Hotspot Kotim Tembus 2.707 Titik, Lahan Terbakar Dekati 500 Hektare

Kalimantan Tengah

Hotspot Kotim Tembus 2.707 Titik, Lahan Terbakar Dekati 500 Hektare

Sigit Pamungkas - detikKalimantan
Senin, 17 Agu 2026 11:59 WIB
Petugas BPBD Kotawaringin Timur berjuang memadamkan api karhutla. (dok BPBD Kotim)
Foto: Petugas BPBD Kotawaringin Timur berjuang memadamkan api karhutla. (dok BPBD Kotim)
Kotawaringin Timur -

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, belum menunjukkan tanda-tanda membaik. Hingga 16 Agustus 2026, BPBD Kotim mencatat sebanyak 2.707 hotspot tersebar di berbagai wilayah Kotim.

"Kota Besi menjadi wilayah dengan jumlah hotspot tertinggi, mencapai 512 titik. Disusul Teluk Sampit sebanyak 451 titik, Seranau 296 titik, Mentaya Hilir Utara 289 titik, Mentawa Baru Ketapang 262 titik, dan Baamang 230 titik," ujar Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, Senin (17/8/2026).

Menariknya, data hotspot dan luas lahan terbakar tidak selalu berjalan beriringan. Pulau Hanaut, misalnya, hanya mencatat empat kejadian karhutla, tetapi luas lahan yang terbakar mencapai 82,65 hektare.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kondisi serupa terjadi di Parenggean yang hanya memiliki lima kejadian, namun luas lahan terdampak mencapai 58,5 hektare. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa jumlah titik panas belum cukup untuk menggambarkan keseluruhan dampak kebakaran.

Verifikasi langsung di lapangan tetap dibutuhkan untuk mengetahui kondisi sebenarnya, termasuk luas area yang terbakar dan potensi penyebaran api.

Dari jumlah tersebut, terdapat 302 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 496,8439 hektare. Kondisi tersebut membuat sejumlah wilayah mendapat perhatian khusus, terutama kawasan yang mengalami kebakaran dalam skala besar dan berpotensi meluas.

Menurutnya, terdapat lima kecamatan yang menjadi prioritas pemantauan dan penanganan. Kelima wilayah itu yakni Teluk Sampit, Kota Besi, Seranau, Baamang, serta Mentawa Baru Ketapang.

"Penanganan terus menjadi perhatian, khususnya pada wilayah dengan kebakaran berskala besar, sehingga perkembangan di lapangan terus dipantau," katanya.

Dari lima kecamatan tersebut, Mentawa Baru Ketapang menjadi wilayah dengan luasan lahan terbakar paling besar, yakni 136,3595 hektare dari 111 kejadian.

"Baamang menyusul dengan luas 107,61135 hektare dari 131 kejadian. Sementara Kota Besi mencatat 33,615 hektare dari 14 kejadian, Teluk Sampit 13,3 hektare, dan Seranau 3,5 hektare," katanya.

BPBD Kotim pun terus memantau kawasan rawan untuk mengantisipasi munculnya titik api baru sekaligus mencegah api yang sudah ada agar tidak merembet ke area yang lebih luas.

"Tantangan lainnya datang dari kondisi cuaca. Berdasarkan prakiraan Stasiun Meteorologi H. Asan Kotim, potensi pertumbuhan awan hujan pada 16-17 Agustus 2026 secara umum masih rendah atau tidak signifikan," pungkasnya.

Meski hujan lokal masih mungkin terjadi di sejumlah wilayah, kondisi kering tetap menjadi perhatian. Apalagi, akumulasi luas lahan terbakar di Kotim kini telah mendekati angka 500 hektare.

BPBD terus memperbarui data kejadian dan luasan karhutla melalui pemantauan serta verifikasi di lapangan. Karena proses pendataan masih berjalan, angka luasan maupun jumlah kejadian tersebut masih dapat berubah mengikuti perkembangan terbaru.



(bai/bai)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads