Gugurnya Pendekar Dayak Pang Suma demi Usir Jepang

Sejarah

Gugurnya Pendekar Dayak Pang Suma demi Usir Jepang

Bayu Ardi Isnanto - detikKalimantan
Senin, 17 Agu 2026 06:00 WIB
Ilustrasi Pang Suma melawan penjajah Jepang di Kalimantan. (Gemini AI)
Foto: Ilustrasi Pang Suma melawan penjajah Jepang di Kalimantan. (Gemini AI)
Pontianak -

Di balik banyaknya nama pahlawan dalam epos perjuangan bangsa, nama Pang Suma hadir sebagai sosok bersejarah suku Dayak yang dengan gagah berani menggentarkan pasukan militer Jepang di Kalimantan Barat. Meski kurang terekspos, Pang Suma sudah menjadi legenda bagi masyarakat Dayak.

Berawal dari kemarahan atas pelanggaran hukum adat yang semena-mena, petani sederhana ini menjelma menjadi panglima perang tangguh. Berikut ini profil atau biografi Pang Suma, mulai dari asal-usul, kisah perlawanan, hingga akhir hayatnya.

Masa Kecil dan Asal Usul Pang Suma

Pang Suma lahir di sebuah desa bernama Nek Bindang, Kabupaten Sanggau. Nama aslinya Bendera bin Dulung, namun dalam beberapa catatan dikenal juga dengan nama Menera. Merujuk pada beragam literatur sejarah, tokoh pejuang pemberani dari suku Dayak ini diperkirakan lahir pada tahun 1911.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikutip dari Pang Suma: Riwayat Hidup dan Pengabdian oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya Kalbar, masa kecilnya lebih banyak dihabiskan dengan bermain dan berinteraksi di alam bebas tanpa pernah mengenyam pendidikan sekolah formal. Seiring berjalannya waktu, ia tumbuh menjadi seorang pemuda tangkas yang memiliki sorot mata tajam serta insting kewaspadaan yang luar biasa.

Setelah menginjak usia dewasa, pemuda ini dijodohkan dengan seorang perempuan bernama Rancah namun tak kunjung dikaruniai keturunan. Mereka akhirnya sepakat mengadopsi keponakannya sendiri yang bernama Suma, sehingga Bendera kemudian disapa dengan panggilan penghormatan 'Pang Suma' yang berarti bapaknya Suma.

Kekejaman Jepang

Penderitaan rakyat Meliau akibat kerja paksa militer Jepang semakin memburuk ketika para penjajah mulai melanggar hukum adat setempat secara terang-terangan. Kemarahan Pang Suma dan masyarakat Dayak memuncak saat militer Jepang bertindak semena-mena serta menculik anak gadis buruh lokal bernama Pang Solang.

Selain insiden tersebut, beberapa sumber kesejarahan juga menyoroti adanya pemicu konflik lain berupa kelancangan mandor perusahaan kayu Jepang bernama Osaki. Mandor yang mengamuk dan mengancam akan memancung Pang Linggan akibat lamarannya ditolak itu akhirnya tewas di tangan para tokoh adat.

Menghadapi rentetan kekejaman serta pelecehan fasis Jepang, para tetua suku Dayak segera mengatur taktik perlawanan bersenjata menggunakan komando 'patuong' atau mangkok merah. Pasukan perlawanan rakyat ini kemudian dibagi menjadi tiga kelompok besar, di mana Pang Suma mendapat kepercayaan penuh untuk memimpin jalannya pertempuran di wilayah Meliau.

Perjuangan Melawan Jepang

Dengan hanya mengandalkan ketangguhan fisik dan senjata tradisional, Pang Suma secara heroik berhasil menumbangkan petinggi militer Jepang bernama Takeo Nakatani serta Yamamoto. Kemenangan gemilang tersebut membuat pihak militer Jepang murka, sehingga mereka membalas dengan mendatangkan bala bantuan bersenjata modern yang jauh lebih masif dari kawasan Pontianak.

Keberanian pasukan Dayak ini sempat membuahkan hasil manis ketika mereka berhasil merebut kota Meliau dan menduduki gudang perbekalan militer pada akhir Juni 1945. Sayangnya, kedudukan tersebut hanya bertahan selama dua hari karena gempuran balasan musuh yang sangat brutal memaksa laskar Pang Suma untuk mundur demi mengatur ulang strategi.

Memasuki pertengahan bulan Juli 1945, para pejuang kembali mengatur serangan. Namun Pang Suma mendapat firasat buruk ketika nyabur atau pedangnya yang tiba-tiba patah.

Meski demikian, Pang Suma menepis firasatnya tersebut demi memimpin penyerangan ke jantung pertahanan musuh. Pada saat sedang menggempur area kantor Camat Meliau, dada sang pahlawan tertembak secara tiba-tiba dari arah semak-semak oleh pasukan Jepang yang bersembunyi.

Akhir Hayat dan Penghormatan

Walaupun peluru menembus dada, sang panglima tetap pantang mundur sebelum akhirnya peluru kedua kembali menembus bagian pahanya dan membuatnya tersungkur ke tanah. Salah satu kisah magis yang diceritakan adalah luka parah Pang Suma secara aneh tidak mengeluarkan darah sama sekali.

Melihat sang paman terjatuh, keponakannya yang bernama Apae nekat berlari untuk menolong namun nahas ia langsung tewas seketika akibat tembakan peluru musuh. Dengan sisa tenaga, Pang Suma berpesan agar pasukannya segera pergi meninggalkannya untuk maju terus berjuang, sebelum akhirnya ia mengembuskan napas terakhir.

Mengingat situasi peperangan yang masih sangat mencekam, jasad Pang Suma awalnya hanya dibaringkan secara darurat dengan ditutupi dedaunan serta ranting pepohonan. Barulah pada tahun 1982, kerangka jenazah pahlawan kebanggaan Meliau ini dipindahkan secara layak ke pemakaman di tengah kota melalui sebuah upacara adat yang khidmat.

Perjuangannya pun tak sia-sia. Beberapa hari setelah gugurnya Pang Suma, Indonesia memproklamasikan kemerdekaan usai Jepang menyerah kepada sekutu akibat serangan bom atom ke Hiroshima-Nagasaki.

Hingga saat ini, tokoh pemberani bernama Pang Suma ini memang belum dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional secara resmi oleh pihak pemerintah pusat Indonesia. Meskipun begitu, ketangguhan dan semangat patriotismenya senantiasa dikenang sebagai pahlawan kebanggaan yang sangat dihormati oleh seluruh masyarakat di wilayah Kalimantan Barat.

Sebagai wujud penghormatan abadi atas pengorbanannya, identitas sang pejuang disematkan pada fasilitas publik seperti nama arena olahraga GOR Pangsuma di Kota Pontianak. Jajaran militer TNI AL juga pernah mengusulkan nama pejuang tangguh ini untuk diabadikan menjadi markas pangkalan Komando Daerah Maritim (Kodamar) di Kalbar.

Halaman 2 dari 2
(bai/des)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads