Cara Cegah Diare pada Anak, Orang Tua Wajib Tahu

Cara Cegah Diare pada Anak, Orang Tua Wajib Tahu

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Minggu, 26 Jul 2026 06:01 WIB
Ilustrasi Anak Diare
Foto: iStock
Samarinda -

Diare masih menjadi salah satu penyakit yang paling sering menyerang anak-anak di Indonesia. Bila tidak ditangani dengan tepat, diare bisa berbahaya karena kehilangan cairan tubuh dalam jumlah banyak dapat menyebabkan dehidrasi, bahkan sampai berisiko mengancam nyawa.

Untungnya, masyarakat Indonesia menyadari bahaya diare pada anak. Berdasarkan Survei UNICEF-Nielsen Kuartal IV Tahun 2025 yang melibatkan 2.000 responden di Medan, Jabodetabek, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Makassar, 42 persen responden menyebut diare sebagai penyakit yang paling banyak menyebabkan kematian pada balita.

Dengan pola cuaca yang tidak menentu seperti saat ini, risiko diare pada anak biasanya meningkat. Oleh karena itu, orang tua perlu memahami penyebab, gejala, cara penanganan, hingga langkah-langkah pencegahannya agar kesehatan si kecil tetap terjaga.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penyebab Diare pada Anak

Diare merupakan kondisi ketika frekuensi buang air besar meningkat dan feses menjadi lebih cair dari biasanya. Pada anak, diare umumnya terjadi karena infeksi saluran pencernaan.

Sebagian besar kasus diare memang bisa sembuh dengan sendirinya dalam beberapa hari. Namun, pada bayi dan balita, diare dapat dengan cepat menyebabkan kehilangan cairan tubuh sehingga memerlukan perhatian khusus.

Hal yang paling dikhawatirkan bukan hanya frekuensi buang air besar, melainkan risiko dehidrasi akibat tubuh kehilangan banyak cairan dan elektrolit. Penyebab diare pada anak juga cukup beragam. Yang paling sering adalah infeksi virus atau bakteri yang menyerang saluran pencernaan.

Dilansir dari penjelasan Kemenkes RI, beberapa penyebab diare yang paling sering terjadi antara lain:

  • Infeksi virus, terutama rotavirus
  • Infeksi bakteri, seperti Salmonella, Escherichia coli, dan Shigella
  • Infeksi parasit, misalnya Giardia
  • Konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi kuman
  • Kebersihan lingkungan dan sanitasi yang kurang baik
  • Intoleransi terhadap makanan tertentu, misalnya intoleransi laktosa
  • Alergi makanan
  • Efek samping obat-obatan tertentu, terutama antibiotik
  • Keracunan makanan
  • Gangguan fungsi saluran pencernaan
  • Penyakit usus kronis seperti penyakit Crohn, kolitis ulseratif, maupun penyakit celiac

Lingkungan yang kurang bersih menjadi salah satu faktor risiko terbesar penyebab diare pada anak. Anak-anak cenderung lebih sering memasukkan tangan atau benda ke mulut sehingga lebih mudah terpapar mikroorganisme penyebab penyakit.

Gejala Diare pada Anak

Selain buang air besar dengan tekstur cair, diare biasanya disertai beberapa gejala lain. Melansir dari laman One Health, orang tua perlu mewaspadai apabila anak mengalami:

  • Demam
  • Menggigil
  • Nyeri atau kram perut
  • Mual dan muntah
  • Perut terasa kembung
  • Buang air besar berulang kali dan sulit ditahan
  • Feses bercampur darah
  • Tubuh tampak lemas
  • Haus berlebihan
  • Bibir dan mulut kering
  • Mata tampak cekung
  • Frekuensi buang air kecil berkurang

Gejala-gejala di atas mengarah pada dehidrasi, yaitu kondisi ketika tubuh kehilangan lebih banyak cairan daripada yang masuk. Jika dehidrasi menjadi berat, tekanan darah menurun, fungsi jantung dan paru-paru terganggu, hingga menyebabkan syok yang memerlukan penanganan lebih lanjut.

