Hari ke-12 Krisis Air, Warga Kobar Tak Bisa Mandi-Memasak

Kalimantan Tengah

Hari ke-12 Krisis Air, Warga Kobar Tak Bisa Mandi-Memasak

Sigit Pamungkas - detikKalimantan
Kamis, 27 Agu 2026 15:59 WIB
Petugas PMI mengirim air bersih ke Kotawaringin Barat yang terdampak kekeringan. (dok PMI Kobar)
Foto: Petugas PMI mengirim air bersih ke Kotawaringin Barat yang terdampak kekeringan. (dok PMI Kobar)
Kotawaringin Barat -

Bencana di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, tak hanya soal asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Di tengah cuaca kering yang berkepanjangan, sebagian warga kini harus berjuang mendapatkan kebutuhan paling mendasar, yakni air bersih.

Kondisi itu dirasakan warga di kawasan Tatas dan Bungur, Kelurahan Baru, Kecamatan Arut Selatan. Kekeringan membuat sumber air semakin sulit diandalkan, sementara kebutuhan rumah tangga terus berjalan setiap hari.

Ironisnya, keterbatasan air membuat sebagian warga bahkan harus mengurangi aktivitas mandi. Ada warga yang disebut sampai dua hari tidak mandi karena persediaan air yang mereka miliki tidak mencukupi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melihat kondisi tersebut, Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Kobar hingga Kamis (27/8/2026) masih rutin mengirimkan bantuan air bersih. Penyaluran tersebut telah memasuki hari ke-12.

Ketua PMI Kobar, dr H Erry Eryansyah, mengatakan distribusi air difokuskan ke wilayah yang mengalami dampak kekeringan paling terasa.

"Sudah hari ke-12 kami menyalurkan air bersih. Saat ini kami mengkover dua daerah tersebut karena warga di sana mengeluhkan kekeringan dan kekurangan air," kata Erry.

Menurut dia, air yang didistribusikan tidak hanya digunakan untuk mandi. Warga juga memanfaatkannya untuk memasak dan berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya.

"Air bukan hanya untuk mandi, warga juga bisa memanfaatkannya untuk memasak. Dampak kekeringan sangat terasa oleh warga," ujarnya.

Terdampak Karhutla

Kondisi tersebut menjadi semakin berat lantaran kekeringan berlangsung bersamaan dengan karhutla yang masih terjadi di sejumlah wilayah Kobar. Warga harus menghadapi kualitas udara yang terganggu akibat asap sekaligus keterbatasan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Cuaca kering yang berkepanjangan juga membuat kekhawatiran terhadap ketersediaan air semakin besar. Jika hujan belum kunjung turun dan sumber air terus menyusut, jumlah warga yang membutuhkan pasokan air bersih berpotensi bertambah," kata dia.

Bagi warga terdampak, kedatangan kendaraan pengangkut air kini menjadi momen yang ditunggu. Air yang diterima harus digunakan secara hemat untuk berbagai kebutuhan, mulai dari mandi, memasak hingga mencuci.

PMI Kobar memastikan pemantauan terhadap wilayah yang mengalami krisis air terus dilakukan. Bantuan akan diarahkan kepada masyarakat yang sumber airnya mulai mengering dan paling membutuhkan pasokan.

Erry menegaskan PMI akan terus menyalurkan air selama masyarakat masih membutuhkan bantuan.

"Di tengah kepungan asap dan kekeringan, warga Kobar kini menghadapi persoalan berlapis. Ketika air bersih harus ditunggu kedatangannya, kebutuhan yang selama ini dianggap sederhana berubah menjadi perjuangan sehari-hari," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2
(bai/bai)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads