2.844 Hotspot Terdeteksi di Kalteng, 3.069 Hektare Lahan Terbakar

2.844 Hotspot Terdeteksi di Kalteng, 3.069 Hektare Lahan Terbakar

Sigit Pamungkas - detikKalimantan
Rabu, 22 Jul 2026 19:00 WIB
Karhutla Mengganas di Kotim
Karhutla di Kotim/Foto: Istimewa
Palangka Raya -

Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah (Kalteng) semakin serius memasuki puncak musim kemarau. Data Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPB-PK) Kalteng menunjukkan 2.844 titik panas (hotspot) dan 563 kejadian kebakaran di berbagai wilayah.

Data Pusdalops PB Kalteng menunjukkan luas lahan yang terbakar berdasarkan laporan lapangan mencapai 852,58 hektare. Namun, hasil verifikasi menggunakan citra satelit Landsat 8 yang dipadukan dengan sebaran hotspot serta pemeriksaan langsung oleh Manggala Agni KLHK, mengungkap luas area terdampak kebakaran telah mencapai 3.069,52 hektare.

Kepala Pelaksana BPB-PK Kalteng, Ahmad Toyib, mengatakan naiknya angka kasus kebakaran dipengaruhi cuaca yang semakin kering hampir di seluruh wilayah provinsi.
Meski penanganan terus diperkuat dengan mengerahkan 94 personel gabungan dan empat helikopter water bombing, tantangan medan serta cepatnya penyebaran api masih menjadi hambatan utama dalam upaya pemadaman.

Karhutla di Kalimantan Tengah (Kalteng)Karhutla di Kalimantan Tengah (Kalteng)/ Foto: Istimewa



"Pergerakan api sangat cepat karena vegetasi mulai mengering. Seluruh satgas di tingkat provinsi maupun kabupaten telah diinstruksikan tetap siaga penuh untuk mendukung target Kalteng Bebas Kabut Asap 2026," ujar Toyib, Selasa (22/7/2026).

"Kabupaten Kotawaringin Timur menjadi daerah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 401 titik. Posisi berikutnya ditempati Lamandau dengan 374 titik, Kapuas 365 titik, dan Katingan 356 titik," imbuhnya.

Menurut Toyib, deteksi dini menjadi strategi paling efektif agar titik api dapat segera dilokalisasi sebelum meluas dan menimbulkan kerusakan lebih besar.
Ia juga mengingatkan bahwa pengendalian karhutla bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan peran aktif seluruh elemen masyarakat, aparat keamanan, dunia usaha, hingga pemerintah daerah.

"Melalui kolaborasi yang kuat, kami optimistis risiko kebakaran dan dampak kabut asap selama musim kemarau tahun ini dapat ditekan," tegasnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



(sun/des)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads