Kalimantan Utara

Dampak El Nino dan Batu Bara Bawah Tanah Picu Karhutla di Tarakan

Oktavian Balang - detikKalimantan
Senin, 24 Agu 2026 22:33 WIB
Foto: Pengendara roda empat melintas di Jalan Amal Lama, Tarakan Timur yang diselimuti asap kebakaran lahan. (Oktavian Balang/detikKalimantan)
Tarakan -

Forecaster BMKG Tarakan, Ida Bagus Gede Yamuna, menanggapi fenomena alam pemicu batu bara di dalam tanah terbakar sendiri. Ia menjelaskan bahwa kebakaran lahan ini turut diperparah oleh berbagai faktor iklim ekstrem, salah satunya dampak fenomena El Nino yang memicu minimnya curah hujan di wilayah Tarakan.

"Kondisi tersebut mengakibatkan peningkatan suhu permukaan akibat tutupan awan yang berkurang, sehingga lahan menjadi kering dan mudah terbakar," ucap Yamuna, Senin (24/8/2026).

Yamuna menambahkan, keberadaan batu bara di bawah tanah yang ikut mengering membuat api jauh lebih sulit dipadamkan.

"Air yang menjaga kelembaban batu bara cenderung rendah sehingga menimbulkan panas yang berlebih dibandingkan biasanya, yang mengakibatkan peningkatan suhu batu bara," terang Yamuna.

Secara klimatologis, Yamuna memaparkan bahwa wilayah Tarakan termasuk dalam kawasan Non-ZOM (Tidak memiliki Zona Musim yang tegas). Artinya, hujan dapat terjadi sepanjang tahun, namun tetap memiliki periode jeda hujan atau kondisi kering tertentu.

"Untuk memantau kerentanan karhutla, kamu mengandalkan dua instrumen utama, yakni observasi suhu permukaan aktual yang dicatat secara real-time setiap jam oleh Stasiun Pengamatan BMKG Tarakan, serta pemantauan tingkat kerentanan regional melalui Sistem Peringkat Bahaya Kebakaran Hutan dan Lahan (SPBKH) di laman resmi BMKG," bebernya.

Terkait pantauan titik api (hotspot), BMKG menyebutkan bahwa satelit saat ini fokus pada deteksi kondisi aktual dan historis guna mendeteksi anomali suhu panas permukaan bumi, sehingga tidak memproyeksikan letak hotspot di masa depan. Kendati demikian, BMKG secara berkala memproduksi data prakiraan arah dan kecepatan angin untuk menganalisis potensi lintasan sebaran asap karhutla.

"Dengan berbagai faktor risiko tersebut, BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya di wilayah yang memiliki deposit batu bara dangkal, serta menghindari segala bentuk aktivitas pembakaran lahan," ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup DLH Tarakan, Chaizir Zain, menjelaskan bahwa potensi batu bara aktif banyak tersebar di kawasan Tarakan Timur, khususnya di area semak belukar sekitar Universitas Borneo Tarakan (UBT) hingga sepanjang jalur menuju Pantai Amal.

"Sepengetahuan kami memang salah satu pemicu dari kebakaran lahan itu adalah batu bara. Di daerah Tarakan Timur ini ada kandungan batu bara di daerah semak belukar yang bisa memicu kebakaran. Tidak perlu ada pembakaran lahan, terkadang dia bisa terbakar sendiri," ujar Chaizir saat ditemui detikKalimantan di Kelurahan Pantai Amal, Sabtu (22/8/2026).



Simak Video "Video: BMKG Prediksi El Nino Berpuncak di Desember atau Januari 2027"

(aau/aau)
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork