Musim kemarau di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) diperkirakan masih akan berlangsung hingga November 2026. Warga pun diminta meningkatkan kewaspadaan karena sedikitnya ada lima penyakit yang berpotensi meningkat selama cuaca panas dan kering.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas II Iskandar Kotawaringin Barat menyebut kondisi tersebut dipengaruhi kombinasi musim kemarau, aktifnya Monsun Australia, serta fenomena El Nino moderat yang masih berlangsung.
BMKG Kobar Prediksi Kemarau hingga November, Warga Perlu Waspada Hal Ini. (Sigit Pamungkas) |
Forecaster BMKG Kobar, Ayu Istiqomah, menjelaskan wilayah Kobar saat ini telah memasuki musim kemarau. Kondisi itu ditandai dengan semakin berkurangnya intensitas hujan dan meningkatnya suhu udara pada siang hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Ayu, aktifnya Monsun Australia membawa massa udara kering melintasi Indonesia, termasuk Kalimantan Tengah. Akibatnya, pembentukan awan hujan menjadi terhambat sehingga cuaca cerah lebih sering terjadi.
"Selain itu, kelembapan udara hingga lapisan atmosfer bagian atas tercatat berada di bawah 50 persen. Kondisi tersebut membuat panas matahari terasa lebih menyengat karena minimnya tutupan awan yang dapat meredam radiasi sinar matahari," ujarnya, Kamis (23/7/2026).
BMKG juga mencatat fenomena El Nino moderat masih aktif dan ikut memperkuat musim kemarau di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Kotawaringin Barat. Dampaknya, curah hujan diperkirakan tetap berada di bawah kondisi normal dalam beberapa bulan ke depan.
"El Nino moderat yang sedang aktif turut menyebabkan pengurangan curah hujan sehingga musim kemarau terasa lebih dominan," ujar Ayu.
BMKG memprakirakan musim kemarau di Kotawaringin Barat telah dimulai sejak Juni dasarian III dan akan berlangsung sekitar 13 hingga 15 dasarian. Dengan kondisi tersebut, musim kemarau diperkirakan baru berakhir pada Oktober hingga November 2026.
"Sementara itu, puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada September. Pada periode tersebut, suhu udara berpotensi semakin tinggi, sedangkan peluang hujan masih tergolong rendah," kata dia.
Warga Kobar Waspada Dampak Kemarau
BMKG mengingatkan masyarakat agar mewaspadai berbagai dampak musim kemarau, mulai dari kekeringan, berkurangnya ketersediaan air bersih, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Sementara itu dari sisi kesehatan, Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kobar, Hardino, mewanti-wanti warga waspada berbagai penyakit salah satunya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
"Selama musim kemarau kami mengimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap penyakit yang sering muncul. Cuaca panas, udara kering, dan debu dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan," ujar Hardino, Kamis (23/7/2026).
Menurutnya, penyakit yang paling rentan menyerang saat musim kemarau adalah ISPA. Udara yang kering dan banyak mengandung debu dapat mengiritasi saluran pernapasan, terutama pada anak-anak, lansia, dan masyarakat yang memiliki penyakit penyerta.
Hardino mengimbau masyarakat menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, terutama ketika kondisi berdebu. Selain itu, warga juga diminta mengurangi paparan asap dan menjaga kebersihan lingkungan untuk menekan risiko ISPA.
Selain ISPA, masyarakat juga diminta mewaspadai diare dan keracunan makanan. Suhu udara yang tinggi membuat makanan lebih cepat rusak sehingga bakteri berkembang lebih cepat, terlebih jika kebersihan makanan dan air minum tidak terjaga.
"Pastikan makanan dimasak hingga matang, biasakan mencuci tangan menggunakan sabun sebelum makan, dan gunakan air bersih yang aman untuk dikonsumsi agar terhindar dari diare," katanya.
Ia juga mengingatkan bahaya dehidrasi dan heatstroke yang dapat terjadi akibat tubuh kehilangan banyak cairan saat cuaca sangat panas. Kondisi tersebut tidak boleh dianggap sepele karena dapat mengancam keselamatan apabila tidak segera ditangani.
Hardino menyarankan masyarakat memperbanyak minum air putih sedikitnya dua liter setiap hari, mengenakan pakaian yang nyaman, serta menghindari aktivitas fisik berat saat matahari sedang terik, terutama pada siang hari.
"Masyarakat juga sebaiknya menggunakan kacamata pelindung saat berkendara atau beraktivitas di luar ruangan, serta menghindari kebiasaan mengucek mata dengan tangan yang belum bersih," tutupnya.

