Udara Dua Daerah di Kalteng Masuk Kategori Tidak Sehat

Udara Dua Daerah di Kalteng Masuk Kategori Tidak Sehat

Sigit Pamungkas - detikKalimantan
Rabu, 12 Agu 2026 12:31 WIB
Karhutla terjadi di Kotawaringin Barat hingga menyebabkan asap tebal sempat mengepung Jalan Ahmad Yani Km 10, Sabtu (20/6/2026).
Karhutla di Kalteng/Foto: Sigit Pamungkas/detikKalimantan
Palangka Raya -

Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah (Kalteng) kembali naik. Hingga Selasa (11/8/2026) malam, 645 titik panas atau hotspot terdeteksi di sejumlah wilayah.

Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menjadi daerah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 189 titik. Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Kapuas dengan 114 titik panas.

Naiknya jumlah titik panas mulai berdampak terhadap kualitas udara di sejumlah daerah. Katingan dan Barito Selatan tercatat berada dalam kategori tidak sehat. Sementara enam wilayah lainnya masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pergerakan asap juga mulai memengaruhi jarak pandang di beberapa kawasan. Berdasarkan informasi BMKG, asap bergerak ke arah barat laut dan menyebabkan kondisi berkabut asap mulai terlihat di Buntok serta Muara Teweh.

Di dua wilayah tersebut, jarak pandang berada di kisaran 5 hingga 7 kilometer. Kondisi berbeda terjadi di Palangka Raya, Pangkalan Bun, dan Sampit yang masih relatif cerah dengan jarak pandang sekitar 9 hingga 10 kilometer.

Kotawaringin Barat bahkan menjadi salah satu wilayah dengan kondisi udara terbaik. Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di daerah tersebut tercatat 21 atau berada dalam kategori Baik.

Di tengah situasi tersebut, penanganan karhutla terus diperkuat pemerintah bersama tim gabungan. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Kalteng, Ahmad Toyib menyebut upaya dilakukan melalui pemadaman, penyekatan, pembasahan, pendinginan, patroli hingga pemantauan intensif dari jalur darat dan udara.

"Penanganan dilakukan melalui pemadaman, penyekatan, pembasahan, pendinginan, patroli, serta pemantauan secara intensif melalui jalur darat dan udara," kata Toyib dalam rilis resminya, Rabu (12/8/2026).

Namun, upaya pengawasan kualitas udara masih menghadapi kendala. Sistem pemantauan di Sukamara belum tersedia, sementara alat Air Quality Monitoring System (AQMS) di Pulang Pisau mengalami kerusakan. Adapun AQMS di Kapuas masih dalam tahap persiapan.

"Dengan kondisi tersebut, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama kelompok sensitif yang lebih rentan terdampak penurunan kualitas udara. Aktivitas karhutla dan arah pergerakan asap juga masih menjadi perhatian karena kondisi udara dapat berubah mengikuti perkembangan angin dan titik kebakaran," imbaunya.

Kalteng kini menghadapi dua tantangan sekaligus: menekan ratusan titik panas dan menjaga kualitas udara agar tidak semakin memburuk.

"Tim gabungan pun terus dikerahkan untuk mencegah api meluas dan dampak asap semakin dirasakan masyarakat," pungkasnya.



(sun/aau)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads