Menuba Saat Kemarau Panjang, Tak Hanya Berharap Ikan tapi Juga Hujan

Menuba Saat Kemarau Panjang, Tak Hanya Berharap Ikan tapi Juga Hujan

Sigit Pamungkas - detikKalimantan
Selasa, 25 Agu 2026 09:00 WIB
Menuba, tradisi leluhur yang hingga kini masih hidup dan dijaga masyarakat Hulu Arut.
Menuba, tradisi leluhur yang hingga kini masih hidup dan dijaga masyarakat Hulu Arut/Foto: Sigit Pamungkas/detikKalimantan
Kotawaringin Barat -

Suara tumbukan akar kayu terdengar bersahutan dari tepian Hulu Sungai Arut, Desa Riam, Kecamatan Arut Utara (Aruta), Kotawaringin Barat, Senin (24/8/2026). Bukan suara aktivitas sehari-hari. Tumbukan itu menjadi bagian dari ritual Menuba, tradisi leluhur yang hingga kini masih hidup dan dijaga masyarakat Hulu Arut.

Akar tuba ditumbuk hingga halus. Setelah itu, larutannya dilepaskan ke aliran sungai. Perlahan, warga mulai bersiap menyusuri tepian sungai, menanti ikan-ikan yang muncul ke permukaan.

Ribuan orang memadati kawasan tersebut. Lebih dari 800 warga berkumpul di satu titik teluk sungai, sementara ratusan lainnya tersebar mengikuti kegiatan dari bagian hulu hingga hilir.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mereka datang bukan hanya dari Desa Riam dan desa-desa sekitar. Sejumlah warga dari luar daerah, termasuk Kabupaten Lamandau, turut hadir untuk melihat sekaligus merasakan langsung denyut tradisi Menuba di Hulu Arut.

Di antara riuh warga, Bupati Kotawaringin Barat bersama Wakil Bupati dan jajaran kepala SOPD juga hadir. Kehadiran mereka menjadi penanda bahwa tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi tersebut masih mendapat tempat di tengah kehidupan masyarakat modern.

Bagi warga Hulu Arut, Menuba bukan sekadar cara menangkap ikan. Di dalamnya ada perjumpaan. Ada gotong royong. Ada persaudaraan yang kembali dipertemukan dalam satu kegiatan adat.

Ketika ikan mulai bermunculan, suasana sungai pun berubah. Warga dengan sigap menangkap hasil sungai seperti baung, lais, tapah hingga belida.

Namun tahun ini, Menuba memiliki makna yang jauh lebih dalam. Tradisi tersebut digelar ketika Kalteng, termasuk sejumlah wilayah Kotawaringin Barat, tengah menghadapi kemarau panjang.

Kekeringan terjadi di berbagai tempat, sementara ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus membayangi. Di tengah kondisi alam yang kering itu, Menuba menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyatukan harapan. Bukan hanya berharap memperoleh ikan dari sungai, tetapi juga berharap langit segera menurunkan hujan.

"Kegiatan ini ikhtiar bersama sebagai salah satu hajat, juga mengangkat kearifan lokal dan budaya. Kita memiliki satu tujuan dan keinginan bersama," ujar Bupati Kotawaringin Barat Nurhidayah.

Menurutnya, kemarau panjang telah membawa berbagai dampak, termasuk kekeringan dan karhutla di sejumlah wilayah. Karena itu, Menuba diharapkan menjadi bagian dari doa dan harapan bersama agar hujan segera turun.

"Kita tetap berusaha sebagai manusia," katanya.

Hari itu, Hulu Arut seolah menjadi panggung besar tempat adat, alam dan masyarakat bertemu. Akar tuba ditumbuk. Air sungai mengalir. Warga bergerak bersama. Ikan-ikan ditangkap. Tawa dan percakapan terdengar di antara kerumunan.

"Di balik semua itu tersimpan pesan sederhana: masyarakat masih memiliki cara untuk merawat kebersamaan sekaligus menghormati alam yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan mereka," ujarnya.

Menuba akhirnya bukan sekadar cerita tentang menangkap ikan di sungai. Di tengah kemarau panjang dan ancaman karhutla, tradisi itu menjelma menjadi simbol keteguhan masyarakat Hulu Arut dalam menjaga warisan leluhur sekaligus sebuah harapan sederhana yang dipanjatkan bersama: semoga hujan segera turun dan bumi Kotawaringin Barat kembali basah.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Video: Siap-siap! Puncak Kemarau Diprediksi pada Agustus dan Lebih Kering"
[Gambas:Video 20detik] (sun/aau)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads