Kabut asap juga menyelimuti Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Sabtu (8/8/2026) pagi hingga siang. Kondisi tersebut membuat kualitas udara memburuk dan jarak pandang warga menurun.
Berdasarkan pemantauan kualitas udara dan titik panas, Indeks Kualitas Udara (AQI) di Palangka Raya tercatat mencapai 176 atau masuk kategori tidak sehat. Sementara jarak pandang hanya sekitar 2,5 kilometer akibat udara berkabut dan asap.
Kondisi tersebut sejalan dengan tingginya titik panas di Kalimantan Tengah. Data pemantauan mencatat terdapat 529 titik panas terdeteksi di seluruh Kalteng dengan perkiraan tersebar di sekitar 235 lokasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Khusus di Palangka Raya, terdapat 52 titik panas yang terdeteksi. Sebarannya berada di sejumlah wilayah, terutama Kecamatan Sebangau, Jekan Raya, dan Rakumpit.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Palangka Raya, Hendrikus Satria Budi, mengatakan memburuknya kualitas udara menjadi peringatan bahwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih tinggi. "Sebaran titik panas tersebut terpusat di Kecamatan Sebangau, Jekan Raya, dan Rakumpit," ujar Hendrikus, Sabtu (8/8/2026).
Menurutnya, cuaca dan banyaknya titik panas berpotensi memperburuk kualitas udara apabila kebakaran. Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan aktivitas pembakaran lahan yang dapat memicu munculnya titik api baru.
"BPBD juga mengajak masyarakat berperan aktif dengan segera melaporkan apabila menemukan titik api di sekitar lingkungan masing-masing," katanya.
Selain ancaman kebakaran, buruknya kualitas udara juga menjadi perhatian dari sisi kesehatan. Warga yang memiliki gangguan pernapasan, lansia, serta anak-anak diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan pelindung pernapasan saat harus beraktivitas di luar.
Di sisi lain, BPBD bersama tim gabungan terus melakukan upaya pemadaman terhadap titik-titik panas guna mencegah api meluas sekaligus mempercepat pemulihan kualitas udara di Kota Palangka Raya.
"Kami juga mengimbau masyarakat yang memiliki riwayat penyakit pernapasan, lansia, dan anak-anak agar membatasi aktivitas di luar ruangan serta menggunakan pelindung pernapasan," pungkasnya.
