Malaysia dikabarkan mulai dilanda kabut asap yang disebut berasal dari Indonesia. Kabut asap tersebut mulai merambah bagian selatan Serawak di Pulau Borneo dan Selangor di Semenanjung Malaysia.
Dikutip detikTravel dari South China Morning Post (SCMP), dua negara bagian di Malaysia itu tercatat mengalami kualitas udara yang memburuk. Menurut SCMP, penurunan kualitas udara ini disebabkan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang banyak terjadi di Indonesia, terutama di Sumatera dan Kalimantan.
Kabut asap mulai terlihat di wilayah Malaysia dan menyelimuti langit mulai Senin (10/8). Kabut asap tersebut menyebabkan indeks polusi udara (API) di Distrik Serian, Sarawak, mencapai angka 182. Pemerintah setempat pun mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas luar ruangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wakil Menteri Perhubungan Sarawak Henry Harry Jinep mengatakan pemerintah tidak dapat berbuat banyak dalam mengatasi kabut asap yang berasal dari negara tetangga.
"Ini bukan masalah yang terjadi sekali waktu saja. Ini terjadi hampir setiap tahun, dan sebagian besar berasal dari seberang perbatasan karena aktivitas di luar kendali kami," ujar Henry Harry Jinep.
Sementara itu, di Distrik Johan Setia di Selangor, angka API mencapai 152 dan menjadi yang tertinggi di Malaysia sejak Senin (10/8) siang. Malaysia menyatakan bahwa angka API antara 100-200 termasuk 'tidak sehat' dan yang melebihi 200 'sangat tidak sehat'. Apabila sudah mencapai angka tersebut, biasanya pemerintah menerapkan kebijakan pembatasan ketat pada aktivitas luar ruangan hingga penutupan sekolah.
Badan Meteorologi Malaysia juga memperingatkan bahwa cuaca panas dan curah hujan rendah akan terjadi hingga setidaknya Jumat (14/8) mendatang. Kondisi ini berpotensi memperparah kabut asap di negara bagian tertentu di Malaysia.
"Angin selatan dan banyaknya titik panas di negara tetangga berpotensi menyebabkan kabut asap lintas batas dan mengurangi jarak pandang, terutama di selatan Sarawak," demikian pernyataan badan tersebut.
Selangor dan Sarawak termasuk dua negara bagian di Malaysia yang kerap terdampak asap karhutla paling parah karena lokasinya yang dekat dengan Kalimantan dan Sumatera. Diketahui selama puncak kemarau tahun ini, berbagai wilayah di Sumatera bagian tengah dan Kalimantan mengalami karhutla yang lebih parah karena fenomena El Nino.
Menurut catatan, kabut asap menjadi masalah endemik sejak tahun 1970-an. Peristiwa kabut asap terburuk pernah terjadi pada 1997-1998 dan 2015. Pada kejadian ini, puluhan orang meninggal dan ribuan orang di tiga negara (Indonesia, Malaysia, dan Singapura) dirawat karena masalah pernapasan dan jantung imbas kabut asap karhutla.
Menyikapi asap yang mulai merambah negeri tetangga, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menyatakan pemerintah terus berupaya melakukan pemadaman. Pemadaman karhutla dilakukan dengan atau tidak adanya protes dari negara tetangga. Pemerintah memastikan terus melakukan upaya tersebut.
"Dan selain itu, juga langkah-langkah yang dilakukan oleh pemerintah seperti misalnya penguatan kesiapsiagaan patroli, kemudian pemadaman darat, water bombing, modifikasi cuaca itu semua terus dilakukan secara terpadu, termasuk juga langkah-langkah hukum," kata juru bicara (jubir) Kemlu, Vahd Nabyl, dalam jumpa pers di kantor Kemlu, Pejambon, Jakarta Pusat, Kamis (13/8/2026).
Pemerintah juga berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk langkah-langkah pencegahan dan juga penanganan demi meminimalisasi dampak asap karhutla bagi masyarakat dan lingkungan.
"Kita di Kementerian Luar Negeri berkoordinasi dengan berbagai kementerian yang lain dan juga dengan negara-negara lain, termasuk juga dengan memanfaatkan mekanisme pemantauan dan pertukaran informasi di bawah kerangka ASEAN yang memang sudah ada dengan kerangka ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution," ujarnya.
Baca selengkapnya di sini dan di sini.
