Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim mendorong penggunaan racun api untuk mempercepat pemadaman, terutama di wilayah yang terbakar pada lahan gambut. Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam mengatakan, kebutuhan racun api sebenarnya sudah disampaikan kepada Kementerian Kehutanan (Kemenhut). Namun, hingga saat ini bantuan tersebut belum diterima.
"Kami sebenarnya berupaya untuk mendapatkan racun api, tetapi sampai dengan sekarang memang belum. Karena yang menyediakannya itu tentu dari Kementerian Kehutanan," kata Multazam, Sabtu (29/8/2026).
Menurutnya, racun api bukan sekadar tambahan dalam operasi pemadaman. BPBD Kotim memiliki pengalaman menggunakan metode tersebut saat menangani karhutla pada 2023.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasilnya cukup signifikan. Penggunaan racun api kala itu disebut mampu mengurangi kebutuhan sumber daya dalam operasi pemadaman hingga 30-40 persen.
"Efektivitas penanganan itu pernah kami lakukan di tahun 2023, bisa menghemat 30 sampai 40 persen resource kami," ujarnya.
Multazam menjelaskan penggunaan bahan tersebut juga diharapkan dapat mengurangi potensi api kembali muncul setelah permukaan lahan berhasil dipadamkan. Kondisi ini dinilai penting saat menghadapi kebakaran di lahan gambut yang memiliki karakter berbeda dibandingkan lahan mineral. Api dapat menjalar dan bertahan di bagian bawah permukaan sehingga membutuhkan penanganan lebih efektif.
Ia menegaskan racun api yang dimaksud bukan digunakan untuk merusak tanah maupun unsur hara. Bahan tersebut diaplikasikan dalam proses pemadaman untuk membantu air menembus lebih cepat ke bagian terdalam titik kebakaran.
"Racun api itu sebenarnya bukan untuk kemudian merusak unsur hara. Tetapi dipastikan diberikan untuk proses pemadaman agar filtrasi air yang kita semprotkan itu bisa cepat menuju ke titik terbawah di kebakaran. Sehingga menutup pori-pori udara," jelasnya.
BPBD Kotim pun terus berkoordinasi dengan pihak terkait di lingkungan Kementerian Kehutanan. Pengajuan kebutuhan tersebut disampaikan secara berjenjang melalui balai yang berada di bawah kementerian.
"Kami sudah lakukan komunikasi berjenjang dengan Kementerian Kehutanan melalui balai. Tentu kami masih menunggu berita baik," ungkapnya.
Meski dinilai efektif, Multazam menyebut penggunaan racun api tetap harus mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk biaya dan kajian teknis dari instansi yang berwenang. Sebab, efektivitas dalam pemadaman harus berjalan beriringan dengan pertimbangan anggaran dan dampak penggunaannya.
"Kalau kita bicara efektivitas memang penting. Tetapi tentu harga akan berbicara," pungkasnya.
