Dinas Kesehatan Samarinda mencatat adanya peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sepanjang Agustus 2026. Peningkatan ini terjadi bersamaan dengan kemarau dan meningkatnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai daerah, termasuk Kalimantan Timur.
Kepala Dinkes Samarinda Ismed Kusasih mengatakan secara umum kondisi penyakit di Kota Tepian masih terkendali dan belum menunjukkan peningkatan signifikan. Namun, ISPA menjadi pengecualian karena mengalami kenaikan.
"Masih terkendali dan belum ada peningkatan yang signifikan, kecuali ISPA," kata Ismed saat dihubungi detikKalimantan pada Kamis (27/8/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan data Dinkes Samarinda hingga 22 Agustus 2026, tercatat 799 kasus ISPA dengan rata-rata 36,3 kasus per hari. Namun, jika dibandingkan rata-rata kasus hariannya dengan bulan-bulan sebelumnya, angka ISPA akut menunjukkan peningkatan lebih tinggi.
Pada Juni 2026 tercatat rata-rata 162,5 kasus per hari, kemudian meningkat menjadi 167,9 kasus per hari pada Juli. Memasuki periode 1-22 Agustus 2026, rata-rata kasus ISPA akut mencapai 206,2 kasus per hari.
"Angka tersebut meningkat 22,8 persen dibandingkan Juli 2026," paparnya.
Dinkes Samarinda menyebut peningkatan ISPA menjadi sinyal kewaspadaan terhadap potensi dampak kualitas udara, terutama di tengah kondisi kemarau dan karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah.
Selain ISPA, beberapa penyakit lainnya juga mengalami perubahan. Rata-rata kasus diare meningkat dari 35,7 kasus per hari pada Juli menjadi 36,2 kasus per hari pada Agustus, atau naik 1,4 persen.
Sementara penyakit kulit justru mengalami penurunan. Rata-rata kasusnya turun dari 135,3 kasus per hari pada Juli menjadi 129,2 kasus per hari pada periode 1-22 Agustus, atau turun 4,5 persen.
Dalam periode 1-22 Agustus 2026, penyakit atau keluhan terkait pernapasan mendominasi daftar 10 besar laporan kesehatan di Samarinda. Tiga di antaranya yakni pilek atau flu biasa sebanyak 3.965 kasus, radang tenggorokan 2.731 kasus, dan ISPA 799 kasus.
Secara keseluruhan, keluhan yang paling banyak dilaporkan adalah hipertensi sebanyak 7.440 kasus, disusul pilek atau flu biasa 3.965 kasus, radang tenggorokan 2.731 kasus, gangguan lambung atau maag 2.295 kasus, serta diabetes sebanyak 2.172 kasus.
Dinkes Samarinda mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap gangguan pernapasan di tengah kondisi kemarau dan potensi penurunan kualitas udara akibat asap karhutla. Masyarakat dianjurkan menggunakan masker ketika berada di luar rumah, terutama saat kondisi udara berasap atau ketika berada di kerumunan. Selain itu, masyarakat juga diimbau menjaga kebersihan tangan, menghindari kerumunan ketika sedang sakit, serta memastikan ventilasi udara di rumah tetap baik.
"Kelompok yang dinilai perlu mendapat perhatian lebih adalah anak-anak, lansia, serta masyarakat dengan daya tahan tubuh yang lemah," ujarnya.
Dinkes Samarinda memastikan fasilitas kesehatan pemerintah tetap siap menghadapi potensi peningkatan gangguan kesehatan akibat kondisi lingkungan. Sebanyak 26 puskesmas se-Kota Samarinda, RS IA Moeis Samarinda, serta Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) Kota Samarinda disiapkan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Dinkes juga mengimbau masyarakat segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala yang mengarah pada kondisi serius, seperti demam tinggi lebih dari tiga hari, sesak napas atau napas cepat, batuk berdahak berat atau berdarah, nyeri dada, maupun kondisi tubuh yang semakin lemah hingga kesulitan makan dan minum.
