Kenali Jenis, Gejala, dan Cara Mencegah Penyakit Hepatitis

Kenali Jenis, Gejala, dan Cara Mencegah Penyakit Hepatitis

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Selasa, 28 Jul 2026 06:00 WIB
hepatitis B
Ilustrasi hepatitis. Foto: Basith Subastian
Samarinda -

Indonesia mencatat penurunan kasus hepatitis dalam kurun 10 tahun, dari 2013-2023. Meski begitu, pengidap hepatitis masih menyentuh angka 6 juta jiwa di tahun 2023.

Penyakit yang menyerang organ hati ini paling sering disebabkan oleh infeksi virus hepatitis A, B, C, D, dan E. Menurut WHO, sekitar 2 miliar penduduk di dunia pernah terinfeksi hepatitis dan sekitar 1,4 juta orang meninggal setiap tahun akibat penyakit maupun komplikasinya.

Di Indonesia, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat sekitar 6,7 juta penduduk terinfeksi hepatitis B dan 2,5 juta terinfeksi hepatitis C, dua jenis hepatitis yang menjadi penyebab utama sirosis dan kanker hati.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berbagai program pencegahan menunjukkan hasil positif di Indonesia, ditandai dengan penurunan prevalensi hepatitis B dari 7,1% pada 2013 menjadi 2,4% pada 2023, disertai perluasan skrining ibu hamil, imunisasi hepatitis B bagi bayi baru lahir dan tenaga kesehatan, serta pemberian antivirus Tenofovir bagi ibu hamil yang memenuhi indikasi.

Akses deteksi dini dan pengobatan juga diperluas dengan adanya terapi Direct Acting Antiviral (DAA) yang mampu menyembuhkan lebih dari 95% pasien kini telah tersedia di puluhan rumah sakit di berbagai provinsi.

Hepatitis sendiri adalah kondisi ketika jaringan hati mengalami peradangan. Peradangan ini bisa berlangsung singkat (hepatitis akut) maupun bertahun-tahun (hepatitis kronis).

Hepatitis akut biasanya muncul secara tiba-tiba dan bisa sepenuhnya. Sebaliknya, hepatitis kronis berkembang perlahan dalam waktu yang lama. Kondisi kronis ini berbahaya karena dapat menyebabkan terbentuknya jaringan parut (fibrosis), sirosis hati, gagal hati, hingga kanker hati jika tidak ditangani dengan baik.

Untuk itu, yuk, kenali jenis, gejala, penyebab, dan cara mencegah penularan hepatitis untuk perlindungan diri sendiri.

Lima Jenis Virus Hepatitis

Ada lima jenis virus utama penyebab hepatitis, yaitu hepatitis A, B, C, D, dan E. Masing-masing berasal dari famili virus yang berbeda dan memiliki karakteristik, cara penularan, serta tingkat keparahan yang tidak sama. Melansir penjelasan Kementerian Kesehatan RI, berikut jenis-jenis virus hepatitis:

1. Hepatitis A

Hepatitis A disebabkan oleh Hepatitis A Virus (HAV), virus RNA yang termasuk genus Hepatovirus. Penularannya paling banyak melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi tinja penderita. Penyakit ini umumnya bersifat akut dan jarang berkembang menjadi kronis.

Risiko penularan meningkat khususnya di daerah dengan sanitasi buruk Gejala hepatitis A meliputi mual, demam, pusing, diare, nafsu makan menurun, sakit tenggorokan, serta maka dan kulit yang menguning.

2. Hepatitis B

Hepatitis B disebabkan oleh Hepatitis B Virus (HBV) yang berasal dari keluarga Hepadnaviridae. Virus DNA ini merupakan salah satu penyebab hepatitis kronis terbanyak di dunia. Penularannya terjadi melalui darah maupun cairan tubuh, antara lain:

  • Dari ibu ke bayi saat persalinan
  • Transfusi darah
  • Penggunaan jarum suntik bersama
  • Alat tato yang tidak steril
  • Hubungan seksual tanpa pengaman
  • Transplantasi organ

Sebagian penderita masih bisa sembuh sepenuhnya, tetapi sebagian lainnya berkembang menjadi hepatitis kronis. Gejala hepatitis B akut di antaranya kehilangan nafsu makan, mual dan muntah, demam, tubuh terasa lemas, nyeri otot, dan kulit menguning.

