Sawah di Samarinda Mulai Kering, Paniyem Terancam Gagal Panen

Kalimantan Timur

Sawah di Samarinda Mulai Kering, Paniyem Terancam Gagal Panen

Riani Rahayu - detikKalimantan
Sabtu, 29 Agu 2026 17:01 WIB
Petani di Samarinda terancam gagal panen karena kekeringan
Petani di Samarinda terancam gagal panen karena kekeringan. Foto: Riani Rahayu/detikKalimantan
Samarinda -

Kekeringan mulai mengancam lahan pertanian di kawasan Lempake, Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim). Petani mulai cemas terancam gagal panen setelah parit yang menjadi sumber pengairan sawah mengering, sementara tanaman padi masih membutuhkan air hingga dua bulan ke depan.

Salah seorang petani di Lempake, Paniyem (59), mengatakan tanaman padi miliknya baru berusia sekitar satu bulan. Namun selama sebulan terakhir hujan tak kunjung turun dan air di parit yang selama ini digunakan untuk mengairi sawah mulai habis.

"Tanamnya sudah ada sebulan, ikut teman-teman yang menanam. Tapi sebulan ini enggak ada hujan, parit juga tidak bisa disedot," ujar Paniyem saat ditemui detikKalimantan, Sabtu (29/8/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Paniyem sebelumnya masih bisa menggunakan mesin penyedot air atau alkon untuk mengambil sisa air dari parit di sekitar sawah. Namun kini air di parit tersebut telah mengering sehingga tidak lagi dapat disedot.

"Mau disedot kan di parit enggak ada air sama sekali. Enggak tahu kalau enggak ada kiriman ya enggak ada air. Nunggu kiriman," katanya.

Paniyem mengaku sudah dua kali menggunakan alkon untuk mengairi sawahnya selama kekeringan. Penyedotan dilakukan pada malam hari untuk mengurangi penguapan, bahkan dirinya pernah berada di sawah hingga sekitar pukul 03.00 Wita.

"Kalau nyiram itu malam. Kalau siang kan nguap. Sayang nyiram kalau siang malah nguap," tuturnya.

Namun setelah penyedotan kedua, air yang tersisa di parit akhirnya habis. Paniyem kini kesulitan mendapatkan air bahkan untuk kebutuhan menyemprot tanaman padinya.

"Sudah airnya kering. Enggak ada air sama sekali, mau ngompres, semprot saja enggak ada air. Habis airnya," ungkapnya.

Kondisi tersebut membuat Paniyem khawatir tanaman padinya tidak dapat tumbuh maksimal hingga masa panen. Apalagi permukaan tanah di sawah miliknya kini mulai mengering dan pecah-pecah akibat tidak mendapat pasokan air.

"Namanya kurang minum gimana lagi. Kalau kering pecah begini, dialirkan air dua hari enggak cukup. Masih belum menutup tanahnya. Paling enggak seminggu baru bisa ketutup," jelasnya.

Selain kesulitan mendapatkan air, kekeringan turut membuat biaya yang dikeluarkan petani bertambah. Paniyem harus membeli sekitar lima liter bensin setiap kali mengoperasikan alkon untuk menyedot air.

"Kalau ada ya tak belikan bensin. Kalau enggak ada gimana lagi? Ya pasrah aja. Kita bisanya cuma berusaha," tutur dia.

Paniyem kini hanya dapat mengandalkan kiriman air maupun hujan untuk mempertahankan tanaman padinya. Sedangkan padi varietas Inpari yang ditanamnya diperkirakan masih membutuhkan waktu sekitar dua bulan sebelum dapat dipanen.

"Mudah-mudahan aja. Kita orang tani ya cuma gini. Kalau pas gagal ya gagal, kalau pas lagi panen ya alhamdulillah. Gitu aja, berdoa aja. Berdoa, berusaha," pungkasnya.

Paniyem sendiri mengelola sawah tersebut secara mandiri. Hasil panen biasanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, sedangkan sisanya baru dijual apabila hasil yang diperoleh mencukupi.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Bendung Karet Pati Mengering, Bau Bangkai Ribuan Ikan Resahkan Warga"
[Gambas:Video 20detik] (des/des)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads