
