Lonjakan kasus diare akut di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, menjadi perhatian serius. Dalam kurun waktu sekitar satu bulan, jumlah kasus meningkat hingga 165,2 persen, menandakan perlunya kewaspadaan masyarakat terhadap ancaman penyakit yang kerap muncul saat musim kemarau.
Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kobar menunjukkan pada Minggu Epidemiologi (M) ke-30 atau periode 19-25 Juli 2026, tercatat sebanyak 183 kasus diare akut. Angka tersebut bertambah 68 kasus dibandingkan pekan sebelumnya yang mencatat 115 kasus, atau meningkat sekitar 59,1 persen.
Kepala Dinas Kesehatan Kobar, Hardino, mengatakan tren kenaikan kasus terus terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Karena itu, masyarakat diminta lebih disiplin menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) untuk mencegah penyebaran penyakit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kasus diare akut menunjukkan tren meningkat. Kami mengimbau masyarakat menjaga kebersihan diri, mencuci tangan menggunakan sabun, serta memastikan air minum yang dikonsumsi aman," ujarnya, Jumat (7/8/2026).
Berdasarkan Dashboard Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) Dinkes Kobar per 5 Agustus 2026, peningkatan kasus sudah terlihat sejak M26. Saat itu tercatat 69 kasus, kemudian naik menjadi 84 kasus pada M27.
"Tren kenaikan berlanjut pada M28 dengan 117 kasus. Meski sempat turun tipis menjadi 115 kasus pada M29, lonjakan tajam kembali terjadi pada M30 hingga mencapai 183 kasus," kata dia.
Jika dibandingkan dengan M26, jumlah kasus pada M30 bertambah 114 kasus atau melonjak sekitar 165,2 persen. Selama periode M26 hingga M30, total sebanyak 568 kasus diare akut telah tercatat di wilayah Kobar.
Menurut Herdino, musim kemarau menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai. Berkurangnya ketersediaan air bersih, menurunnya kualitas sumber air, hingga meningkatnya risiko kontaminasi makanan dan minuman dapat memicu bertambahnya kasus diare.
"Untuk itu, masyarakat diimbau menggunakan air bersih yang aman, memasak makanan hingga matang, menggunakan jamban sehat, membuang sampah pada tempatnya, serta rutin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir," ujarnya.
Dinkes juga mengingatkan warga agar tidak menunda pemeriksaan ke fasilitas kesehatan apabila diare berlangsung lebih dari dua hari, disertai muntah terus-menerus, demam tinggi, tinja bercampur darah atau lendir, maupun muncul tanda-tanda dehidrasi. Penanganan sejak dini dinilai penting untuk mencegah kondisi yang lebih serius, terutama pada balita dan lansia.
