Karhutla di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) memasuki fase mengkhawatirkan. Hingga 24 Agustus 2026, total luas hutan dan lahan yang terbakar mencapai 1.051,498 hektare dari 228 kejadian.
Yang paling mencolok, sebagian besar terbakar dalam satu bulan terakhir. Sepanjang Agustus 2026, BPBD Kobar mencatat 118 kejadian karhutla dengan luas lahan yang terdampak mencapai 842,95 hektare.
Artinya, sekitar 80 persen dari total luas kebakaran sepanjang tahun terjadi hanya dalam periode kurang dari satu bulan. Kondisi itu membuat penanganan karhutla di Kobar semakin intensif. Tim gabungan yang terdiri atas BPBD, TNI, Polri, hingga relawan terus dikerahkan untuk melokalisasi titik api agar tidak meluas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kabid Logistik dan Kedaruratan BPBD Kobar Andhan Santana mengatakan, Kecamatan Kumai menjadi wilayah dengan luasan kebakaran paling besar sepanjang 2026. "Sepanjang 2026, luas lahan terbakar di Kumai mencapai 658,91 hektare. Khusus Agustus, luas kebakaran mencapai 574,63 hektare," kata Andhan, Selasa (25/8/2026).
Kecamatan Arut Selatan berada di posisi berikutnya dengan total luas lahan terbakar mencapai 294,733 hektare. Namun, jika dilihat dari jumlah kejadian, wilayah ini menjadi daerah dengan frekuensi karhutla tertinggi.
"Arut Selatan mencatat 126 kejadian dari total 228 kejadian karhutla di seluruh kabupaten," ujarnya.
Sementara itu, Kecamatan Kotawaringin Lama mencatat 32,1 hektare lahan terbakar dalam delapan kejadian. Arut Utara mencapai 30,5 hektare dalam empat kejadian, sedangkan Pangkalan Banteng mencatat 26,75 hektare dalam 13 kejadian.
"Adapun di Kecamatan Pangkalan Lada, BPBD mencatat tujuh kejadian dengan luas hutan dan lahan terbakar mencapai 8,505 hektare," ujarnya.
Lonjakan karhutla juga tercermin dari jumlah titik panas. Berdasarkan pemantauan SiPongi Kementerian Kehutanan, sebanyak 657 hotspot terdeteksi sepanjang Agustus. Angka tersebut menyumbang sebagian besar dari total 784 hotspot yang tercatat di Kobar selama 2026.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius mengingat kemarau masih berlangsung dan potensi kebakaran dapat meningkat apabila masyarakat melakukan pembukaan atau pembersihan lahan dengan cara membakar. Kepala Pelaksana BPBD Kobar Samuel mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan serta segera melaporkan apabila menemukan titik api.
"BPBD Kobar juga menyiagakan layanan hotline penanganan bencana di nomor 082351269457. Selain itu, masyarakat dapat menghubungi Hotline Polres Kobar melalui 110 untuk mempercepat penanganan apabila terjadi kebakaran," tambahnya.
Dengan luasan yang terus bertambah dalam waktu singkat, kewaspadaan masyarakat menjadi salah satu kunci untuk mencegah titik api kecil berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
