Kenapa di Kalimantan Sering Terjadi Karhutla? Cek 3 Alasannya

Kenapa di Kalimantan Sering Terjadi Karhutla? Cek 3 Alasannya

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Senin, 20 Jul 2026 16:00 WIB
Ilustrasi kebakaran hutan Kalimantan
Foto: Ilustrasi kebakaran hutan Kalimantan (Dok. detikcom/Generated AI)
Samarinda -

Setiap musim kemarau tiba, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hampir selalu mengintai wilayah Kalimantan. Di tahun 2026, Kalimantan Barat tercatat sebagai provinsi dengan luas karhutla terbesar di Indonesia.

Data Sistem Pemantauan Karhutla Kementerian Kehutanan (SiPongi) menunjukkan, hingga periode Januari-Juli 2026, luas lahan yang terbakar di Kalimantan Barat telah mencapai 28.216,31 hektare, hampir dua kali lipat dibandingkan Riau yang berada di posisi kedua dengan 15.318,03 hektare.

Sementara di Pulau Kalimantan, Kalimantan Tengah mencatat luas karhutla 2.915,11 hektare, Kalimantan Timur 1.276,29 hektare, Kalimantan Utara 196,59 hektare, dan Kalimantan Selatan 107,39 hektare. Lantas, mengapa Kalimantan begitu sering mengalami kebakaran hutan dan lahan? Berikut penjelasan lengkapnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kenapa Sering Terjadi Karhutla di Kalimantan

1. Kalimantan Memiliki Lahan Gambut yang Sangat Luas

Salah satu alasan Kalimantan rentan mengalami karhutla adalah keberadaan lahan gambut yang luas, terutama di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Berbeda dengan tanah biasa, gambut terbentuk dari tumpukan sisa-sisa tumbuhan yang terakumulasi selama ribuan tahun.

Ketika masih basah, gambut mampu menyimpan air dalam jumlah besar. Namun ketika memasuki musim kemarau, lapisan ini akan mengering dan berubah menjadi bahan yang sangat mudah terbakar.

Yang membuat kebakaran gambut lebih berbahaya adalah api tidak hanya membakar permukaan tanah, tapi juga merambat di bawah permukaan. Akibatnya bara api bertahan selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Proses pemadaman pun menjadi jauh lebih sulit dibanding kebakaran hutan biasa.

Selain itu, dalam kondisi alami, gambut selalu berada dalam keadaan basah. Nah, ketika kawasan gambut dikeringkan karena pembangunan kanal atau perubahan tata guna lahan, permukaan air tanah ikut menurun.

Akibatnya, gambut kehilangan fungsi alaminya sebagai penyimpan air dan menjadi sangat mudah terbakar ketika musim kemarau datang. BMKG juga menjelaskan bahwa salah satu strategi pencegahan karhutla adalah menjaga tinggi muka air tanah melalui pembasahan kembali. Upaya tersebut terbukti mampu mengurangi risiko kebakaran di sejumlah wilayah gambut.

2. Musim Kemarau Membuat Vegetasi Semakin Kering

Musim kemarau yang terjadi setiap tahunnya juga menjadi pemicu utama. Apalagi saat krisis iklim eperti saat ini, musim kemarau berlangsung jauh lebih lama dari biasanya. Hal ini lah yang berdampak pada peningkatan risiko karhutla.

BMKG menjelaskan bahwa pada musim kering, kelembapan tanah menurun, vegetasi mengering, dan lahan jadilebih mudah terbakar. Pada tahun-tahun tertentu, termasuk tahun ini, kondisi tersebut bisa diperparah oleh fenomena El NiΓ±o yang menyebabkan curah hujan semakin berkurang.

Karena itu, Kalimantan biasanya mulai memasuki periode rawan karhutla pada Juli hingga September, bertepatan dengan puncak musim kemarau. BMKG juga menyampaikan jika kemarau dan El NiΓ±o merupakan dua fenomena yang berbeda. Tetapi ketika keduanya terjadi bersamaan, kondisi menjadi jauh lebih kering sehingga potensi karhutla meningkat drastis.

3. Pembukaan Lahan dengan Cara Dibakar

Selain faktor alam, aktivitas manusia juga menjadi penyebab utama karhutla. Pembukaan lahan menggunakan api masih ditemukan karena dianggap lebih cepat dan murah. Masalahnya, api yang awalnya digunakan untuk membuka lahan sering kali tidak terkendali, terutama ketika cuaca sedang panas dan angin bertiup kencang.

Di kawasan bergambut, api menyebar melalui lapisan bawah tanah tanpa terlihat dari permukaan. Kondisi ini membuat kebakaran mudah meluas ke area lain. Karena itu, jangan sekali-kali mencoba membuka lahan dengan cara membakar karena dampaknya bisa sangat membahayakan.

Dampak Karhutla Tidak Hanya Merusak Hutan

Bukan hanya menurunkan luas tutupan hutan, karhutla juga berdampak langsung kepada masyarakat. Kabut asap bisa menurunkan kualitas udara, memicu gangguan pernapasan, menghambat jalur transportasi, dan jika begitu parah dapat mengganggu kegiatan belajar mengajar.

Dari sisi lingkungan, kebakaran menyebabkan hilangnya habitat satwa liar, meningkatnya emisi karbon, serta menurunkan kualitas ekosistem gambut. Kalimantan dengan keragaman biodiversitasnya bisa menurun jika karhutla tidak ditangani dengan cepat.

Oleh karena itu, pencegahan karhutla tidak cukup hanya dilakukan saat kebakaran sudah terjadi, tetapi harus dimulai jauh sebelum musim kemarau melalui pengelolaan gambut, pemantauan titik panas atau hotspot, serta edukasi kepada masyarakat.

Untuk masyarakat, mulai sekarang yuk cegah karhutla dengan tidak melakukan pembakaran di sekitar area hutan. Jangan buang rokok yang masih menyala sembarangan, dan ketika melihat titik api di sekitar hutan, segera hubungi BPBD atau Dinas Kehutanan setempat.

Halaman 2 dari 2
(des/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads