Musim kemarau yang mulai memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah mulai menunjukkan dampaknya terhadap kualitas udara. Meski belum ada daerah yang masuk kategori tidak sehat, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kalimantan Tengah menyebut tren kualitas udara terus menurun.
Berdasarkan pemantauan Air Quality Monitoring System (AQMS) hingga Jumat (17/7) pukul 17.00 WIB di sembilan kabupaten/kota, kualitas udara masih berada pada kategori baik hingga sedang. Namun, dibandingkan beberapa waktu lalu, sejumlah wilayah mulai mengalami penurunan akibat meningkatnya aktivitas karhutla.
Kepala DLH Provinsi Kalimantan Tengah, Joni Harta, mengatakan hasil pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) menunjukkan kondisi udara saat ini memang masih relatif aman, tetapi perubahan mulai terlihat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Data terbaru menunjukkan kualitas udara masih berada pada kategori baik dan sedang. Namun, dalam beberapa hari terakhir terjadi pergeseran dari kategori baik menjadi sedang," ujarnya, Sabtu (18/7/2026).
Data DLH mencatat Kabupaten Kotawaringin Barat menjadi daerah dengan kualitas udara terbaik dengan nilai ISPU 18 berdasarkan parameter nitrogen dioksida (NO₂), yang masih masuk kategori baik. Sementara Kabupaten Gunung Mas mencatat nilai ISPU 54 atau kategori sedang.
"Kabupaten Barito Selatan dan Murung Raya masing-masing berada pada angka 93 dengan kategori sedang. Adapun Kabupaten Katingan mencatat nilai ISPU 86 yang masih tergolong baik," katanya.
Meski demikian, pemantauan di Kabupaten Kapuas, Kotawaringin Timur, Kota Palangka Raya, dan Kabupaten Pulang Pisau belum dapat diperbarui karena alat AQMS mengalami kerusakan dan masih menunggu proses pemeliharaan dari Kementerian Lingkungan Hidup.
"Sementara itu, lima daerah lainnya yakni Barito Utara, Barito Timur, Lamandau, Seruyan, dan Sukamara hingga kini belum memiliki alat pemantau kualitas udara secara real time," ujarnya.
Joni menegaskan, kebakaran hutan dan lahan masih menjadi faktor utama yang menyebabkan kualitas udara menurun. Kondisi tersebut diperparah oleh suhu tinggi selama musim kemarau serta aktivitas manusia yang turut menyumbang pencemaran udara.
"Belum ada kabupaten atau kota yang kualitas udaranya masuk kategori tidak sehat. Namun jika karhutla semakin meluas dan jumlah hotspot meningkat, kualitas udara berpotensi memburuk," tegasnya.
Mengantisipasi kondisi tersebut, DLH Kalteng terus menggencarkan sosialisasi pencegahan karhutla melalui pemasangan spanduk dan edukasi kepada masyarakat di berbagai daerah.
DLH juga mengimbau masyarakat mulai menggunakan masker apabila kualitas udara terus menurun, mengurangi aktivitas di luar ruangan, tidak melakukan pembakaran sampah maupun lahan, memperbanyak konsumsi air putih, serta menyiapkan obat-obatan bagi penderita penyakit pernapasan dan jantung.
"Apabila kualitas udara terus memburuk, masyarakat diharapkan segera melakukan langkah-langkah mitigasi agar dampaknya terhadap kesehatan dapat diminimalkan," kata Joni.
Di sisi lain, BPBD Kota Palangka Raya melaporkan kualitas udara di ibu kota provinsi masih berada pada kategori sedang dengan Air Quality Index (AQI) berkisar 72 hingga 92. Konsentrasi polutan PM2.5 tercatat sekitar 23 mikrogram per meter kubik, sehingga kondisi udara masih relatif aman meski perlu diwaspadai.
Manajer Pusat Pengendali Operasi (Pusdalops) BPBD Kota Palangka Raya, Balap, mengungkapkan sejak 1 Juni 2026 hingga pertengahan Juli telah terjadi 31 kejadian karhutla di wilayah tersebut. Kecamatan Jekan Raya menjadi kawasan dengan jumlah kejadian terbanyak, disusul Sabangau yang juga masuk wilayah paling rawan kebakaran.
BPBD kembali mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membakar sampah di area terbuka, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta memastikan tidak ada api yang ditinggalkan saat beraktivitas di kawasan hutan maupun lahan gambut. Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah kualitas udara semakin memburuk selama puncak musim kemarau.
Simak Video "Video Situasi Karhutla Terkini: Titik Api di Kalimantan Naik, Sumatera Turun"
[Gambas:Video 20detik] (bai/bai)
