Sekitar lima hektare lahan terbakar di Desa Kuala Dua, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Kamis (16/7/2026). Lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ini berada di sekitar jalur aktivitas penerbangan Bandara Supadio, sehingga menjadi perhatian serius petugas.
Manggala Agni bersama Satgas Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhutla) Kalbar langsung mengerahkan personel darat dan patroli udara untuk mencegah api agar tidak semakin meluas.
Pemadaman dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri dari Manggala Agni Daops Kalimantan VIII/Pontianak, Brigade Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kubu Raya, serta Masyarakat Peduli Api (MPA). Petugas melakukan pembasahan di titik api dan area sekitarnya guna mencegah kebakaran merembet ke kawasan lain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Kalimantan, Yudho Shekti Mustiko mengatakan, operasi pemadaman difokuskan di dua lokasi, yakni Desa Mekar Sari dan Desa Kuala Dua, Kecamatan Sungai Raya.
"Kami terus berupaya melokalisir area terbakar agar api tidak meluas, mengingat lokasi tersebut berada di sekitar jalur aktivitas penerbangan Bandara Supadio Pontianak," kata Yudho, Kamis (16/7/2026).
Ia mengungkapkan, medan di lapangan masih menjadi tantangan. Terbatasnya sumber air dan arah angin yang berubah-ubah membuat proses pemadaman berlangsung lebih sulit.
"Tantangan utama di lapangan adalah keterbatasan sumber air dan perubahan arah angin yang sulit diprediksi. Karena itu seluruh personel diminta tetap bekerja sesuai SOP dan mengutamakan keselamatan," ujarnya.
Karhutla di Kuala Dua bukan satu-satunya yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Sebelumnya, Manggala Agni juga memadamkan dua titik kebakaran di Desa Rasau Jaya Umum, Kecamatan Rasau Jaya, dengan total luas lahan terbakar sekitar 4,5 hektare.
Meningkatnya kejadian karhutla mendorong Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Kalimantan memperkuat langkah antisipasi selama musim kemarau. Sejak April 2026, berbagai upaya pencegahan telah dilakukan melalui patroli rutin, sosialisasi kepada masyarakat, hingga pembentukan Masyarakat Peduli Api (MPA).
Mulai Juli hingga September 2026, patroli terpadu juga akan digelar bersama TNI, Polri, BPBD, pemerintah daerah, dan para pemangku kepentingan lainnya untuk mempercepat deteksi dini serta menekan potensi kebakaran.
Yudho mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar dan segera melaporkan apabila menemukan titik api. Menurutnya, partisipasi masyarakat menjadi faktor penting untuk mencegah karhutla meluas di tengah musim kemarau.
