Harga BBM Eceran di Pelosok Kobar Meroket, Pertalite Bisa Rp 25 Ribu/Botol

Harga BBM Eceran di Pelosok Kobar Meroket, Pertalite Bisa Rp 25 Ribu/Botol

‎Sigit Pamungkas - detikKalimantan
Kamis, 06 Agu 2026 09:38 WIB
Harga BBM eceran di sejumlah pelosok Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah dikeluhkan warga. Harga pertalite yang dijual per botol disebut mencapai Rp 20.000 hingga Rp 25.000.
BBM eceran di pelosok Kobar/Foto: Sigit Pamungkas/detikKalimantan
Kotawaringin Barat -

Harga BBM eceran di sejumlah pelosok Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah dikeluhkan warga. Harga Pertalite yang dijual per botol disebut mencapai Rp 20.000 hingga Rp 25.000.

Salah satu warga Kobar, Ahmad Yani, menyebut harga tersebut ditemukan di Kecamatan Arut Utara. Menurutnya, warga terpaksa membeli BBM eceran dengan harga mahal.

"Pertalite per botol ada yang Rp 20 ribu bahkan ada yang menjual sampai Rp 25 ribu," kata Ahmad, Kamis (6/8/2026).


Menurut Ahmad, harga tinggi tersebut dianggap masuk akal oleh sebagian pengecer karena mereka juga mendapatkan BBM dengan harga mahal dari pemasok. Ada pemasok yang menjual BBM kepada pengecer dengan harga Rp 18.000 per liter.

"Ada juga yang menjual di atas Rp 20 ribu alasannya karena mereka antre berjam-jam dan barangnya susah didapat," ujarnya.

Sementara itu di Kecamatan Arut Selatan, khususnya wilayah dalam kota, pengecer lebih banyak menjual Pertamax. Harganya juga berada di kisaran Rp 20 ribu per botol.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Siti, warga Pasir Panjang, mengatakan dirinya mendapatkan Pertamax dari pemasok dengan harga bervariasi, sekitar Rp 17 ribu - Rp 18 ribu per liter. "Kalau Pertalite sudah tidak ada yang mengantar," ucapnya.

Kondisi tersebut mendapat sorotan dari Anggota DPRD Kobar Muhammad Isto Wahyuddin. Ia menilai DPRD bersama pemerintah daerah telah berupaya menangani persoalan antrean BBM.

"Saya minta Pertamina tegas, cabut izin SPBU nakal dan tangkap pelakunya. Kepolisian sudah bekerja sesuai porsinya dan sudah ada yang diamankan," kata Isro.

Pemerintah Kabupaten Kobar, lanjut Isro, juga telah memberikan imbauan, termasuk secara tertulis. Bahkan, pelaku yang melakukan pelanggaran telah diingatkan mengenai ancaman denda hingga kurungan.

Sementara itu, Sales Branch Manager ll Fuel Kalimantan PT Pertamina Putra Niaga, Lucky Haryanto menyampaikan, saat ini Pertamina melakukan pengawasan melalui digitalisasi SPBU. Mulai dari mobil tangki, stok, pengiriman hingga hingga proses pembongkaran BBM. Lucky juga menjelaskan kuota BBM bukan ditentukan Pertamina di daerah, melainkan regulator.

"Pertamina bertugas menyalurkan BBM sesuai kuota yang telah ditetapkan. Namun bagi masyarakat persoalan sederhana: BBM harus mudah diperoleh ketika dibutuhkan, bukan justru habis oleh pelangsir," katanya.



(sun/bai)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads