18 Hari Karhutla di Kotim Belum Padam, Water Bombing Dikebut

Kalimantan Tengah

18 Hari Karhutla di Kotim Belum Padam, Water Bombing Dikebut

Sigit Pamungkas - detikKalimantan
Selasa, 21 Jul 2026 11:01 WIB
Petugas BPBD Kotawaringin Timur berjuang memadamkan api karhutla. (dok BPBD Kotim)
Foto: Petugas BPBD Kotawaringin Timur berjuang memadamkan api karhutla. (dok BPBD Kotim)
Kotawaringin Timur -

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Eka Bahurui, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), masih menjadi ancaman serius. Memasuki hari ke-18 sejak pertama kali terpantau pada 3 Juli 2026, api belum juga berhasil dipadamkan dan terus bergerak di bawah permukaan gambut.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim, Multazam, mengatakan hingga Selasa (21/7/2026), kepulan asap masih terlihat membumbung dari lokasi kebakaran. Helikopter water bombing terus dikerahkan untuk membantu menekan kobaran api dari udara.

"Kalau dihitung sejak 3 Juli sampai hari ini, sudah sekitar 18 hari. Api masih aktif dan menjadi perhatian kami," ujarnya, Selasa (21/7/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Multazam, karakteristik lahan gambut menjadi tantangan terbesar dalam penanganan karhutla. Meski permukaan sudah disiram berkali-kali, bara api masih bertahan dan merambat di bawah tanah sehingga kebakaran terus meluas menuju belakang Desa Eka Bahurui hingga ke arah Jalan Poros dan kawasan yang berbatasan dengan Desa Pembuang Makmur.

Hasil pemantauan menggunakan pesawat nirawak (drone) pada Selasa pagi, asap tebal masih mengepul dari sejumlah titik. Kondisi tersebut menjadi indikasi bahwa api di lapisan gambut belum sepenuhnya padam.

"Tadi pagi saya melakukan ground check menggunakan drone. Dari udara terlihat kepulan asap cukup tebal. Itu menandakan api masih aktif di bawah tanah dan harus segera dipotong agar tidak meluas," katanya.

Menghadapi kondisi itu, BPBD mengubah strategi penanganan. Fokus utama bukan lagi memadamkan seluruh area yang terbakar, melainkan memutus jalur perambatan api agar kebakaran tidak terus meluas ke kawasan hutan maupun lahan milik masyarakat.

Strategi tersebut sebelumnya diterapkan saat menangani karhutla di Kelurahan Baamang Hulu dan kini kembali digunakan di kawasan Kuda Marlih, salah satu wilayah yang sejak lama dikenal sebagai titik rawan kebakaran.

Selain pemadaman, BPBD bersama pemerintah desa dan kelompok masyarakat peduli api memperkuat upaya mitigasi dengan mengajak warga menyiapkan embung portabel berbahan terpal di kebun masing-masing. Air dari parit atau saluran diharapkan dapat ditampung sebagai cadangan apabila sewaktu-waktu terjadi kebakaran.

"Kami berharap masyarakat bisa menyiapkan sumber air sederhana di kebunnya. Dengan begitu, penanganan awal bisa dilakukan lebih cepat sebelum api membesar," jelas Multazam.

Kendala terbesar yang dihadapi petugas di lapangan adalah minimnya sumber air. Tinggi muka air di parit sekitar lokasi hanya berkisar 35 hingga 40 sentimeter dan tidak mengalir, sehingga pemadaman menggunakan pompa portabel menjadi kurang maksimal. Petugas harus membentangkan sekitar 26 gulung selang atau hampir 750 meter untuk menjangkau titik api yang berada jauh di tengah kawasan berhutan.

"Meski demikian, operasi water bombing dinilai masih efektif membantu menekan intensitas kebakaran. Penggunaan helikopter dilakukan secara bergantian karena juga harus mendukung penanganan karhutla di sejumlah daerah lain di Kalimantan Tengah, seperti Kabupaten Pulang Pisau dan Kapuas," imbuhnya.

Berdasarkan data BPBD Kotim, luas lahan yang terbakar di Desa Eka Bahurui dan sekitarnya diperkirakan telah mencapai lebih dari delapan hektare. Hingga kini, tim gabungan terus berjibaku agar api tidak merambat ke kebun warga maupun kawasan hutan yang lebih luas.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Capek, Seru, Nagih! Cerita Pelari di Bhayangkara Run 2026"
[Gambas:Video 20detik] (des/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads