Bendungan Lempake Surut, Air PDAM Diprediksi Hanya Cukup hingga 29 September

Kalimantan Timur

Bendungan Lempake Surut, Air PDAM Diprediksi Hanya Cukup hingga 29 September

Riani Rahayu - detikKalimantan
Sabtu, 29 Agu 2026 13:56 WIB
Bendungan Lempake.
Bendungan Lempake. Foto: Riani Rahayu/detikKalimantan
Samarinda -

Muka air Bendungan Lempake di Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim), turun menjadi 7,10 meter di tengah kemarau. Jika hujan tak kunjung turun, pasokan air dari bendungan untuk kebutuhan PDAM diprediksi hanya mampu bertahan hingga 29 September 2026.

Staf Kepala Unit Pengelola Bendungan (UPB) Wilayah II Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV Samarinda, Hayu Wardana mengatakan muka air normal Bendungan Lempake berada di kisaran 7,20 meter. Penurunan terjadi lantaran debit air yang masuk lebih kecil dibandingkan air yang dikeluarkan untuk kebutuhan irigasi dan air baku.

"Dari pengamatan kami ketinggian muka air bendungan berada di 7,10. Sedangkan muka air normal berada di 7,20," ujar Hayu kepada detikKalimantan, Sabtu (29/8/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hayu mengatakan kondisi muka air bendungan terus mengalami penurunan karena minimnya pasokan air yang masuk selama kemarau. Sementara air dari Bendungan Lempake masih digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

"Sebelumnya rata-rata di muka air normal 7,20. Prediksi kami kalau tidak ada hujan dan pemakaian masih kondisi sekarang, bertahan sampai 29 September untuk pengambilan air PDAM," katanya.

Di tengah kondisi tersebut, BWS memprioritaskan ketersediaan air Bendungan Lempake untuk kebutuhan air baku PDAM. Aliran menuju saluran irigasi pun mulai dibatasi agar cadangan air di bendungan dapat bertahan lebih lama.

"Untuk alokasi air di bendungan memang diutamakan air baku PDAM karena kebutuhan utama. Untuk pintu air irigasi sudah kami batasi, agar air tetap mengalir lebih lama," jelasnya.

Pembatasan dilakukan untuk menjaga muka air agar tidak turun hingga melewati elevasi dasar saluran irigasi. BWS berupaya agar air masih dapat dialirkan untuk kebutuhan irigasi selama kondisi tampungan memungkinkan.

"Kalau dari kami belum ada laporan kekeringan di aliran irigasi Lempake, tapi memang ada petani yang meminta memperbesar debit saluran irigasi," ungkapnya.

Hayu mengatakan hingga kini belum ada laporan lahan pertanian yang mengalami kekeringan akibat berkurangnya aliran irigasi. Namun permintaan dari petani untuk menambah debit mulai diterima di tengah pembatasan yang dilakukan.

Kondisi Bendungan Lempake kini sangat bergantung pada turunnya hujan untuk kembali menambah debit air yang masuk. Sementara berdasarkan pemantauan, Hayu menyebut belum melihat adanya potensi hujan hingga akhir pekan.

"Iya, biar penuh lagi air bendungannya," pungkasnya.



(des/des)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads