Karhutla di Kobar: 323 Hektare Lahan Hangus dan 300 Hotspot Terdeteksi

Kalimantan Tengah

Karhutla di Kobar: 323 Hektare Lahan Hangus dan 300 Hotspot Terdeteksi

Sigit Pamungkas - detikKalimantan
Rabu, 12 Agu 2026 10:01 WIB
Kebakaran di Kobar. (BPBD Kobar)
Foto: Kebakaran di Kobar. (BPBD Kobar)
Kotawaringin Barat -

Sepanjang 2026, tercatat ada ratusan kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tersebar di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah. Adapun total lahan terbakar mencapai 323,82 hektare.

Bukan hanya luasan lahan yang terbakar yang menjadi perhatian. Data SiPongi Kementerian Kehutanan juga mencatat sebanyak 300 titik panas atau hotspot terdeteksi di wilayah Kobar sepanjang tahun ini.

Kondisi tersebut menampakkan potensi kebakaran masih tinggi, terutama di tengah cuaca panas dan minim hujan yang melanda sejumlah wilayah Kalteng. Plt Kedaruratan dan Logistik BPBD Kobar, Adnan Santana, mengatakan berdasarkan rekapitulasi BPBD, hingga 2026 telah terjadi 155 kejadian karhutla.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Data rekapitulasi BPBD Kobar tahun 2026 mencatat ada 155 kejadian karhutla dengan total luas terbakar 323,82 hektare," kata Adnan, Rabu (12/8/2026).

Jika dilihat dari jumlah kejadian, Kecamatan Arut Selatan menjadi salah satu wilayah yang paling sering dilanda karhutla. Tercatat 79 kejadian dengan luas lahan terbakar mencapai 84,175 hektare.

Namun dari sisi luasan lahan yang terbakar, Kecamatan Kumai menjadi wilayah dengan angka paling besar. Sebanyak 52 kejadian karhutla tercatat di wilayah tersebut dengan total lahan terbakar mencapai 162,79 hektare.

"Sementara itu, Pangkalan Banteng mencatat 17 kejadian dengan luas lahan terbakar 11,75 hektare. Kotawaringin Lama mencatat lima kejadian dengan luasan 32,1 hektare."," ujarnya.

Kemudian Pangkalan Lada tercatat mengalami dua kejadian dengan luas lahan terbakar 7,505 hektare. Sedangkan Arut Utara berdasarkan rekapitulasi tercatat memiliki luasan lahan terbakar sekitar 25,5 hektare.

Ancaman karhutla juga tergambar dari persebaran titik panas. Arut Selatan menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni mencapai 120 titik.

"Disusul Kecamatan Kumai dengan 59 hotspot dan Pangkalan Banteng dengan delapan hotspot. Secara keseluruhan, SiPongi Kementerian Kehutanan mencatat 300 hotspot di seluruh wilayah Kobar sepanjang 2026," katanya.

Bagi BPBD, tingginya jumlah hotspot dan kejadian karhutla tersebut tidak bisa dianggap sebagai angka semata. Titik panas yang muncul berpotensi berkembang menjadi kebakaran apabila tidak segera ditangani, terlebih saat kondisi lahan kering dan angin cukup mendukung penyebaran api.

Karena itu, BPBD Kobar mengingatkan masyarakat agar tidak lengah. Upaya pencegahan dinilai jauh lebih penting sebelum api meluas dan membutuhkan penanganan lebih besar.

"Yang paling penting adalah pencegahan. Masyarakat kami imbau tidak melakukan pembakaran lahan sembarangan dan segera melaporkan apabila menemukan titik api," ujar Adnan.

BPBD Kobar bersama unsur terkait juga terus melakukan pemantauan terhadap wilayah yang dinilai rawan serta melakukan penanganan apabila ditemukan kebakaran.

"Dengan 155 kejadian karhutla, 323,82 hektare lahan terbakar, dan 300 hotspot sepanjang 2026, kondisi Kobar menjadi pengingat bahwa ancaman karhutla masih sangat nyata. Kewaspadaan masyarakat menjadi salah satu kunci agar titik api tidak berubah menjadi kebakaran besar yang sulit dikendalikan," pungkasnya.



(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads