Jarak pandang di Palangka Raya turun drastis akibat kabut asap. Kondisi ini mengganggu operasional pesawat.
General Manager Angkasa Pura Indonesia Kantor Cabang Bandara Tjilik Riwut I Made Darmawan mengungkapkan salah satu penerbangan Super Air Jet IU 674 sempat melakukan go-around pada Rabu (19/8) dan Kamis (20/8). Keputusan tersebut diambil setelah jarak pandang berada di bawah batas minimum operasional penerbangan.
"Secara umum operasional penerbangan di Bandara Tjilik Riwut masih berjalan. Namun, kondisi kabut asap yang menyebabkan penurunan jarak pandang memang berdampak terhadap beberapa penerbangan," kata I Made, Jumat (21/8/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi paling mengkhawatirkan terjadi ketika jarak pandang merosot hingga sekitar 600 meter. Padahal dalam kondisi normal tertentu, jarak pandang di kawasan bandara dapat mencapai 4-5 kilometer.
Tak hanya satu penerbangan, sejumlah penerbangan lain juga mengalami keterlambatan akibat kondisi tersebut. Pihak bandara pun memperketat pemantauan cuaca dan jarak pandang dengan melibatkan ATC, BMKG, maskapai serta sejumlah pemangku kepentingan penerbangan.
"Prinsip kami jelas, yaitu keselamatan dan keamanan penerbangan tetap menjadi prioritas utama," tegasnya.
Udara Palangka Raya Masuk Kategori Tidak Sehat
Berdasarkan pemantauan IQAir pada Kamis (20/8/2026), indeks kualitas udara di kawasan Jalan Dr. Wahidin Sudirohusodo mencapai 163 US AQI atau masuk kategori tidak sehat. Konsentrasi PM2,5 tercatat 72,7 mikrogram per meter kubik. Angka tersebut disebut mencapai 14,5 kali nilai panduan kualitas udara tahunan WHO.
Palangka Raya juga menghadapi cuaca panas ekstrem. Suhu udara diperkirakan mencapai 38-39 derajat Celsius dengan kelembapan hanya sekitar 28 persen.
Peringatan kebakaran lahan terdekat juga masih terdeteksi dalam sistem pemantauan. Bahkan, kualitas udara diproyeksikan belum segera membaik, dengan perkiraan mencapai 172 US AQI pada Kamis, 159 US AQI pada Jumat, dan 158 US AQI pada Sabtu.
