Tangguhnya Para Srikandi Relawan Kala Padamkan Karhutla di Kobar

Kalimantan Tengah

Tangguhnya Para Srikandi Relawan Kala Padamkan Karhutla di Kobar

Sigit Pamungkas - detikKalimantan
Minggu, 18 Okt 2026 08:01 WIB
Potret relawan perempuan saat memadamkan api di Kotawaringin Barat. (Istimewa/Dok BPBD)
Foto: Potret relawan perempuan saat memadamkan api di Kotawaringin Barat. (Istimewa/Dok BPBD)
Kotawaringin Barat -

Di tengah kepungan asap dan panas yang menyengat, sejumlah relawan perempuan terlihat ikut memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Mereka terlihat tangguh berada di barisan terdepan, melawan api yang membara di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah.

Dengan keberanian dan semangat pengabdian, para perempuan ini ikut berjibaku bersama petugas lainnya. Mereka adalah para srikandi relawan yang turut mengambil peran dalam memadamkan karhutla di Kobar.

Perkenalkan, mereka adalah Linda, Aliza, dan Rini. Linda dan Aliza ialah relawan perempuan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kobar. Sementara Rini turut menjalankan tugas, menjadi bagian dari jajaran pemadam kebakaran (Damkar).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketiganya hadir di tengah upaya pemadaman yang berlangsung di sejumlah titik wilayah Kobar. Hari ini, Sabtu (17/10/2026) petugas BPBD Kobar harus menangani kebakaran di Kilometer 11 Jalan Pangkalan Bun-Kotawaringin Lama, sedangkan petugas Damkar bergerak ke wilayah Tatas.

Di lokasi kebakaran, tantangan yang dihadapi bukan perkara ringan. Petugas dan relawan harus berhadapan dengan panas api, asap, serta kondisi lapangan yang dapat berubah sewaktu-waktu. Situasi tersebut menuntut kesiapsiagaan, ketelitian, dan kerja sama agar api tidak semakin meluas.

Bagi Linda, keterlibatannya dalam penanganan karhutla merupakan bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat. Ia berharap setiap upaya yang dilakukan di lapangan dapat membantu mengendalikan api sebelum merembet ke kawasan yang lebih luas.

"Bagi kami, membantu memadamkan karhutla adalah bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat. Memang ada tantangan dan risiko yang harus dihadapi di lapangan, tetapi kami berusaha tetap semangat menjalankan tugas. Kami ingin api segera bisa dikendalikan agar tidak semakin meluas dan membahayakan warga," ujar Linda kepada detikKalimantan, Sabtu (17/10/2026).

Semangat serupa juga ditunjukkan Aliza. Menurutnya, keterlibatan perempuan dalam penanganan bencana bukan semata-mata persoalan keberanian, melainkan juga kemauan untuk berkontribusi dan membantu sesama.

"Menjadi relawan bukan soal laki-laki atau perempuan, tetapi soal kepedulian dan kemauan untuk membantu. Selama kami mampu dan bisa berkontribusi, kami ingin ikut berjuang bersama tim di lapangan," kata Aliza.

Ketika api sudah membesar, proses pemadaman membutuhkan tenaga, waktu, serta koordinasi banyak pihak. Melihat peliknya kondisi di lapangan, Aliza hanya bisa berharap agar masyarakat ikut memahami pentingnya mencegah kebakaran sejak dini.

"Harapan kami, masyarakat juga ikut peduli dengan tidak membakar lahan, karena mencegah kebakaran jauh lebih baik daripada harus memadamkannya," harapnya.

Sementara itu, Rini yang bertugas bersama jajaran Damkar Kobar turut menghadapi tantangan dalam penanganan kebakaran di wilayah Tatas. Kondisi di lapangan membuatnya hanya fokus dengan misi penyelamatan.

Setiap upayanya memadamkan api, Rini harus menjadi sosok petugas yang siap siaga. Selain itu mampu menjaga koordinasi dan keselamatan, menjadi hal penting selama proses pemadaman.

"Saat berada di lokasi kebakaran, yang paling penting adalah tetap fokus, bekerja sama dengan tim, dan mengutamakan keselamatan. Panas dan asap memang menjadi tantangan, tetapi tugas harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab," ujar Rini.

Bagi Rini, upaya pemadaman bukan hanya tentang menghentikan kobaran api, tetapi juga mencegah dampak yang lebih luas terhadap masyarakat dan lingkungan.

"Kami berharap karhutla bisa segera teratasi sehingga masyarakat tidak terus terdampak," doa Rini.

Sementara itu Kepala Pelaksana BPBD Kobar, Samuel, membenarkan upaya memadamkan karhutla di Kobar memang turut melibatkan sejumlah relawan perempuan. Mereka turun langsung ke lapangan, membantu petugas berjibaku mengendalikan api yang mengancam kawasan sekitar.

Penanganan kebakaran membutuhkan kesiapan personel, peralatan memadai, serta koordinasi antartim. Kondisi di setiap lokasi menjadi pertimbangan dalam menentukan langkah pemadaman agar api dapat dikendalikan dan tidak merembet ke area lain.

"Keterlibatan relawan perempuan juga menunjukkan bahwa upaya menghadapi karhutla bukan hanya menjadi tanggung jawab petugas pemerintah. Partisipasi masyarakat turut dibutuhkan untuk mendukung penanganan bencana yang mengancam lingkungan tersebut," katanya.

Namun, berada di sekitar titik kebakaran bukan tanpa risiko. Keselamatan petugas dan relawan harus tetap menjadi prioritas, terutama dalam penggunaan alat pelindung diri serta pelaksanaan pemadaman sesuai kondisi di lapangan.

Selain mengandalkan pemadaman, pencegahan juga menjadi kunci untuk menekan potensi kebakaran. Masyarakat diingatkan agar tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar karena api dapat merembet dan sulit dikendalikan.

"Pelaporan dini dari masyarakat serta koordinasi BPBD, Damkar, dan relawan diharapkan mempercepat penanganan ketika muncul titik api baru," pungkasnya.

Di tengah ancaman karhutla yang membayangi Kobar, ketangguhan para srikandi relawan menjadi pengingat bahwa keberanian tumbuh dari kepedulian, kesediaan membantu, dan tekad untuk menjaga keselamatan sesama.



(aau/aau)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads