Surutnya Sungai Mahakam mulai memutus akses transportasi sungai menuju wilayah pedalaman Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Kalimantan Timur (Kaltim). Longboat bahkan disebut sudah tidak bisa melayani perjalanan dari Long Bagun menuju Long Pahangai dan Long Apari hingga pemerintah membenahi jalur darat sebagai akses alternatif.
Plt Kepala Dinas PUPR-Pera Kaltim, Irhamsyah mengatakan dampak surutnya Sungai Mahakam paling dirasakan wilayah hulu, terutama Mahulu dan Kutai Barat (Kubar). Sementara transportasi sungai di Samarinda hingga pesisir Kutai Kartanegara (Kukar) sejauh ini masih relatif dapat dilalui kapal.
"Kalau yang terdampak langsung surutnya Mahakam ini tentunya kabupaten kita yang ada di wilayah ulu, terutama Mahakam Ulu, Kutai Barat yang ada di pesisir Mahakam seperti Melak kemudian Ujoh Bilang, Long Bagun sampai ke Long Pahangai, Long Apari," ujar Irhamsyah kepada detikKalimantan, Kamis (20/8/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Irhamsyah, kapal dengan muatan berat mulai kesulitan melayani distribusi orang maupun barang hingga wilayah Melak. Kondisi lebih sulit terjadi di Mahulu lantaran perjalanan menggunakan kapal menuju Long Bagun pun mulai terkendala akibat rendahnya muka air.
"Untuk distribusi orang, barang sampai ke Melak juga sudah mulai ada informasi bahwa kondisinya surut dan agak susah dengan kapal-kapal yang muatannya banyak, muatannya berat," terangnya.
Kondisi semakin sulit untuk akses dari Long Bagun menuju Long Pahangai dan Long Apari. Irhamsyah mengatakan berdasarkan informasi yang diterimanya, longboat sudah tidak dapat melayani perjalanan di jalur tersebut sehingga transportasi darat kini harus diandalkan.
"Yang dari Long Bagun ke Long Pahangai, Long Apari itu juga sudah tidak bisa longboat informasinya. Otomatis kita mengandalkan transportasi darat," jelasnya.
Namun, akses darat menuju wilayah paling hulu Kaltim tersebut juga belum sepenuhnya dapat dilalui dengan maksimal. Salah satu kendala berada di ruas Long Pakah menuju Tiong Ohang dengan panjang sekitar 24 kilometer yang mengalami rusak berat hingga tidak dapat dilewati.
"Ada lebih kurang 24 km yang memang kondisinya rusak berat, enggak bisa dilewati," ungkapnya.
Pemprov Kaltim kini berkolaborasi dengan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) serta Dinas PUPR Mahulu untuk membuka akses tersebut. Sejumlah alat berat mulai dimobilisasi, mulai dari motor grader, ekskavator hingga alat pemadat untuk memperbaiki badan jalan dan menangani titik longsor.
"Kami dari Pemprov Kaltim melalui UPTD Wilayah 2 sekarang ini sedang mobilisasi alat, motor grader kemudian satu unit ekskavator, kemudian pemadat Bomag," kata dia.
Irhamsyah mengatakan jalur darat yang harus ditangani dari Long Bagun menuju wilayah atas mencapai sekitar 147 kilometer. Sebagian masih berupa jalan tanah dan terdapat sejumlah titik yang kembali tertutup sehingga pengerjaan dilakukan dengan menyisir jalur secara bertahap.
"Lebih kurang 147 km dari Long Bagun itu ke atas, sampai ke Long Pakah itu kondisinya kan jalan tanah kemudian ada beberapa jalan yang sudah tertutup. Jadi kita pelan-pelan menyisir, memperbaiki kemudian supaya paling tidak itu sudah bisa terbuka dan bisa dilewati," terangnya.
Pembukaan akses darat tersebut saat ini diprioritaskan untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap dapat didistribusikan ketika jalur sungai terganggu. Sembako menjadi prioritas utama, disusul kebutuhan BBM dan gas untuk masyarakat Long Pahangai hingga Long Apari.
"Mudah-mudahan secepatnya kita bisa kondisikan jalan itu, sehingga nanti transportasi darat bisa digunakan untuk mendistribusi sembako dulu, bahan pokok dulu ya untuk ke atas, kemudian termasuk BBM, gas ke wilayah ujung-ujung kita di Long Apari, Long Pahangai," jelasnya.
Selain mengganggu transportasi, Irhamsyah menyebut surutnya Sungai Mahakam juga membuka kemungkinan terjadinya intrusi air laut ke sungai. Jika kondisi tersebut terjadi cukup jauh, kualitas air baku yang digunakan untuk pengolahan air bersih dapat ikut terdampak.
"Yang jelas kalau kondisinya surut bisa terjadi intrusi ya. Air laut masuk ke Mahakam sehingga mempengaruhi air baku untuk PDAM," katanya.
Menurut Irhamsyah, kondisi serupa pernah terjadi beberapa tahun lalu ketika air laut masuk hingga mempengaruhi sejumlah titik pengambilan air baku. Saat kondisi tersebut terjadi, sumber air baku harus digeser ke wilayah lebih hulu yang airnya masih memungkinkan untuk diolah.
"Kalau sampai intrusinya sampai air masuk ke Mahakam sampai ke intake-intake-nya, kita enggak bisa gunakan air bakunya maka kita mengambilnya ke ulunya yang masih memungkinkan untuk bisa diambil sebagai air baku untuk diolah menjadi air bersih," tutur dia.
Irhamsyah pun tidak menutup kemungkinan fenomena tersebut kembali terjadi apabila kondisi Sungai Mahakam terus mengalami penyusutan. Namun, penanganan terkait Sungai Mahakam berada di bawah kewenangan Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan.
"Kita tidak menutup kemungkinan ya kalau terjadi intrusi air laut masuk ke Mahakam, tapi itu masuk kewenangan BWS," pungkasnya.
Simak Video "Menikmati Malam yang Hidup di Kawasan Tepian, Kalimantan Timur"
[Gambas:Video 20detik] (sun/des)
