Dugaan celah penyalahgunaan sistem barcode pembelian BBM subsidi kembali mencuat di Kabupaten Kotawaringin Barat. Pengelola SPBU Bhakti di Jalan Pakunegara, Pangkalan Bun, mengaku pernah menemukan satu kendaraan yang diduga menggunakan dua barcode aktif dengan dua nomor polisi berbeda untuk membeli Pertalite.
Pengelola SPBU Bhakti, Jalan Pakunegara, Rudi, menceritakan kejadian tersebut terjadi ketika operator SPBU melayani sebuah mobil berwarna biru yang mengisi Pertalite senilai Rp400 ribu pada pagi hari menggunakan barcode dengan nomor polisi KH 1111 AB (bukan nomor sebenarnya sebagai contoh saja).
Namun, pada siang harinya, mobil yang sama kembali datang untuk mengisi Pertalite. Bedanya, kendaraan tersebut menunjukkan barcode berbeda dengan nomor polisi KH 1111 AG. Saat dipindai, barcode tersebut juga dinyatakan aktif dan transaksi berhasil dilakukan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Awalnya operator tidak menyadari. Setelah diingat-ingat, ternyata mobilnya sama seperti yang pagi datang mengisi BBM. Yang berbeda hanya barcode dan huruf terakhir pada nomor polisinya, dari AB menjadi AG. Dua-duanya saat discan sama-sama aktif," ungkap Rudi kepada detikKalimantan, Rabu (29/7/2026).
Menurutnya, temuan tersebut mengindikasikan adanya kemungkinan barcode MyPertamina dimanipulasi atau diretas sehingga satu kendaraan dapat menggunakan identitas berbeda untuk memperoleh BBM subsidi lebih dari ketentuan. Rudi mengaku kasus tersebut telah dilaporkan kepada pihak Pertamina agar dilakukan penelusuran lebih lanjut terhadap dugaan penyalahgunaan sistem.
Menanggapi informasi tersebut, Communication & Relation PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, Rendy, mengatakan pihaknya mengapresiasi informasi dari masyarakat dan media sebagai bahan pengawasan distribusi BBM bersubsidi.
"Menarik kalau memang itu bisa dibuktikan. Kalau ada indikasi mengakali sistem seperti itu, tentu menjadi perhatian. Kami juga berterima kasih atas informasi dari teman-teman media karena memang informasi seperti ini yang kami butuhkan untuk membantu pengawasan," ujarnya kepada detikKalimantan, Rabu sore.
Ia menambahkan, informasi tersebut telah diteruskan kepada Sales Branch Manager (SBM) untuk segera ditindaklanjuti sehingga pengawasan di SPBU terkait dapat diperketat. Rendy juga menilai dugaan praktik tersebut perlu mendapat perhatian aparat penegak hukum apabila ditemukan unsur pelanggaran atau tindak pidana.
"Kalau memang terbukti, silakan juga dilaporkan ke pihak kepolisian. Kami berharap ada tindak lanjut sehingga penyalahgunaan BBM subsidi bisa ditekan," katanya.
Menurutnya, praktik pengetapan BBM bersubsidi memang masih menjadi persoalan di berbagai daerah. Namun, banyak masyarakat yang belum mengetahui harus melapor ke mana ketika menemukan dugaan penyimpangan di lapangan.
Kasus dugaan penggunaan barcode ganda ini pun menjadi sorotan karena berpotensi merugikan penyaluran BBM subsidi yang seharusnya tepat sasaran. Hingga kini, Pertamina menyatakan akan menindaklanjuti laporan tersebut melalui evaluasi dan peningkatan pengawasan di SPBU yang bersangkutan.
Simak Video "Video: Pertalite Tercampur Air Bikin Motor Warga Tasikmalaya Mendadak Mogok"
[Gambas:Video 20detik] (des/des)