3. Hepatitis C

Hepatitis C disebabkan oleh Hepatitis C Virus (HCV) yang termasuk keluarga Flaviviridae. Penularannya hampir sama dengan hepatitis B, terutama melalui kontak darah, penggunaan jarum suntik bersama, transfusi darah yang tidak aman, hingga penularan dari ibu kepada bayi. Penderita biasanya mengalami gejala berupa nafsu makan menurun, mual, muntah, tubuh mudah lelah, serta penguningan pada mata dan kulit.

Sekitar 80% penderita hepatitis C berkembang menjadi hepatitis kronis. Perkembangannya perlahan, banyak penderita baru menyadari kondisinya setelah mengalami sirosis atau kanker hati. Diperkirakan sekitar 10-20 persen penderita kronis mengalami sirosis dalam 15-20 tahun, sedangkan 1-5 persen di antaranya berkembang menjadi kanker hati setiap tahun setelah sirosis terjadi.

4. Hepatitis D

Hepatitis D disebabkan oleh Hepatitis Delta Virus (HDV). Virus ini unik karena tidak bisa berkembang sendiri. HDV hanya dapat menginfeksi seseorang yang sudah terinfeksi hepatitis B sehingga dikenal sebagai infeksi koinfeksi atau superinfeksi.

Cara penularannya sama seperti hepatitis B, yaitu melalui darah dan cairan tubuh. Biasanya penderita akan mengalami nyeri di sendi, otot, dan perut. Selain itu, gejala lainnya berupa demam, mual, muntah, kehilangan nafsu makan, dan perubahan warna mata yang menjadi kuning. Hepatitis D ini bisa mempercepat pembentukan jaringan parut yang dapat menyebabkan kanker hati.

5. Hepatitis E

Hepatitis E disebabkan oleh Hepatitis E Virus (HEV) yang termasuk famili Hepeviridae. Penularannya terutama melalui makanan atau air yang tercemar virus. Gejala hepatitis E hampir sama dengan hepatitis A, yaitu demam ringan, mual, muntah, kehilangan nafsu makan, serta perubahan warna mata dan kulit yang menguning.

Sebagian besar penderita akan sembuh sendiri. Tetapi pada individu dengan daya tahan tubuh rendah maupun ibu hamil, hepatitis E dapat berkembang menjadi hepatitis akut berat hingga gagal hati.

Cara Mencegah Hepatitis

Lebih baik mencegah daripada mengobati, termasuk untuk penyakit hepatitis. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menekankan bahwa sebagian besar kasus hepatitis virus sebenarnya bisa dicegah melalui imunisasi, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat, serta deteksi dini pada kelompok berisiko.

Beberapa langkah pencegahan yang bisa dilakukan antara lain:

  • Vaksinasi hepatitis A dan hepatitis B di puskesmas
  • Menjaga kebersihan makanan dan air minum
  • Mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir
  • Menghindari berbagi barang pribadi yang berpotensi terpapar darah
  • Melakukan hubungan seksual yang aman
  • Memastikan alat medis maupun alat tato dan tindik dalam kondisi steril
  • Menghindari konsumsi alkohol berlebihan dan menjaga kesehatan hati
  • Melakukan skrining hepatitis bagi kelompok berisiko

Segeralah periksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala seperti mata dan kulit menguning, mual muntah yang tidak membaik, nyeri hebat di perut kanan atas, urin berwarna gelap, atau tubuh terasa sangat lemah.

Deteksi dini sangat penting untuk menekan komplikasi ke organ-organ lain yang dapat memperparah diagnosis. Jika mengalami tanda-tanda di atas, pastikan detikers langsung memeriksakan diri ke rumah sakit atau puskesmas terdekat, ya!



(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads