Kotim-Kobar Diselimuti Asap: Relawan Masuk IGD, Masa Darurat Diperpanjang

Kalimantan Tengah

Kotim-Kobar Diselimuti Asap: Relawan Masuk IGD, Masa Darurat Diperpanjang

Sigit Pamungkas - detikKalimantan
Kamis, 20 Agu 2026 14:10 WIB
Foto Asap pekat di Pangkalan Bun KotawaringinBarat, Rabu (19/8/2026) pagi.
Asap pekat di Kotawaringin Barat. Foto: Sigit Pamungkas/detikKalimantan
Kotawaringin Barat -

Api yang muncul di sejumlah kawasan lahan dan hutan di Kotawaringin Timur dan Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, semakin parah dan mengganggu aktivitas masyarakat karena asap. Petugas pemadam dan relawan terus berjibaku memadamkan api, hingga ada seorang relawan yang dilaporkan masuk IGD.

Di Kotim, penanganan karhutla bahkan berlangsung di puluhan titik dalam waktu bersamaan. Pada Rabu (19/8/2026), petugas gabungan menangani sedikitnya 22 titik kebakaran di wilayah Kecamatan Mentawa Baru Ketapang dan Baamang. Sejumlah lokasi masih menyisakan kepulan asap setelah proses pemadaman.

"Kondisi lapangan tidak mudah. Petugas menghadapi kendala sumber air yang jauh, keterbatasan selang, hingga gangguan pada mesin pemadam. Di beberapa lokasi, api berada di kawasan yang sulit dijangkau sehingga membutuhkan waktu dan tenaga ekstra untuk melakukan pembasahan," ujar Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, Kamis (20/8/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Salah satu kawasan yang menjadi perhatian berada di sekitar Jalan Moh Hatta Lingkar Selatan, Mentawa Baru Ketapang. Selain itu, penanganan juga dilakukan di sejumlah titik di Jalan Panglima Hamdan, Jalan MT Haryono Barat, Jalan HM Arsyad hingga kawasan Jalan Jenderal Sudirman," imbuhnya.

Relawan Tumbang Masuk IGD

Intensitas penanganan yang tinggi juga mulai berdampak terhadap kondisi para relawan. Seorang relawan asal Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Rizky Mubarrak, harus mendapat penanganan medis di IGD RSUD dr Murjani Sampit setelah mengalami sesak napas dan kelelahan ketika membantu memadamkan karhutla. Camat Mentawa Baru Ketapang Irpansyah menyebut kondisi Rizky telah stabil setelah mendapatkan pertolongan medis.

"Peristiwa tersebut menjadi gambaran beratnya perjuangan warga dan relawan yang ikut membantu pemadaman di tengah kondisi asap dan panas," kata Irpansyah.

Sementara itu, data BPBD Kotim yang dilaporkan hingga 19 Agustus menunjukkan skala persoalan yang semakin besar. Jumlah hotspot yang terakumulasi sepanjang tahun mencapai 3.840 titik, sedangkan luas lahan terbakar hingga 18 Agustus tercatat sekitar 1.317,15 hektare.

Situasi serupa terjadi di Kotawaringin Barat. Hingga 30 Agustus 2026 pukul 07.00 WIB, BPBD Kobar mencatat 189 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar mencapai 859,49 hektare. Sementara jumlah hotspot yang terpantau mencapai 461 titik.

"Kecamatan Arut Selatan dan Kumai menjadi wilayah dengan area terdampak paling luas. Di sisi lain, asap mulai menyelimuti sejumlah kawasan Pangkalan Bun. Pada Rabu (19/8) hingga Kamis pagi kepulan asap terlihat di sejumlah ruas jalan dan membuat jarak pandang pengguna kendaraan terganggu," Kepala Pelaksana BPBD Kobar, Samuel, Kamis (20/8/2026).

Masa Tanggap Darurat Diperpanjang

Menghadapi kondisi tersebut, Pemkab Kobar memutuskan memperpanjang status tanggap darurat karhutla. Status tersebut berlaku mulai 21 Agustus hingga 4 September 2026.

Ancaman juga diperkirakan belum segera berakhir. BMKG menyebut kondisi kemarau yang dipengaruhi fenomena El Nino membuat curah hujan menurun dan wilayah Kobar semakin kering, sehingga potensi karhutla masih tinggi.

Di tengah kondisi tersebut, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran. Warga yang berada di kawasan terdampak asap juga perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi udara dan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika asap semakin pekat.

Karhutla di dua kabupaten ini kini bukan lagi sekadar persoalan titik api. Di lapangan, petugas harus berpacu dengan waktu, sumber air yang terbatas, medan yang sulit, serta kondisi cuaca yang kering. Sementara warga dan relawan ikut menjadi bagian penting dalam upaya memutus penyebaran api.

Asap Ganggu Perekonomian hingga Pariwisata

Asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti sejumlah kawasan di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah. Kondisi ini membuat jarak pandang pengemudi dan pengendara sepeda motor terganggu hingga memicu kekhawatiran kecelakaan.

Pantauan pada Kamis (20//8/2026) pagi, kepulan asap terlihat cukup tebal di sejumlah titik. Motoris kelotok yang melintas terpaksa meningkatkan kewaspadaan karena pandangan ke arah depan menjadi terbatas.

Aktivitas pelaku wisata kelotok di Pangkalan Bun juga ikut terganggu karena kualitas udara yang dipenuhi asap. Rudianto, salah seorang penarik klotok wisata, mengatakan pekatnya asap terasa sangat mengganggu aktivitasnya. Bahkan, ia mengaku mengalami sesak napas saat berada di tengah kondisi tersebut.

"Asapnya luar biasa. Bukan cuma mengganggu jarak pandang, tapi napasku juga sesak," kata Rudianto.

Bagi pelaku wisata klotok, kondisi tersebut menjadi persoalan tersendiri. Aktivitas yang seharusnya memberikan kenyamanan kepada wisatawan justru harus berhadapan dengan kepulan asap yang menyelimuti kawasan.

Asap karhutla yang semakin pekat dikhawatirkan tidak hanya mengganggu mobilitas masyarakat, tetapi juga berdampak terhadap aktivitas ekonomi dan pariwisata di Pangkalan Bun.

Masyarakat pun diminta meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di luar ruangan. Pengendara sebaiknya mengurangi kecepatan, menjaga jarak aman, serta menyalakan lampu kendaraan ketika melintas di kawasan yang jarak pandangnya terganggu asap.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Situasi Karhutla Terkini: Titik Api di Kalimantan Naik, Sumatera Turun"
[Gambas:Video 20detik] (des/des)

Koleksi Pilihan

Kumpulan artikel pilihan oleh redaksi detikkalimantan

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads