Di saat sebagian warga beristirahat di rumah, para petugas penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, masih berjibaku di tengah kepungan asap dan panas. Bagi mereka, pulang bukan perkara mudah.
Selama api belum benar-benar terkendali, lokasi kebakaran menjadi tempat bertugas sekaligus tempat bertahan hidup. Bahkan, tanah lapang dan alas seadanya kerap menjadi tempat merebahkan tubuh ketika rasa lelah tak lagi tertahankan.
Komandan Regu Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kobar, Sayid Abdul Badawi, mengungkapkan petugas harus siap berada di lokasi selama berhari-hari apabila kondisi kebakaran membutuhkan penanganan lebih lama.
"Kalau api masih ada dan penanganan belum selesai, kami harus tetap di lokasi. Pulang juga jarang, karena harus memastikan api bisa dikendalikan. Kami tidur di mana saja tanpa alas apapun di atas tanah," kata Sayid, Kamis (13/8/2026).
Medan yang dihadapi petugas pun tidak mudah. Mereka harus menerobos lahan yang sulit dijangkau kendaraan, bekerja di bawah terik matahari, serta menghadapi asap pekat dan debu panas yang mengganggu pernapasan.
Dalam kondisi tertentu, petugas dapat bekerja hingga belasan jam dalam sehari. Setelah memastikan kobaran api mereda, waktu istirahat digunakan untuk memulihkan tenaga sebelum kembali menyisir kawasan yang masih berpotensi terbakar.
"Tidak ada kasur empuk atau kamar berpendingin. Tenda darurat, alas seadanya, bahkan tanah lapang di sekitar lokasi menjadi tempat petugas memejamkan mata," kata dia.
Istirahat yang terbatas juga menjadi tantangan tersendiri. Paparan asap, panas dan debu, ditambah kurang tidur serta kelelahan fisik, dapat membuat kondisi tubuh cepat menurun.
"Namun, tugas tetap harus dijalankan. Sebab, bara api yang terlihat kecil sekalipun bisa kembali membesar dan menjalar ketika kondisi lahan kering serta angin mendukung," ujarnya.
(bai/bai)