Jenis Diare pada Anak

Berdasarkan lamanya berlangsung, diare dibedakan menjadi dua jenis, yaitu diare akut dan diare kronis. Diare akut berlangsung sekitar satu hingga dua hari, walau pada beberapa anak dapat berlangsung hingga kurang dari dua minggu. Penyebab tersering adalah infeksi virus, bakteri, atau makanan yang terkontaminasi.

Sementara itu, diare kronis berlangsung selama beberapa minggu atau berulang dalam waktu lama. Kondisi ini biasanya berkaitan dengan gangguan kesehatan tertentu, contohnya sindrom iritasi usus besar (IBS), penyakit Crohn, kolitis ulseratif, penyakit celiac, dan berbagai gangguan penyerapan nutrisi lainnya.

Cara Mengatasi Diare pada Anak

Penanganan diare bergantung pada penyebab dan tingkat keparahannya. Kemenkes RI telah merilis langkah-langkah yang harus dilakukan ketika anak mengalami diare. Berikut langkah-langkahya:

  • Tetap berikan cairan dalam jumlah cukup agar anak tidak mengalami dehidrasi
  • Berikan larutan oralit atau larutan elektrolit-glukosa karena kandungan garam dan gulanya membantu menggantikan cairan tubuh yang hilang
  • Air kelapa juga bisa diberikan untuk membantu memenuhi kebutuhan cairan
  • Hindari memberikan minuman bersoda maupun jus dengan kadar gula tinggi karena dapat memperparah diare
  • Pada bayi berusia di bawah enam bulan, tetap berikan ASI atau susu formula sesuai anjuran dokter
  • Berikan makanan bergizi yang mudah dicerna apabila anak sudah mulai mau makan
  • Pemberian zinc sesuai anjuran dokter dapat membantu mempercepat pemulihan dan mengurangi risiko diare berulang
  • Antibiotik hanya diberikan apabila penyebab diare terbukti akibat infeksi bakteri dan harus berdasarkan resep dokter

Para orang tua tidak dianjurkan memberikan obat anti-diare secara sembarangan kepada anak tanpa pemeriksaan dokter karena beberapa jenis obat justru dapat memperburuk kondisi.

Cara Mencegah Diare pada Anak

Sebagian besar kasus diare pada anak sebenarnya bisa kita cegah dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Beberapa langkah yang penting untuk dilakukan antara lain:

  1. Memberikan vaksin rotavirus sesuai jadwal imunisasi
  2. Membiasakan anak mencuci tangan menggunakan sabun sebelum makan dan setelah buang air besar
  3. Menjaga kebersihan kamar mandi serta lingkungan rumah
  4. Mencuci buah dan sayuran hingga bersih sebelum dikonsumsi
  5. Mencuci peralatan memasak setelah digunakan, terutama yang bersentuhan dengan daging mentah
  6. Segera menyimpan daging mentah di lemari pendingin setelah dibeli
  7. Memastikan susu yang dikonsumsi telah melalui proses pasteurisasi
  8. Menghindari pemberian daging, ikan, maupun telur yang belum matang sempurna
  9. Menyediakan makanan yang bersih, bergizi, dan dimasak dengan baik
  10. Membatasi konsumsi jajanan yang kebersihannya belum terjamin

Diare yang disertai tanda-tanda seperti berlangsung lebih dari dua hari, muntah terus-menerus, feses bercampur dengan darah, demam tinggi, dan kejang harus segera ditangani lebih lanjut oleh tim medis. Semakin cepat anak mendapatkan pertolongan, semakin kecil risiko terjadinya komplikasi akibat dehidrasi.

Yang tidak kalah penting, detikers sebagai orang tua perlu mengenali tanda-tanda dehidrasi sejak dini. Jangan menunggu kondisi anak semakin parah, lalu mencari pertolongan medis.

Dengan pencegahan yang tepat dan penanganan sejak awal, risiko komplikasi akibat diare dapat diminimalkan sehingga tumbuh kembang anak tetap berjalan optimal. Semoga bermanfaat!



(aau/aau)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads