Sebanyak 1.286 butir telur penyu yang ditemukan tak bertuan di dua lokasi di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, menjalani pemeriksaan kondisi dan identifikasi jenis. Hasilnya, sebagian telur masih menunjukkan tanda-tanda fertilitas dan berpeluang menetas, sementara telur lainnya dinilai sudah tidak memiliki peluang menetas.
Pemeriksaan dilakukan dokter hewan dari Yayasan Sealife Indonesia setelah proses serah terima barang bukti. Identifikasi dilakukan dengan mengukur diameter dan berat telur, sedangkan kondisi embrio diperiksa menggunakan metode candling.
Dokter hewan sekaligus Marine Megafauna Specialist Yayasan Sealife Indonesia, drh Dwi Suprapti, mengatakan pemeriksaan dilakukan terhadap telur dari dua lokasi berbeda, yakni Temajuk, Kecamatan Paloh, dan Pelabuhan Sintete, Kecamatan Pemangkat.
"Telur penyu temuan di Temajuk berukuran antara 3,53 hingga 4,16 sentimeter dengan berat antara 3,62 hingga 3,87 gram. Jika dilihat dari ukuran dan berat, telur dari Paloh tersebut cenderung pada jenis penyu hijau (Chelonia mydas)," kata Dwi, Sabtu (8/8/2026).
Sementara itu, telur yang ditemukan di kapal di Pelabuhan Sintete dan diduga berasal dari Kepulauan Riau memiliki dua kelompok ukuran. Telur berukuran lebih besar memiliki diameter sekitar 4,06-4,16 sentimeter dengan berat 3,73-3,97 gram. Karakteristik tersebut cenderung menunjukkan telur penyu hijau (Chelonia mydas). Sedangkan kelompok telur berukuran lebih kecil memiliki diameter 3,20-3,47 sentimeter dengan berat 2,38-2,59 gram. Karakteristiknya cenderung mengarah pada penyu sisik.
Selain mengidentifikasi jenis, tim juga melakukan candling. Metode ini dilakukan dengan meneropong telur menggunakan bantuan cahaya di ruangan gelap untuk melihat kondisi telur, termasuk pembuluh darah dan perkembangan embrio.
Hasilnya cukup berbeda antara telur dari Paloh dan telur yang diduga berasal dari Kepulauan Riau. Pada sampel telur asal Paloh, pemeriksaan candling menunjukkan adanya tanda-tanda fertilitas. Cangkang telur juga masih memiliki lendir alami dan pasir yang menempel.
Kondisi tersebut menunjukkan telur masih relatif baik dan memberikan peluang bagi embrio untuk berkembang apabila mendapatkan penanganan yang tepat.
"Terhadap telur penyu asal Paloh kami rekomendasikan untuk ditetaskan kembali atau diinkubasi menggunakan pasir pantai, yaitu pasir yang agak kasar. Kedalaman sarang untuk penyu hijau antara 50-70 sentimeter dengan suhu inkubasi antara 28-30 derajat Celsius," jelas Dwi.
Simak Video "Menemukan Lulur Alami dari Daun Aras di Kalimantan Barat"
(sun/des)